environment

environment

Gg1

Kamis, 11 Agustus 2011

Sekelumit Cerita dari Keluarga "Homeschooling"


Sekelumit Cerita dari Keluarga "Homeschooling"
Indra Akuntono | Inggried | Rabu, 10 Agustus 2011 | 08:39 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/10/08391186/Sekelumit.Cerita.dari.Keluarga.Homeschooling

Pilih "Homeschooling"? Harus Jelas Motifnya!
"Homeschooling", Kenapa Jadi Pilihan?
5 Hal yang Perlu Diketahui soal Homeschooling
Sekolah Rumah Masih Didiskriminasi
Ijazah "Homeschooling" Kerap Ditolak

JAKARTA, KOMPAS.com - Pilihan mendidik anak dengan sekolah rumah alias homeschooling kini menjadi pilihan. Tak sedikit keluarga yang telah menerapkannya. Salah satunya adalah keluarga Sumardiono. Kompas.com berkesempatan untuk menilik bagaimana dan apa alasan keluarga ini menyekolahkan anaknya di rumah. Ini cerita mereka...

Kehidupan keluarga Sumardiono yang akrap disapa Aar (42) dan istrinya Mira Julia alias atau Lala (33) tampak sederhana. Tetapi, yang menarik, mereka berani menentang arus ketika menerapkan metode pendidikan apa yang mereka anggap tepat untuk anak-anaknya. Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, pasangan ini begitu tekun dan konsisten menggeluti homeschooling. Metode alternatif yang mereka pilih untuk memenuhi hak pendidikan pada ketiga anaknya, Yudhistira (10), Tata (6) dan Duta (3).

Aar dan Lala bercerita, keinginan mereka untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal sudah timbul jauh sebelum ia mempunyai anak. Homeschooling adalah sebuah topik obrolan yang selalu mereka diskusikan di awal pernikahan.

Aar dan Lala mempunyai kesamaan visi dan misi. Mereka berdua sepakat tidak akan menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah formal. Alasan yang mendasari keputusan itu sangat sederhana, mereka ingin anak-anak mendapatkan metode pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan minat dan bakatnya.

Mereka juga khawatir "penyeragaman" pendidikan di sekolah akan membuat anak-anak mereka menjadi sulit berkembang. Belum lagi padatnya jadwal di sekolah sehingga membuat anak-anak semakin sulit mengeksplorasi dirinya. Meski pada saat itu mereka belum mengetahui persis apa itu homeschooling. Tetapi, memiliki keyakinan bahwa anak-anak mereka akan lebih baik jika tidak menempuh pendidikan di sekolah formal.

Kita butuh pendidikan alternatif yang berbeda dari yang ada. Karena kita menilai pendidikan anak-anak saat ini semakin seragam, satu model dan tidak ada alternatif jika karakter, potensi dan kecerdasannya berbeda," kata Aar kepada Kompas.com, Selasa (9/8/2011), di Jakarta.

Untuk mendukung rencana besarnya, sejak sepuluh tahun lalu, Aar dan Lala getol memelajari berbagai aliran mengenai homeschooling. Segala sumber yang berkaitan mereka kumpulkan, baik yang berasal dari internet hingga berbagai buku-buku bacaan. Semakin hari, mereka semakin kuat untuk menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya.

Saat memasuki rumah keluarga ini, tidak ada hal spesifik yang membuatnya berbeda dengan rumah-rumah pada umumnya. Homeschooling yang mereka terapkan sangat sederhana dan sangat mungkin dijangkau oleh semua kalangan. Aar dan Lala memegang kendali penuh dalam pengajaran kepada anak-anaknya.

Selain mempunyai banyak waktu dengan anak-anaknya, Aar dan Lala juga merasa tenang dan bangga karena anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara natural sesuai dengan minat dan bakatnya.

Anak-anak kami ajarkan untuk mandiri. Metode pendidikannya kami rujuk dari berbagai kurikulum yang telah disesuaikan. Beberapa waktu lalu anak pertama kami sempat kami tantang untuk mengerjakan soal-soal yang diujikan di sekolah formal, dan hasilnya sangat baik," kata Lala.

Meski begitu, Aar dan Lala mengaku tidak pernah memaksakan kehendaknya ketika menerapkan homeschooling kepada anak-anaknya. Homeschooling adalah sebuah keputusan cerdas yang menjadi pilihan seluruh awak dalam keluarga ini. Tidak tanggung-tanggung, pasangan suami istri ini rela untuk bekerja dan berada di rumah setiap hari demi untuk memberikan pelayanan dan perhatian khusus kepada perkembangan pendidikan anak-anaknya.

Rencananya, Aar dan Lala tetap akan terus menerapkan homeschooling kepada ketiga anaknya. Mereka merasa tidak pernah khawatir dengan masa depan anak-anak homeschooling. Karena saat ini banyak pekerjaan yang lebih mengedepankan output atau skills ketimbang selembar ijazah dari sekolah formal.

Jika kami bekerja di luar maka kami bisa mendapatkan uang yang lebih banyak untuk menyekolahkan anak-anak di sekolah favorit. Tapi saat ini, walau dengan penghasilan sedang, tapi kami bisa mempunyai waktu lebih banyak untuk menemani dan membimbing anak-anak saat berada di usia emas," kata Aar, yang sehari-hari mengisi waktu sebagai penulis blog ini.










Tidak ada komentar: