environment

environment

Gg1

Minggu, 13 Desember 2009

terapi pijat

Mendongkrak Kecerdasan Anak
Lewat Pangkal Tangan

Sabtu, 22 September 2007
Orangtua mana yang tak ingin anak-anaknya tumbuh lincah dan cerdas. Namun, bagaimana jika pada kenyataan kecerdasan anak Anda di bawah rata-rata kelas, sulit memusatkan perhatian, hiperaktif, bahkan didiagnosa menderita autis dan down syndrome. Oh rasanya dunia mau kiamat.

Jangan putus asa, karena bagaimanapun juga anak membutuhkan dukungan dan dorongan untuk tumbuh kembang. Sehingga anak tidak merasa tersisih dari lingkungan, yang nantinya dapat membuatnya tidak percaya diri dan kesulitan dalam bergaul.

Satu upaya yang bisa dicoba untuk mendongkrak kecerdasan anak -- bahkan untuk anak penderita autis dan anak down syndrome sekalipun -- adalah terapi pijat oleh KH Ir Nugroho Moempoeni MBA. Terapi pijat yang dilakukan alumnus ITS (Institut Teknologi Surabaya) itu bukan sembarang pijat, melainkan pijat khusus di pangkal tangan, khususnya antara jari manis dan jari tengah.

"Di pangkal tangan antara jari manis dan jari tengah itu merupakan pusat syaraf yang berhubungan dengan kecerdasan. Bila titik-titik syaraf di daerah itu diberi rangsangan lewat pijat, maka anak bisa lebih memusatkan perhatian dalam belajar. Karena anak bisa lebih fokus dalam menerima pelajaran, maka anak jadi lebih pintar. Kunci utama untuk menjadi pintar sebenarnya hanyalah akumulasi dari proses belajar, belajar dan belajar," kata KH Ir Noegroho Moempeoni, di depan peserta seminar tentang kecerdasan

Ia kemudian mencontohkan pijatan sederhana itu kepada pada Taga (10) siswa sekolah dasar kelas V yang telah menjadi pasiennya dalam 6 bulan terakhir. Taga tampak menikmati pijatan yang dilakukan pria kelahiran Yogyakarta , 22 November 1953 itu.

"Dulu aku sempat tidak mau datang berobat, karena saat dipijat rasanya sakit sekali. Tetapi, setelah diajari doa-doa untuk mengurangi rasa sakit itu, kalau sekarang dipijat sudah tidak sakit lagi," kata Taga yang kini prestasi belajarnya berada di tiga besar dari sebelumnya masuk dalam kelompok siswa dengan prestasi rata-rata kelas.

Dengan menggunakan kayu kecil benbentuk lonjong, Noegroho memijat memijat pada punggung telapak tangan Taga, tepatnya celah tulang pangkal jari tengah dan jari manis. Terapi itu dilakukan pada kedua tangan baik kanan maupun kiri. Selain itu Nugroho juga menepuk tangan pasien, mulai dari pergelangan tangan hingga siku bagian dalam.

Noegroho mengungkapkan, terapi sesungguhnya sebenarnya menggunakan ujung ibu jari tangannya. Namun, karena pasiennya melimpah kekuatan tangannya tak lagi optimal. Dengan penggunaan kayu itu pula , ia bisa lebih mantap menjangkau daerah yang sulit dicapai oleh tangan.

"Pangkal ruas jari kiri untuk meningkatkan daya ingat dan ruas jari kanan untuk meningkatkan daya tangkap. Sedangkan antara jari tengah dan telunjuk untuk mengendalikan emosi. Setelah dipijat persendian tangan dan kaki pasien juga ditepuk," kata Noegroho seraya mencontohkan pijatan itu pada Taga.

Lamanya pemijatan tidak lebih dari 2 menit, tetapi frekuensi pemijatan yang dilakukan pada setiap pasien berbeda-beda, tergantung dari kondisi penyakit dan apa yang diinginkan pasien. Setelah prosesi selesai, setiap hari pasien diwajibkan untuk minum madu yang kadar gulanya rendah. Takarannya juga tergantung dari kasus yang ditangani, paling sedikit dua sendok makan setiap hari.

"Pasien juga diminta untuk pantang terhadap makanan dan minuman yang mengandung bahan pengawet, biang gula, formalin dan penyedap rasa atau vetsin. Karena makanan-makanan semacam itu tidak memiliki manfaat bagi tubuh," ujar pendiri pondok pesantren Jatira, di Babakan Ciwaringin, Cirebon , Jawa Barat.

Noegroho menegaskan, terapi pijat pangkal tangan yang dilakukannya itu aman, bahkan untuk bayi sekalipun. Dari pengalamannya selama ini, pemijatan pernah dilakukan pada bayi berusia 12 hari hingga dewasa berusia 70 tahun.

"Untuk orang dewasa, terapi pijat ini bisa untuk meningkatkan daya ingat dan menjaga kestabilan emosi yang berguna agar terhindar dari stress," katanya. Media penyembuhan lainnya bagi pasien adalah anjuran untuk minum air yang telah dibacakan doa-doa. Selain air, pasien juga diberi ramuan dari tanaman obat yang berkhasiat seperti daun tapak dara, kunyit, jahe dan lain-lain tergantung penyakitnya. Noegroho mengatakan, upaya yang dilakukannya itu diambil dari kitab suci Al Quran.

"Terapi ini hanyalah suatu media. Yang penting adalah orangtua dan anak atau pasien melakukan ibadah dengan kesungguhan dan meminta penyembuhan pada Allah. Terapi ini tidak akan berhasil tanpa diikuti oleh ibadah yang khusuk," katanya.

Kendati mengambil landasan dari Al Quran, Noegroho tidak pernah membeda-bedakan keyakinan pasien. Bagi non-muslim, ia meminta untuk beribadah dan berdoa sesuai dengan agamanya. "Yang jelas, saat terapi si pasien harus membaca doa sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Bila berdoa sungguh-sungguh, maka hasilnya akan cepat ketahuan. Baru dua belas kali saja anak sudah mengalami kemajuan dalam belajar," kata kiai yang memiliki profesi lain dalam kesehariannya sebagai konsultan sumber daya manusia di se

Oleh karena itu, ia tidak menetapkan tarif atas jasa pijatnya itu. Semua yang dilakukan semata untuk tabungan amalnya di akhirat kelak. Saat ini Noegroho juga tengah menyelesaikan disertasi doktornya di sebuah perguruan tinggi negeri. Karena kesibukannya itu, ia membatasi praktek terapi pijatnya hanya pada Senin dan Jumat mulai pukul 15.00 hingga 23.00 WIB.

Mungkin bagi sebagian orang, praktek pengobatan semacam itu sulit dipercaya. Namun, kenyataannya si anak yangtadinya kurang cerdas menjadi cerdas. Yang tadinya bodoh menjadi lebih konsentrasi belajar. Dan yang awalnya hiperaktif bisa kembali normal. "Semua penyakit itu pasti ada obatnya. Dan Allah yang menyembuhkan segala penyakit," kata Noegroho menegaskan.

Percaya atau tidak, Noegroho pernah mengobati wanita hamil yang menderita toxoplasma. Bayangkan, ketika dokter memvonis janin dalam kandungan sang ibu sudah tak tertolong lagi. Solusinya, dokter memutuskan kandungan itu harus dikuret. Karena tak bersedia, ibu hamil itu mencari pengobatan alternatif, lalu bertemu dengan Noegroho.

"Hanya dengan pijatan di ruang pangkal antara jari manis dan jari tengah, lalu siku kedua tangannya ditekuk dengan cukup keras. Kemudian saya melakukan terapi lewat telapak tangan di bagian perut. Lagi-lagi saya anjurkan untuk melakukan shalat tasbih sehari dua kali. Singkat cerita, janin pun selamat berkat karunia Allah. Sang ibu pun batal dikuret," tuturnya.

Ditanyakan dari mana kemampuan pijatnya itu diperoleh, Noegroho mengatakan, semuanya itu diperoleh dari perenungan yang dalam dan ibadah yang sungguh-sungguh kepada Allah. Sejak kecil Noegroho sudah taat beribadah, termasuk puasa senin-kamis yang rasanya sulit untuk anak sesuainya. Selain rajin beribadah, ia juga senang belajar. Karena itu tak heran jika Noegroho lulus dari ITS dengan predikat cum laude. (Tri Wahyuni)

2 komentar:

radit mengatakan...

bisa minta alamat prateknya demikian dan terima kasih

Karina mengatakan...

Pak Radit,

saja juga menemukan artikel terapi pijat itu, coba bapak browsing di google lagi, siapa tahu ada.

salam.
karina
www.profit-000.blogspot.com