Ngompol dan kencing pada anak
Upaya atasi anak ngompol caranya pada saat anak tertidur lelap (bisa siang maupun malam) berikan sentuhan didahinya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang (di elus-elus). Ungkapkan kata-kata sayang dan pujian : SayangàPapa sayang kamu, mama sayang kamu. Kamu anak yang baik hati,pintar dan hebat. Mulai sekarang kalau mau pipis dikamar mandi ya. Pipis dikamar mandi. Kamu anak baik pintar dan hebatàà.dst diulang-ulang kalimat yang saya contohkan itu. Nah dalam kondisi sadar,anda juga harus selalu mengungkap
Ngompol atau sering juga disebut dengan nokturnal enuresis ialah pengeluaran urine (air seni) yang tidak disadari pada saat tidur. Terkadang definisi ngompol juga digunakan untuk menyebut anak yang gagal mengontrol pengeluaran urine saat mereka terjaga.
Ngompol dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu ngompol primer (disebabkan karena susunan saraf yang belum sempurna) dan ngompol sekunder (adanya penyakit, seperti infeksi saluran kencing, kencing manis, konstipasi kronis, dan bisa juga gangguan saraf tulang belakang.
Untuk mengetahui kemungkinan ngompol sekunder, maka sebaiknya Bapak mengkonsultasikan dengan dokter.
Adapun jika tidak terbukti ngompol sekunder (tidak ada penyakit), maka dapat dikategorikan sebagai ngompol primer, dan mudah – mudahan dapat diatasi dengan cara berikut :
1. Memotivasi anak agar tidak mengompol, dengan memberikan reward.
2. Rutinkan mengelus ubun – ubun dengan lembut dan penuh kasih sayang saat anak akan tertidur ataupun tidur sambil mengucapkan kata pujian : “ Sayang… pintar… nanti kalau mau pipis bangun ya… pipisnya dikamar mandi…kakak anak hebat, pasti bisa… “ iya mah… aku nanti kalau pipis di kamar mandi…karena akau hebat “ … Iya… karena tempat pipis itu dikamar mandi… dst.
3. Membiasakan sebelum anak untuk buang air kecil sebelum tidur.
4. Meminum madu 2 sendok teh sebelum anak tidur.
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/anak-masih-ngompol.htm
mengatasi ngompol : 2/ 3 jam setelah anak tidur, coba anak dibangunkan untuk pipis lagi
Akupunktur mengatasi ngompol primer pada anak mencapai angka keberhasilan hampir 100 %
pijat anak utk kencing terus, ngompol , dll - Anak dalam posisi telungkup, pakai minyak telon, pijit 2-3 cm dari dekat belahan pantat kanan kiri, arahnya ke pinggang. Di situ banyak titik2 syaraf menuju ke bagian perut depan, kandung kemih, usus besar, halus. dll.
Saya ingin sedikit berbagi pengalaman mengatasi anak suka ngompol, anak pertama saya (3 th) dulu sering sekali mengompol, hampir tiap malam, bahkan tidur siangpun kadang dia ngompol. Hingga suatu ketika saya bca sebuah artikel tentang Hipnoparenting dimajalah. Saya coba praktekkan metode hipnoparenting, tiap hari menjelang dia tidur saya bisikkan kalimat "Kakak sudah besar tidak ngompol lagi". Dan ternyata metode ini cukup efektif ,lama-lama mulai berkurang ngompolnya dan sekarang dia sudah tidak ngompol l
Perlu dilakukan pijat refleksi. Jika belum tertolong, maka lakukanlah akupuntur. Saya punya pengalaman positif dengan pengobatan akupunktur.
6. Obat yang perlu diminum adalah:
- 1 sendok teh jintan putih.
- 1 sendok teh bubuk cengkeh.
- 1 sendok teh bubuk lada hitam.
- 250 cc madu.
Cara membuatnya:
Ketiga bubuk dicampur, diaduk rata, kemudian tambahkan 250 cc madu, kemudian diaduk sampai rata. Diminum 2x sehari @ 1 sendok teh, pagi dan sore.
Rabu, 14 Juli 2010
Kamis, 08 Juli 2010
Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit

Vertikultur, Solusi Bertani di Lahan Sempit
Dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) bukan halangan petani untuk bercocok tanam.
Rabu, 7 Juli 2010, 14:19 WIB
Amril Amarullah
IR HM. SUHADI dengan tanaman bawang merah yang ditanam berjenjang (Ikhsan Mahmudi | Surabaya Post)
http://jatim.vivanews.com/news/read/162902-vertikultur--solusi-bertani-di-lahan-sempit
SURABAYA POST - Sempitnya lahan pertanian sering menjadi alasan petani enggan bercocok tanam. Padahal dengan cara bertanam berjenjang (verticulture) seperti yang dilakukan Suhadi, pengusaha agrobinis dan petani di Kota Pasuruan, lahan terbatas bukan halangan bertani.
“Terus terang saya bukan penemu cara bercocok tanam model vertikultur. Saya hanya ingin memperkenalkan vertikultur dan mengajak masyarakat di kota untuk gemar bercocok tanam walaupun di lahan sempit di halaman rumah,” ujar Suhadi ditemui di Tegalbero Camp miliknya di Tegalbero, Kel. Wirogunan, Kota Pasuruan.
Tegalbero Camp merupakan model pertanian terpadu yang mewadahi perkebunan, pertanian, perikanan, dan peternakan (buntaninak). Melalui Lembaga Pengembangan Kewirausahaan (LPK), Suhadi menggarap lahan Tegalbero Camp seluas sekitar 2,5 hektare, yang terletak sekitar 1 km di pinggiran Kota Pasuruan.
“Saya ingin Tegalbero Camp ini menjadi model pertanian terpadu yang bisa diikuti warga kota termasuk bagaimana cara bertanam di lahan sempit dengan vertikultur,” ujar alumnus jurusan agronomi, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.
Suhadi mengakui, sejumlah petani bergidik menyaksikan model pertanian vertikultur. “Dikira biayanya mahal, padahal sebenarnya murah karena media tanam bisa dipakai berkali-kali panen,” ujarnya.
Suhadi bersama sejumlah petani mencoba bertanam ala vertikultur di bawah naungan rumah kaca (green house) sederhana. Green house berukuran 10 x 10 meter persegi itu ditutup dengan kelambu plastik warna hitam.
Di dalamnya terdapat 300 tonggak dari batang paralon setinggi masing-masing 2 meter. “Satu lonjor paralon PVC ukuran talang rumah panjangnya 4 meter dipotong jadi dua bagian,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.
Sebatang tonggak (paralon) itu kemudian dilubangi menjadi 120 lubang dengan ukuran diameter 10 cm. Dari sini mulai diketahui biaya awal yakni, sebatan paralon (4 meter) sekitar Rp 35 ribu. “Yang jelas harga satu tonggak plus biaya melubanginya sekitar Rp 20 ribu,” ujarnya.
Setelah itu patok-patok itu diisi dengan media tanam berupa campuran abu batu, arang batok kelapa, dan pupuk kandang. Di bagian tengah tonggak diisi paralon kecil seukuran 0,5 dim yang bersambung ke selang plastik seukuran selang infus.
“Air bercampur nutrisi atau pupuk kemudian dialirkan dalam tonggak melalui selang plastik yang biasa digunakan untuk akuarium itu,” ujarnya.
Prinsipnya, pengairan harus rutin dan merata menuju pangkal tanaman.
Menurut Suhadi, kondisi tanah harus berporos, tidak boleh padat mengeras.
Sejumlah jenis tanaman seperti bawang merah, tomat, lombok, hingga sawi bisa ditanam di lubang-lubang pada tonggak paralon. Sudah beberapa kali ia menanam tomat, lombok, dan bawang merah. “Saya bisa memanen bawang merah seberat 4 kilogram dalam satu tonggak,” ujarnya.
Dengan harga bawang merah sekitar Rp 15 ribu/kg, berarti satu tonggak menghasilkan Rp 60 ribu/tonggak. “Dengan biaya paralon Rp 20 ribu per tonggak ditambah biaya pupuk dan perawatan, pendapatan Rp 60 ribu per tonggak masih untung lumayan. Padahal saya menanam 300 tonggak,” ujarnya.
Suhadi mengakui, umbi bawang merah yang ditanam di paralon tidak sebesar kalau ditanam di tanah. Tetapi umbi bawang merah ala vertikultur itu lebih keras, bahkan saat kering pun tidak susut.
Sejumlah warga mulai tertarik mengikuti jejak Suhadi bertanam ala vertikultur. “ Ada prajurit Yon Zipur yang datang ke sini kemudian mencoba bertanam, demikian juga sejumlah warga,” ujarnya.
Memang ada sebagian warga yang datang langsung bergidik begitu mengetahui peralatan dan media tanam vertikultur. “Pipa paralon kan murah, bisa dipakai menanam berkali-kali. Untuk pengairan bisa menggunakan botol plastik air minum yang diletakkan di ketinggian, tanaman diperlakukan seperti pasien yang diinfus,” ujar Suhadi.
Suhadi pun mengaku banyak mempelajari vertikultur melalui internet, buku, dan majalah. “Di Jepang karena kesulitan lahan, vertikultur di atap gedung. Paralon pun bisa diganti kaleng cat tembok yang disusun ke atas,” ujarnya.
Bahkan ada warga yang nekat mengganti paralon dengan besek (plastik) untuk wadah berkat kenduri. “Ada juga pabrik rokok yang menggantikan paralon dengan plastik tipis, tentu saja gampang robek,” ujarnya.
Bertanam ala vertikultur pun memikat banyak pihak, paling tidak untuk mencoba. “Ada dinas yang meminjam tonggak paralon untuk pameran, ada Pramuka yang pinjam untuk lomba lalu jadi juara di tingkat propinsi,” ujar Suhadi. Anda berminat?
Laporan: Iksan Mahmudi | Surabaya Post
Selasa, 06 Juli 2010
Geger Anak Sapi Berkepala Dua di Bondowoso

Geger Anak Sapi Berkepala Dua di Bondowoso
Irawulan - detikSurabaya
Illustrasi/File: detiksurabaya.com
Bondowoso - Ketenangan Warga Desa Gayam Jumas, Kecamatan Botolinggo, Bondowoso sedikit terganggu. Pasalnya sapi milik salah satu warga lahir tak lazim. Anak sapi itu lahir dengan kepala dua yang berdempet. Kepala dempet itu hanya mempunyai satu badan dan empat kaki depan dan belakang.
Sapi itu milik Zainal Anshori warga setempat. Menurut Zainal ini kali pertama dirinya mempunyai anak sapi berkepala dua. Sebelumnya kata Zainal, induk sapi yang dipeliharanya sejak 3 tahun lalu tidak pernah melahirkan anak sapi yang aneh.
Semuanya biasa saja. Anak sapi sebelumnya lahirkan normal," tuturnya saat berbincang dengan detiksurabaya.com, Rabu (7/7/2010).
Anak sapi itu lahir pada pukul 17.00 WIB, Selasa (6/7/2010). Namun sayangnya anak sapi itu hanya bisa bertahan lima jam. Saat ini anak sapi kepala dua itu sudah dikubur oleh Zainal. "Sudah saya kubur. Kasihan," ungkapnya.
(WLN/WLN)
Rabu, 30 Juni 2010
Umur 50 Tahun Tidak Punya Tabungan?
Umur 50 Tahun Tidak Punya Tabungan?
WEDNESDAY, 30 JUNE 2010
Total View : 210 times
Anda berumur 50 tahun dan tidak memiliki tabungan sedikitpun? Hal ini adalah mimpi buruk bagi mereka yang sudah mendekati masa pensiun. Tapi jika Anda mengalami hal ini, bukan berarti Anda tidak miliki harapan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, mulailah dengan membuat tindakan yang tepat.
Temukan masalahnya dan perbaiki
Hal pertama adalah temukan apa yang membuat Anda dalam keadaan bankrupt dalam usia 50 an tahun, dan bagaimana mengatasinya. Hal ini bisa dikarenakan masalah kesehatan yang menguras semua tabungan Anda, atau juga karena gagal dalam sebuah investasi.
Selain itu, masalah keuangan Anda bisa disebabkan karena terlalu murah hati, atau karena kurang menabung. Beberapa orang lebih memilih membeli mobil baru, barang elektronik terbaru atau liburan yang menyenangkan dari pada menabung.
Jalan keluarnya adalah mengendalikan pengeluaran Anda, dan fokus untuk menabung. Kalau Anda gagal dalam sebuah investasi, hal ini menunjukkan bahwa Anda terlalu berani mengambil resiko dan tidak cukup melakukan diversifikasi.
Ubah rencana Anda
Jika Anda dalam keadaan tidak memiliki uang dalam usia 50 tahun, maka sudah waktunya untuk mengubah rencana Anda. Bagi kebanyakan orang, usia 50 tahun adalah titik puncak pemasukan Anda. Lupakan tentang transisi untuk mulai bekerja part-time atau mengambil pensiun dini, dan mulai fokus untuk mencari sumber penghasilan serta menabung.
Anda harus memikirkan secara serius pekerjaan yang bisa Anda tangani dalam usia mendekati 50an tahun. Untuk di Indonesia, usia tersebut sudah cukup sulit mencari pekerjaan. Untuk itu, sebagai alternative membangun usaha adalah ide paling memungkinkan.
Jika anda ingin menabung dengan cepat, maka Anda harus mempertimbangkan untuk memiliki penghasilan tambahan selain pekerjaan utama Anda. Jika Anda memiliki keahlian khusus maka mungkin hal ini bukanlah sesuatu yang sulit. Anda bisa menjadi seorang konsultan dengan pendapatan per jam.
Mengejar ketinggalan
Cara pertama untuk mengejar ketinggalan dalam jumlah tabungan Anda adalah dengan mengencangkan ikat pinggang Anda dan mengatur anggaran Anda seketat mungkin. Caranya tentu tidak dengan menyiksa diri seperti makan indomie tiap hari, namun Anda bisa memangkas pengeluaran yang tidak perlu seperti mengurangi makan di luar, tidak ke bioskop dulu, dan hal-hal lainnya.
Langkah selanjutnya adalah dengan mengambil tabungan hari tua. Jika perusahaan Anda tidak menyediakan tabungan hari tua, maka Anda harus memiliki tabungan yang dipotong langsung dari gaji Anda untuk hari tua Anda. Saat ini banyak bank yang menawarkan jenis tabungan ini, yang jangka waktunya bisa Anda tentukan sesuai dengan kebutuhan.
Jangan kuatir, tapi juga jangan menunda.
Jika Anda melihat bahwa target tabungan hari tua Anda baru bisa dicapai dalam 15 atau 20 tahun lagi, jangan putus asa. Percayalah bahwa Tuhan yang akan menjamin hidup Anda. Sebab firman Tuhan berjanji, ôSampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.ö (Yesaya 46:4). Namun Anda juga jangan menunda-nunda untuk menabung bagi masa tua Anda, karena penundaan adalah musuh utama
Source : Forbes
WEDNESDAY, 30 JUNE 2010
Total View : 210 times
Anda berumur 50 tahun dan tidak memiliki tabungan sedikitpun? Hal ini adalah mimpi buruk bagi mereka yang sudah mendekati masa pensiun. Tapi jika Anda mengalami hal ini, bukan berarti Anda tidak miliki harapan. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, mulailah dengan membuat tindakan yang tepat.
Temukan masalahnya dan perbaiki
Hal pertama adalah temukan apa yang membuat Anda dalam keadaan bankrupt dalam usia 50 an tahun, dan bagaimana mengatasinya. Hal ini bisa dikarenakan masalah kesehatan yang menguras semua tabungan Anda, atau juga karena gagal dalam sebuah investasi.
Selain itu, masalah keuangan Anda bisa disebabkan karena terlalu murah hati, atau karena kurang menabung. Beberapa orang lebih memilih membeli mobil baru, barang elektronik terbaru atau liburan yang menyenangkan dari pada menabung.
Jalan keluarnya adalah mengendalikan pengeluaran Anda, dan fokus untuk menabung. Kalau Anda gagal dalam sebuah investasi, hal ini menunjukkan bahwa Anda terlalu berani mengambil resiko dan tidak cukup melakukan diversifikasi.
Ubah rencana Anda
Jika Anda dalam keadaan tidak memiliki uang dalam usia 50 tahun, maka sudah waktunya untuk mengubah rencana Anda. Bagi kebanyakan orang, usia 50 tahun adalah titik puncak pemasukan Anda. Lupakan tentang transisi untuk mulai bekerja part-time atau mengambil pensiun dini, dan mulai fokus untuk mencari sumber penghasilan serta menabung.
Anda harus memikirkan secara serius pekerjaan yang bisa Anda tangani dalam usia mendekati 50an tahun. Untuk di Indonesia, usia tersebut sudah cukup sulit mencari pekerjaan. Untuk itu, sebagai alternative membangun usaha adalah ide paling memungkinkan.
Jika anda ingin menabung dengan cepat, maka Anda harus mempertimbangkan untuk memiliki penghasilan tambahan selain pekerjaan utama Anda. Jika Anda memiliki keahlian khusus maka mungkin hal ini bukanlah sesuatu yang sulit. Anda bisa menjadi seorang konsultan dengan pendapatan per jam.
Mengejar ketinggalan
Cara pertama untuk mengejar ketinggalan dalam jumlah tabungan Anda adalah dengan mengencangkan ikat pinggang Anda dan mengatur anggaran Anda seketat mungkin. Caranya tentu tidak dengan menyiksa diri seperti makan indomie tiap hari, namun Anda bisa memangkas pengeluaran yang tidak perlu seperti mengurangi makan di luar, tidak ke bioskop dulu, dan hal-hal lainnya.
Langkah selanjutnya adalah dengan mengambil tabungan hari tua. Jika perusahaan Anda tidak menyediakan tabungan hari tua, maka Anda harus memiliki tabungan yang dipotong langsung dari gaji Anda untuk hari tua Anda. Saat ini banyak bank yang menawarkan jenis tabungan ini, yang jangka waktunya bisa Anda tentukan sesuai dengan kebutuhan.
Jangan kuatir, tapi juga jangan menunda.
Jika Anda melihat bahwa target tabungan hari tua Anda baru bisa dicapai dalam 15 atau 20 tahun lagi, jangan putus asa. Percayalah bahwa Tuhan yang akan menjamin hidup Anda. Sebab firman Tuhan berjanji, ôSampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.ö (Yesaya 46:4). Namun Anda juga jangan menunda-nunda untuk menabung bagi masa tua Anda, karena penundaan adalah musuh utama
Source : Forbes
Minggu, 27 Juni 2010
Interview with Peter Shankman
Interview with Peter Shankman
Entrepreneur with ADHD
By Keath Low, About.com Guide
Updated June 15, 2010
An entrepreneur, author, speaker, and worldwide connector, Shankman is recognized internationally for radically new ways of thinking about Social Media, PR, marketing, advertising, creativity, and customer service.
Photo © Peter Shankman
Sponsored Links
Are You An Entrepreneur?Use the Power of Email Marketing to Boost Your Business into Overdrive!iContact.com/Free_Trial
Stop Tantrums in 3 StepsHow I stopped the defiance, lying, backtalk and outbursts in 3 stepswww.ParentLearningClub.com
ADD/ADHD Secret RevealedLearn Why Most Successful Inventors Entrepreneurs & Artists Have AD/HDAdult-ADD-ADHD.DaVinciMethod.com
ADD Ads
ADHD Treatments for ADHD ADHD Online Test Sign of ADHD Add ADHD Symptom
Sponsored Links
Autism Recovery StoryAwakening Ashley with Tomatis Retrain Ears/Brain To Listen Betterwww.AwakeningAshley.com
ADHD AssociationFree support for people with ADHD and their familieselisabethornano-adhd.org
Peter Shankman is the first to admit that it could not have been easy raising him. Despite (or perhaps within) his over-the-top hyperactivity and impulsivity, his parents recognized the strengths in him. ôI remember growing up my mom would say, æYou walk to the beat of a different drummer. You are a different person than everyone else and that is your strength.Æ I never thought of it as a strength. I was always the one being made fun of by other kids,ö recalls Shankman. ôIt turns out it very much was my st
Today Shankman is recognized internationally for radically new ways of thinking about Social Media, PR, marketing, advertising, creativity, and customer service. He is the founder and CEO of The Geek Factory, Inc., a Marketing and PR firm located in New York City with clients worldwide. His list of clients have included the Snapple Beverage Group, NASA, the US Department of Defense, Walt Disney World, Abercrombie and Kent, the Ad Council, American Express, Discovery Networks, New Frontier Media, and Napste
Shankman is perhaps best known for founding Help A Reporter Out (HARO), a vital (and free) social networking resource for sources, reporters and advertisers who use the service. I first learned of Shankman though HARO whose services I have used many times myself. It wasn’t until more recently that l learned of his ADHD. Shankman graciously agreed to share more about what life has been like for him with ADHD.
Growing Up Feeling Different
“When I was growing up there wasn’t as much known about ADHD. I was hyper and every report card said I was hyper – ‘needs to calm down in class, needs to sit quietly, needs to learn self control,’” remembers Shankman who was diagnosed with ADHD as an adult. “It was tough growing up knowing that I was different, knowing that I was not the same. But what I love about it (ADHD) is what I created of myself. It is all from that.”
When asked what lead to him finally being officially diagnosed with ADHD, Shankman says, “I just always knew I was different. As I started reading more about ADHD, I said ‘hmm, I bet you I have this!’ I read a book by a guy named (Edward) Hallowell. The book was called Delivered from Distraction. Inside the book there is a screening test you take and I think a score of 35% or more you might have ADHD. I got something like 94%!”
“I knew I had ADHD,” adds Shankman. “It wasn’t that I needed to get diagnosed. You know you break your leg and you see a bone sticking out of your leg, you don’t say maybe I should get diagnosed for a broken leg. I knew I had it. I was seeing a psychologist at the time. He said, ‘Look, you know you always talk about having ADHD why don’t you go get some proof?’ So for no other reason than to satisfy my curiosity, I did.”
Exercise, Exercise, Exercise
Shankman, an intense athlete, regularly competes in marathons and triathlons. He is currently in training for his first full Iron Man competition – a 2.4 mile swim, 112 mile bike and 26.2 mile run. In addition, he is an experienced skydiver with 206 jumps under his belt.
Shankman manages the more difficult symptoms of ADHD through these activities. “Anything in my world that naturally raises my endorphins and raises my dopamine levels makes me better and that is how I handle it,” says Shankman. “I was actually supposed to go for a run this morning and something happened with the HARO so I had to postpone the run until this afternoon and I am already jittery. My body had planned on going on that run.”
Know Thyself
Shankman is also very self-aware of what works for him. “I know what distracts me. If I need to write or if I need to work or whatever, I’ll be on a plane. I’ll just start writing,” explains Shankman, a frequent flyer. “On a plane there is nothing that can interrupt me and that is the greatest thing for me.”
Relationships can be more difficult admits Shankman. “The concept of relationships has always been tough for me because it is very hard to find someone who understands how off the wall I am. It is not easy. That being said I have learned to slow down. That is the best way I could possibly say it – slowing down.”
“When I’m talking to someone I’m dating I’ve learned not to come in the door a million miles an hour. I’ll actually stand outside the door before I come inside and just take a couple of deep breaths and that helps to go in a little calmer,” explains Shankman. “It also really helps if you find someone who likes your sort of craziness, who appreciates it, who is in awe of it almost.”
He is also a strong advocate of seeking help when it is needed. “I’m not just saying this because I am a neurotic, Jewish, New Yorker. I think everyone should at some point, if they haven’t already, there is nothing wrong with having a therapist,” says Shankman. “I have a psychologist who I love talking to and it is just really helpful.”
Shankman also encourages people to value themselves and embrace their differences. He ends the interview with the message his mother taught him long ago - “Different is good, I swear.”
Source:
Peter Shankman. Phone Interview/Email Correspondence. May 27 and June 14, 2010.
Entrepreneur with ADHD
By Keath Low, About.com Guide
Updated June 15, 2010
An entrepreneur, author, speaker, and worldwide connector, Shankman is recognized internationally for radically new ways of thinking about Social Media, PR, marketing, advertising, creativity, and customer service.
Photo © Peter Shankman
Sponsored Links
Are You An Entrepreneur?Use the Power of Email Marketing to Boost Your Business into Overdrive!iContact.com/Free_Trial
Stop Tantrums in 3 StepsHow I stopped the defiance, lying, backtalk and outbursts in 3 stepswww.ParentLearningClub.com
ADD/ADHD Secret RevealedLearn Why Most Successful Inventors Entrepreneurs & Artists Have AD/HDAdult-ADD-ADHD.DaVinciMethod.com
ADD Ads
ADHD Treatments for ADHD ADHD Online Test Sign of ADHD Add ADHD Symptom
Sponsored Links
Autism Recovery StoryAwakening Ashley with Tomatis Retrain Ears/Brain To Listen Betterwww.AwakeningAshley.com
ADHD AssociationFree support for people with ADHD and their familieselisabethornano-adhd.org
Peter Shankman is the first to admit that it could not have been easy raising him. Despite (or perhaps within) his over-the-top hyperactivity and impulsivity, his parents recognized the strengths in him. ôI remember growing up my mom would say, æYou walk to the beat of a different drummer. You are a different person than everyone else and that is your strength.Æ I never thought of it as a strength. I was always the one being made fun of by other kids,ö recalls Shankman. ôIt turns out it very much was my st
Today Shankman is recognized internationally for radically new ways of thinking about Social Media, PR, marketing, advertising, creativity, and customer service. He is the founder and CEO of The Geek Factory, Inc., a Marketing and PR firm located in New York City with clients worldwide. His list of clients have included the Snapple Beverage Group, NASA, the US Department of Defense, Walt Disney World, Abercrombie and Kent, the Ad Council, American Express, Discovery Networks, New Frontier Media, and Napste
Shankman is perhaps best known for founding Help A Reporter Out (HARO), a vital (and free) social networking resource for sources, reporters and advertisers who use the service. I first learned of Shankman though HARO whose services I have used many times myself. It wasn’t until more recently that l learned of his ADHD. Shankman graciously agreed to share more about what life has been like for him with ADHD.
Growing Up Feeling Different
“When I was growing up there wasn’t as much known about ADHD. I was hyper and every report card said I was hyper – ‘needs to calm down in class, needs to sit quietly, needs to learn self control,’” remembers Shankman who was diagnosed with ADHD as an adult. “It was tough growing up knowing that I was different, knowing that I was not the same. But what I love about it (ADHD) is what I created of myself. It is all from that.”
When asked what lead to him finally being officially diagnosed with ADHD, Shankman says, “I just always knew I was different. As I started reading more about ADHD, I said ‘hmm, I bet you I have this!’ I read a book by a guy named (Edward) Hallowell. The book was called Delivered from Distraction. Inside the book there is a screening test you take and I think a score of 35% or more you might have ADHD. I got something like 94%!”
“I knew I had ADHD,” adds Shankman. “It wasn’t that I needed to get diagnosed. You know you break your leg and you see a bone sticking out of your leg, you don’t say maybe I should get diagnosed for a broken leg. I knew I had it. I was seeing a psychologist at the time. He said, ‘Look, you know you always talk about having ADHD why don’t you go get some proof?’ So for no other reason than to satisfy my curiosity, I did.”
Exercise, Exercise, Exercise
Shankman, an intense athlete, regularly competes in marathons and triathlons. He is currently in training for his first full Iron Man competition – a 2.4 mile swim, 112 mile bike and 26.2 mile run. In addition, he is an experienced skydiver with 206 jumps under his belt.
Shankman manages the more difficult symptoms of ADHD through these activities. “Anything in my world that naturally raises my endorphins and raises my dopamine levels makes me better and that is how I handle it,” says Shankman. “I was actually supposed to go for a run this morning and something happened with the HARO so I had to postpone the run until this afternoon and I am already jittery. My body had planned on going on that run.”
Know Thyself
Shankman is also very self-aware of what works for him. “I know what distracts me. If I need to write or if I need to work or whatever, I’ll be on a plane. I’ll just start writing,” explains Shankman, a frequent flyer. “On a plane there is nothing that can interrupt me and that is the greatest thing for me.”
Relationships can be more difficult admits Shankman. “The concept of relationships has always been tough for me because it is very hard to find someone who understands how off the wall I am. It is not easy. That being said I have learned to slow down. That is the best way I could possibly say it – slowing down.”
“When I’m talking to someone I’m dating I’ve learned not to come in the door a million miles an hour. I’ll actually stand outside the door before I come inside and just take a couple of deep breaths and that helps to go in a little calmer,” explains Shankman. “It also really helps if you find someone who likes your sort of craziness, who appreciates it, who is in awe of it almost.”
He is also a strong advocate of seeking help when it is needed. “I’m not just saying this because I am a neurotic, Jewish, New Yorker. I think everyone should at some point, if they haven’t already, there is nothing wrong with having a therapist,” says Shankman. “I have a psychologist who I love talking to and it is just really helpful.”
Shankman also encourages people to value themselves and embrace their differences. He ends the interview with the message his mother taught him long ago - “Different is good, I swear.”
Source:
Peter Shankman. Phone Interview/Email Correspondence. May 27 and June 14, 2010.
Rabu, 23 Juni 2010
Penyandang Autisme Bisa "Sembuh"
Penyandang Autisme Bisa "Sembuh"
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Penyandang-Autisme-Bisa-Sembuh
Senin, 14 Juni 2010
Hati-hati bila si kecil belum juga bisa bicara. Apalagi ia kerap terlihat asyik sendiri dan tak peduli lingkungannya. Mungkin ia mengalami autisme.
Umumnya, bila sampai usia 2 tahun si kecil belum juga bisa bicara, barulah orang tua mulai cemas dan minta bantuan profesional semisal dokter atau psikolog. Celakanya, yang sering terjadi, si profesional malah "menghibur", "Ah, nggak apa-apa, kok, Bu, Pak. Biasanya bicara memang lebih lambat dari berjalan," atau, "Banyak klien saya yang anaknya dulu lambat bicara tapi sekarang malah cerewet."
Padahal, seperti dikatakan DR. Rudy Sutadi, DSA, ucapan yang "menghibur" itu sama sekali tak ada landasan ilmiahnya. "Justru kita harus waspada kalau anak belum juga bisa bicara," ujar Wakil Ketua Yayasan Austisma Indonesia ini. "Karena salah satu hal yang paling sering terjadi pada anak penyandang autisme ialah tak bicara," terangnya.
Memang, diakui Rudy, bukan berarti kita harus selalu curiga si anak menyandang autisme bila dalam masa perkembangannya belum juga bisa bicara. "Karena bisa saja si anak tuli atau bahkan bisu tuli," ujarnya. Kalau begitu, apa saja gejala atau tanda-tanda autisme?
SERING INKONSISTEN
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition (DSM IV) dari asosiasi psikiater Amerika dan International Classification of Disease (ICD 10) dari WHO, penyandang austime memiliki kriteria. Antara lain, ada gangguan bicara, tak ada kontak mata, tak ada peer relationship, tak bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, suka menstimulasi diri seperti handflapping, berjalan jinjit, dan sebagainya. Nah, bila terdapat beberapa tanda/gejala yang termasuk kriteria tersebut, maka bisa
Misalnya, pada anak usia mulai bisa bicara sekitar 1-2 tahun, kemampuannya hanya mengoceh dalam bahasa "planet" atau membeo (echolali). Misalnya, saat ditanya, "Siapa namamu?" ia akan mengulangi pertanyaan tersebut dan itu dilakukannya berulang-ulang. Lagu pun diulangnya terus-menerus. Jika ditanya lagu apa yang dinyanyikan, ia diam dan acuh saja. "Beda dengan anak normal, yang kalau ditanya, akan menjawab."
Ada juga anak yang sudah mulai bisa bicara beberapa kata, tapi tiba-tiba, misalnya di usia 18 bulan atau 2 tahun berhenti bicara secara mendadak. "Secara teoritis ini terjadi karena berhentinya perkembangan otak. Tadinya anak mulai mampu tapi tiba-tiba kemampuannya hilang, karena memang ada gangguan di otak. Hal ini sering terjadi," jelas Rudy.
Tanda/gejala lainnya ialah tak ada tatapan atau kontak mata. Si anak pun suka menyendiri dan main sendiri, acuh pada sekeliling, tak takut ataupun menangis. Ditinggal orang tua, dia juga diam saja. Saat bermain, misalnya, dia menderetkan mainan lalu merusaknya kembali dan itu dilakukan berulang-ulang tanpa henti. Ada yang senang mengepakkan tangannya bak burung (handflapping), memutar badannya atau benda semisal koin, piring dan benda lainnya secara terus-menerus. Ia senang memainkan roda mobil-mobilan, me
Ada juga tanda gangguan emosi seperti ekses kelebihan dan defisit. Misalnya, respon atas stimulusnya berlebihan, padahal mungkin bagi anak normal, hal itu biasa-biasa saja. Contohnya, ketika melihat semut beriring ia akan memperhatikannya sekian lama, terus-menerus tanpa henti. Sementara untuk anak dengan defisit emosi, contohnya jika digelitik seperti apa pun, ia tetap saja bengong.
Yang lain menunjukkan rasa sensitif terhadap sentuhan. Misalnya, baru diraba kulitnya, sudah serasa diamplas. Atau justru sebaliknya, hiposensitif, sama sekali tak merasakan sentuhan. Misalnya, kalau menggaruk harus sampai keluar darah barulah ia puas dan berhenti.
Yang jelas, "Tanda dan gejala autisme ini sering inkonsisten atau tak terlihat setiap saat atau setiap waktu," ujar Direktur Program KID-Autis (Klinik Intervensi Autisme) JMC ini. Misalnya, bila dipanggil keras namanya, si anak tak bereaksi. Namun begitu mendengar lagu iklan di TV dia akan bereaksi. "Karena inkonsisten inilah, orang tua jadi tak segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tak wajar dalam diri anaknya."
FAKTOR GENETIK
Autisme, terang Rudy, merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan. Hal ini menyebabkan gangguan pada bahasa, kognitif, sosial, dan fungsi adaptif. Akibatnya, anak autisme semakin lama semakin jauh tertinggal dibanding anak seusianya ketika umurnya semakin bertambah.
Karena merupakan gangguan proses perkembangan, maka tanda/gejala timbulnya bukan hanya pada satu titik umur tertentu tapi bertahap sesuai perkembangan anak. Juga tak bisa dideteksi saat lahir, melainkan harus dilihat sesuai dengan perkembangan anak. Misalnya, masalah gangguan bicara. Pada bayi baru lahir jelas belum bisa bicara, namun bisa diketahui pasti gejalanya sebelum usia 3 tahun.
Merujuk pada riset terakhir, seperti dipaparkan Rudy, diketahui bahwa autisme terjadi karena ada gangguan neurobiologis. "Ini timbul akibat kelainan perkembangan sel-sel otak selama ia berada di dalam kandungan." Gangguan tersebut dapat disebabkan infeksi virus (rubella, herpes, CMV), infeksi toksoplasma, infeksi jamur, perdarahan, ataupun keracunan. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat jadi kurang sempurna. Lokasi pada otak yang sering dijumpai adanya kelainan adalah otak kecil, yang ber
Jadi, tandas Rudy, gangguan perkembangan otak ini sebetulnya sudah dimulai sejak di dalam kandungan. Penyebabnya bisa multifaktor. Yang jelas, lanjut Rudy, "Para ahli sudah sepakat, autisme karena faktor genetik, bakat, atau keturunan, yang dipengaruhi pula faktor lain seperti bahan kimia, yaitu pengawet makanan, penyedap rasa, dan lain-lain."
INTERVENSI DINI
Kendati demikian, austime tetap dapat di"sembuh"kan. Namun "sembuh" yang dimaksud ialah bila si anak bisa masuk ke dalam mainstreaming. "Artinya, mereka bisa masuk sekolah biasa, bisa mengikutinya, bisa berkembang, dan bisa hidup di masyarakat. Tak berbeda dengan anak lain dan tak tampak gejala sisa. Anak pun tak bisa dibedakan baik secara tes akademik maupun sosialnya," terang Rudy.
Dari hasil penelitian diketahui, "kesembuhan" tersebut dapat diperoleh melalui intervensi dini intensif berdasarkan prinsip ABA yaitu Applied Behavior Analysis atau yang dikenal sebagai metode Lovaas. Rudy menyebutnya sebagai Tatalaksana Perilaku. "Metode ini dilakukan secara intensif, minimal 40 jam seminggu atau during all waking hour, sepanjang waktu terjaganya anak. Jadi, kalau terjaganya si anak 50 jam, ya, selama itu."
Kelebihan dari metode ini ialah sistematis, terstruktur, dan terukur. Jadi, program ini memiliki kurikulum disertai petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau diajarkan, dapat dinilai berhasil-tidaknya, juga bisa diulangi oleh siapa pun dan kapan pun.
Cara pelatihannya adalah dengan konsep tiru. Dimulai dengan perseptif, lalu daya tangkap anak atau kognitif, baru kemudian yang ekspresif. Misalnya, meniru gerakan mengangkat tangan. Setelah menguasai konsep tiru minimal 5 gerakan, lalu si anak mulai meniru suara, selanjutnya suku kata dan kata. "Konsep tiru ini bermanfaat untuk jangka pendeknya, yaitu melatih bahasa."
Jika anak sudah bisa meniru suku kata, berarti sudah merupakan kemajuan yang amat besar. Sebab, kata tersusun dari suku kata dan anak autisme tak bisa dipaksa bilang, misalnya, "mata", bila ia belum menguasai suku kata.
TAK PERNAH TERLAMBAT
Namun, seberapa jauh keberhasilan tatalaksana berdasarkan metode ini, menurut Rudy, belumlah dapat diramalkan. "Ada anak yang bisa 'sembuh' lebih cepat dari 2 tahun, lebih lambat, dan ada yang dalam waktu tertentu 2 atau 3 tahun. Bahkan ada juga yang masih perlu support sepanjang hidupnya."
Yang perlu diingat, cepat-lambatnya "kesembuhan" bukan tergantung dari ringan-beratnya autisme. "Sampai saat ini sistem klasifikasi autisme masih diperdebatkan," ujar Rudy. Lagipula, tambahnya, penggunaan peringkat ini pun harus dilakukan secara hati-hati karena berpengaruh pada orang tua. "Bila anaknya didiagnosis ringan, orang tua bisa lengah menjalankan tatalaksana optimal. Sementara bila dikatakan berat, mungkin saja si orang tua bisa depresi, putus asa, sehingga tak berbuat apa-apa terhadap anaknya."
Yang pasti, para ahli sepakat, semakin muda usia si anak atau sebelum umur 3 tahun, maka semakin baik hasilnya. "Sehingga pada waktu usia sekolah, tak ada masalah lagi. Yang tinggal hanya gejala sisa, namun orang lain tetap tak akan tahu bahwa si anak mantan penyandang austime." Yang dimaksud gejala sisa, misalnya, pada suatu saat si anak seperti ingin berteriak namun ia bisa menahannya.
Itulah mengapa Rudy menganjurkan agar intervensi dini sebaiknya dimulai segera setelah diagnosis autisme dibuat. "Paling tidak, di usia 2-3 tahun, hasil terbaik bisa dicapai, sehingga anak sudah bisa verbal dan menguasai bahasa sebelum usia 5 tahun." Hal ini didasari pula bahwa perkembangan otak dimulai sejak usia 6 bulan di kandungan. Perkembangannya menjadi sangat pesat dalam 3 tahun pertama kehidupan anak, lalu menurun meskipun relatif masih cukup pesat sampai dengan usia 5 tahun. Namun setelah usia 5-7
Kendati demikian, ujar Rudy, pada usia berapa pun si anak, janganlah pernah berpikir bahwa itu terlambat. "Jika terapi dijalankan dengan konsisten dan terarah, pasti tetap ada gunanya." Namun tentunya terapi yang dilakukan pada anak usia dini dengan anak di atas 5 tahun, hasilnya akan berbeda sebab semakin ditunda pelaksanaan terapi anak, akan semakin sulit dikendalikan baik fisik maupun psikisnya.
Soal tindak pencegahan autisme, menurut Rudy, hingga kini belum ada. Sebab, gen pembawa atau penyebab autisme masih dalam penyelidikan. "Tapi mungkin bisa dilakukan dengan genetik konseling atau konsultasi pranikah, apakah ada gennya pada calon ayah atau ibunya. Atau mungkin dengan rekayasa genetik. Tapi ini pun belum bisa dilakukan."
Dedeh Kurniasih
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Penyandang-Autisme-Bisa-Sembuh
Senin, 14 Juni 2010
Hati-hati bila si kecil belum juga bisa bicara. Apalagi ia kerap terlihat asyik sendiri dan tak peduli lingkungannya. Mungkin ia mengalami autisme.
Umumnya, bila sampai usia 2 tahun si kecil belum juga bisa bicara, barulah orang tua mulai cemas dan minta bantuan profesional semisal dokter atau psikolog. Celakanya, yang sering terjadi, si profesional malah "menghibur", "Ah, nggak apa-apa, kok, Bu, Pak. Biasanya bicara memang lebih lambat dari berjalan," atau, "Banyak klien saya yang anaknya dulu lambat bicara tapi sekarang malah cerewet."
Padahal, seperti dikatakan DR. Rudy Sutadi, DSA, ucapan yang "menghibur" itu sama sekali tak ada landasan ilmiahnya. "Justru kita harus waspada kalau anak belum juga bisa bicara," ujar Wakil Ketua Yayasan Austisma Indonesia ini. "Karena salah satu hal yang paling sering terjadi pada anak penyandang autisme ialah tak bicara," terangnya.
Memang, diakui Rudy, bukan berarti kita harus selalu curiga si anak menyandang autisme bila dalam masa perkembangannya belum juga bisa bicara. "Karena bisa saja si anak tuli atau bahkan bisu tuli," ujarnya. Kalau begitu, apa saja gejala atau tanda-tanda autisme?
SERING INKONSISTEN
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition (DSM IV) dari asosiasi psikiater Amerika dan International Classification of Disease (ICD 10) dari WHO, penyandang austime memiliki kriteria. Antara lain, ada gangguan bicara, tak ada kontak mata, tak ada peer relationship, tak bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, suka menstimulasi diri seperti handflapping, berjalan jinjit, dan sebagainya. Nah, bila terdapat beberapa tanda/gejala yang termasuk kriteria tersebut, maka bisa
Misalnya, pada anak usia mulai bisa bicara sekitar 1-2 tahun, kemampuannya hanya mengoceh dalam bahasa "planet" atau membeo (echolali). Misalnya, saat ditanya, "Siapa namamu?" ia akan mengulangi pertanyaan tersebut dan itu dilakukannya berulang-ulang. Lagu pun diulangnya terus-menerus. Jika ditanya lagu apa yang dinyanyikan, ia diam dan acuh saja. "Beda dengan anak normal, yang kalau ditanya, akan menjawab."
Ada juga anak yang sudah mulai bisa bicara beberapa kata, tapi tiba-tiba, misalnya di usia 18 bulan atau 2 tahun berhenti bicara secara mendadak. "Secara teoritis ini terjadi karena berhentinya perkembangan otak. Tadinya anak mulai mampu tapi tiba-tiba kemampuannya hilang, karena memang ada gangguan di otak. Hal ini sering terjadi," jelas Rudy.
Tanda/gejala lainnya ialah tak ada tatapan atau kontak mata. Si anak pun suka menyendiri dan main sendiri, acuh pada sekeliling, tak takut ataupun menangis. Ditinggal orang tua, dia juga diam saja. Saat bermain, misalnya, dia menderetkan mainan lalu merusaknya kembali dan itu dilakukan berulang-ulang tanpa henti. Ada yang senang mengepakkan tangannya bak burung (handflapping), memutar badannya atau benda semisal koin, piring dan benda lainnya secara terus-menerus. Ia senang memainkan roda mobil-mobilan, me
Ada juga tanda gangguan emosi seperti ekses kelebihan dan defisit. Misalnya, respon atas stimulusnya berlebihan, padahal mungkin bagi anak normal, hal itu biasa-biasa saja. Contohnya, ketika melihat semut beriring ia akan memperhatikannya sekian lama, terus-menerus tanpa henti. Sementara untuk anak dengan defisit emosi, contohnya jika digelitik seperti apa pun, ia tetap saja bengong.
Yang lain menunjukkan rasa sensitif terhadap sentuhan. Misalnya, baru diraba kulitnya, sudah serasa diamplas. Atau justru sebaliknya, hiposensitif, sama sekali tak merasakan sentuhan. Misalnya, kalau menggaruk harus sampai keluar darah barulah ia puas dan berhenti.
Yang jelas, "Tanda dan gejala autisme ini sering inkonsisten atau tak terlihat setiap saat atau setiap waktu," ujar Direktur Program KID-Autis (Klinik Intervensi Autisme) JMC ini. Misalnya, bila dipanggil keras namanya, si anak tak bereaksi. Namun begitu mendengar lagu iklan di TV dia akan bereaksi. "Karena inkonsisten inilah, orang tua jadi tak segera menyadari bahwa ada sesuatu yang tak wajar dalam diri anaknya."
FAKTOR GENETIK
Autisme, terang Rudy, merupakan gangguan proses perkembangan yang terjadi dalam 3 tahun pertama kehidupan. Hal ini menyebabkan gangguan pada bahasa, kognitif, sosial, dan fungsi adaptif. Akibatnya, anak autisme semakin lama semakin jauh tertinggal dibanding anak seusianya ketika umurnya semakin bertambah.
Karena merupakan gangguan proses perkembangan, maka tanda/gejala timbulnya bukan hanya pada satu titik umur tertentu tapi bertahap sesuai perkembangan anak. Juga tak bisa dideteksi saat lahir, melainkan harus dilihat sesuai dengan perkembangan anak. Misalnya, masalah gangguan bicara. Pada bayi baru lahir jelas belum bisa bicara, namun bisa diketahui pasti gejalanya sebelum usia 3 tahun.
Merujuk pada riset terakhir, seperti dipaparkan Rudy, diketahui bahwa autisme terjadi karena ada gangguan neurobiologis. "Ini timbul akibat kelainan perkembangan sel-sel otak selama ia berada di dalam kandungan." Gangguan tersebut dapat disebabkan infeksi virus (rubella, herpes, CMV), infeksi toksoplasma, infeksi jamur, perdarahan, ataupun keracunan. Akibatnya, pertumbuhan sel-sel otak di beberapa tempat jadi kurang sempurna. Lokasi pada otak yang sering dijumpai adanya kelainan adalah otak kecil, yang ber
Jadi, tandas Rudy, gangguan perkembangan otak ini sebetulnya sudah dimulai sejak di dalam kandungan. Penyebabnya bisa multifaktor. Yang jelas, lanjut Rudy, "Para ahli sudah sepakat, autisme karena faktor genetik, bakat, atau keturunan, yang dipengaruhi pula faktor lain seperti bahan kimia, yaitu pengawet makanan, penyedap rasa, dan lain-lain."
INTERVENSI DINI
Kendati demikian, austime tetap dapat di"sembuh"kan. Namun "sembuh" yang dimaksud ialah bila si anak bisa masuk ke dalam mainstreaming. "Artinya, mereka bisa masuk sekolah biasa, bisa mengikutinya, bisa berkembang, dan bisa hidup di masyarakat. Tak berbeda dengan anak lain dan tak tampak gejala sisa. Anak pun tak bisa dibedakan baik secara tes akademik maupun sosialnya," terang Rudy.
Dari hasil penelitian diketahui, "kesembuhan" tersebut dapat diperoleh melalui intervensi dini intensif berdasarkan prinsip ABA yaitu Applied Behavior Analysis atau yang dikenal sebagai metode Lovaas. Rudy menyebutnya sebagai Tatalaksana Perilaku. "Metode ini dilakukan secara intensif, minimal 40 jam seminggu atau during all waking hour, sepanjang waktu terjaganya anak. Jadi, kalau terjaganya si anak 50 jam, ya, selama itu."
Kelebihan dari metode ini ialah sistematis, terstruktur, dan terukur. Jadi, program ini memiliki kurikulum disertai petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau diajarkan, dapat dinilai berhasil-tidaknya, juga bisa diulangi oleh siapa pun dan kapan pun.
Cara pelatihannya adalah dengan konsep tiru. Dimulai dengan perseptif, lalu daya tangkap anak atau kognitif, baru kemudian yang ekspresif. Misalnya, meniru gerakan mengangkat tangan. Setelah menguasai konsep tiru minimal 5 gerakan, lalu si anak mulai meniru suara, selanjutnya suku kata dan kata. "Konsep tiru ini bermanfaat untuk jangka pendeknya, yaitu melatih bahasa."
Jika anak sudah bisa meniru suku kata, berarti sudah merupakan kemajuan yang amat besar. Sebab, kata tersusun dari suku kata dan anak autisme tak bisa dipaksa bilang, misalnya, "mata", bila ia belum menguasai suku kata.
TAK PERNAH TERLAMBAT
Namun, seberapa jauh keberhasilan tatalaksana berdasarkan metode ini, menurut Rudy, belumlah dapat diramalkan. "Ada anak yang bisa 'sembuh' lebih cepat dari 2 tahun, lebih lambat, dan ada yang dalam waktu tertentu 2 atau 3 tahun. Bahkan ada juga yang masih perlu support sepanjang hidupnya."
Yang perlu diingat, cepat-lambatnya "kesembuhan" bukan tergantung dari ringan-beratnya autisme. "Sampai saat ini sistem klasifikasi autisme masih diperdebatkan," ujar Rudy. Lagipula, tambahnya, penggunaan peringkat ini pun harus dilakukan secara hati-hati karena berpengaruh pada orang tua. "Bila anaknya didiagnosis ringan, orang tua bisa lengah menjalankan tatalaksana optimal. Sementara bila dikatakan berat, mungkin saja si orang tua bisa depresi, putus asa, sehingga tak berbuat apa-apa terhadap anaknya."
Yang pasti, para ahli sepakat, semakin muda usia si anak atau sebelum umur 3 tahun, maka semakin baik hasilnya. "Sehingga pada waktu usia sekolah, tak ada masalah lagi. Yang tinggal hanya gejala sisa, namun orang lain tetap tak akan tahu bahwa si anak mantan penyandang austime." Yang dimaksud gejala sisa, misalnya, pada suatu saat si anak seperti ingin berteriak namun ia bisa menahannya.
Itulah mengapa Rudy menganjurkan agar intervensi dini sebaiknya dimulai segera setelah diagnosis autisme dibuat. "Paling tidak, di usia 2-3 tahun, hasil terbaik bisa dicapai, sehingga anak sudah bisa verbal dan menguasai bahasa sebelum usia 5 tahun." Hal ini didasari pula bahwa perkembangan otak dimulai sejak usia 6 bulan di kandungan. Perkembangannya menjadi sangat pesat dalam 3 tahun pertama kehidupan anak, lalu menurun meskipun relatif masih cukup pesat sampai dengan usia 5 tahun. Namun setelah usia 5-7
Kendati demikian, ujar Rudy, pada usia berapa pun si anak, janganlah pernah berpikir bahwa itu terlambat. "Jika terapi dijalankan dengan konsisten dan terarah, pasti tetap ada gunanya." Namun tentunya terapi yang dilakukan pada anak usia dini dengan anak di atas 5 tahun, hasilnya akan berbeda sebab semakin ditunda pelaksanaan terapi anak, akan semakin sulit dikendalikan baik fisik maupun psikisnya.
Soal tindak pencegahan autisme, menurut Rudy, hingga kini belum ada. Sebab, gen pembawa atau penyebab autisme masih dalam penyelidikan. "Tapi mungkin bisa dilakukan dengan genetik konseling atau konsultasi pranikah, apakah ada gennya pada calon ayah atau ibunya. Atau mungkin dengan rekayasa genetik. Tapi ini pun belum bisa dilakukan."
Dedeh Kurniasih
Aneka Terapi Penderita Autis
Aneka Terapi Penderita Autis
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Aneka-Terapi-Penderita-Autis
Aneka Terapi Yang Dilakukan untuk penderita autis
1. Terapi Obat (Medikamentosa)
Pada awalnya diperlukan obat untuk membantu anak berkonsentrasi, ada kontak mata, dan meningkatkan interaksi dengan lingkungan. Namun obat ini tak dirancang untuk seumur hidup, karena hanya berguna mengurangi atau menghilangkan beberapa gejala, terutama sekali mengontrol perilaku mengacau. Jadi, tujuannya agar si anak lebih mudah untuk ditatalaksana.
Secara bertahap dosis obat diturunkan sampai minimum. Tapi bila kemudian timbul masalah lagi, maka dosis obat dapat diberikan seperti semula lagi.
2. Terapi Diet
Pada beberapa penyandang autisme dilakukan diet terhadap bahan-bahan tertentu, sehingga anak tak lagi mengalami gangguan perilaku semisal hiperaktif. Dietnya antara lain pantang gula, lemak, ragi, terigu, susu, kafein, gluten, pengawet makanan, penyedap makanan, dan bahan pewarna makanan.
3. Terapi Okupasi
Bila ada kelemahan otot atau gangguan perkembangan motorik halus, misalnya, tak bisa menguasai sesuatu atau memegang pensil, maka dilakukan fisioterapi untuk melatih otot yang lemah/kaku. Terapi ini membantu anak mengembangkan kekuatan dan koordinasi, dengan atau tanpa menggunakan alat.
4. Terapi Wicara
Semua penyandang autisme mengalami gangguan bicara dan bahasa, sehingga harus dilakukan terapi oleh ahlinya.
5. Terapi Perilaku
Anak diajarkan perilaku-perilaku umum dengan pemberian reward dan punishment. Bila ia melakukan apa yang diperintahkan dengan benar, maka diberi pujian. Jika sebaliknya, ia dapat hukuman semisal, "Ya sudah, kalau kamu maunya begitu terus, kita tidak jadi bermain." Tentu perintahnya merupakan perintah-perintah sederhana dan mudah dimengerti anak.
Terapi ini dilakukan pada institusi secara penuh dari Senin-Jumat dan dilanjutkan di rumah oleh orang tua. Karena itu, orang tua harus juga punya pengetahuan mengenai program ini lewat pelatihan-pelatihan.
Ber -IQ Tinggi
Jangan kira penyandang autisme identik dengan bodoh. Memang, diakui DR. Rudy Sutadi, DSA, sekitar 70 persen penderitanya dinyatakan mengalami retardasi mental. "Penyebabnya bisa berbagai hal. Yang jelas, bila anak autisme tak ditangani, ya, bisa dikatakan termasuk retardasi mental. Karena kriteria IQ-nya di bawah 75."
Tapi jika penyandang autisme ditatalaksana dengan intensif dan baik, maka banyak juga yang ber-IQ tinggi. "Ada yang IQ-nya 120-130. Bahkan 150." Jadi, si anak sebenarnya berpotensi IQ tinggi. Hanya saja sebelum ditatalaksana IQ-nya itu tak terukur. Setelah ditatalaksana barulah diketahui kalau IQ-nya ternyata tinggi. Kelak di kemudian hari mereka bisa menjadi seorang yang ahli di bidangnya. Contoh, pelukis Van Gogh dan Leonardo Da Vinci. Riwayat hidup mereka diperkirakan autistik.
Lain halnya bila si penyandang autisme tak ditangani, mungkin ada beberapa gejala yang berkurang. Namun ada pula yang gejalanya menetap, menghebat, atau malah yang tadinya tak ada jadi muncul. Pada prinsipnya, tandas Rudy, penyandang autisme yang tak ditatalaksana dengan baik tetaplah autisme. "Salah jika orang tua mengharapkan anaknya bisa 'sembuh' dengan bertambah umurnya. Justru akan lebih bertambah besar gap-nya kalau dilihat dari grafik perkembangannya. Mungkin beberapa bulan tak terlihat tapi lama-la
http://www.tabloidnova.com/Nova/Keluarga/Anak/Aneka-Terapi-Penderita-Autis
Aneka Terapi Yang Dilakukan untuk penderita autis
1. Terapi Obat (Medikamentosa)
Pada awalnya diperlukan obat untuk membantu anak berkonsentrasi, ada kontak mata, dan meningkatkan interaksi dengan lingkungan. Namun obat ini tak dirancang untuk seumur hidup, karena hanya berguna mengurangi atau menghilangkan beberapa gejala, terutama sekali mengontrol perilaku mengacau. Jadi, tujuannya agar si anak lebih mudah untuk ditatalaksana.
Secara bertahap dosis obat diturunkan sampai minimum. Tapi bila kemudian timbul masalah lagi, maka dosis obat dapat diberikan seperti semula lagi.
2. Terapi Diet
Pada beberapa penyandang autisme dilakukan diet terhadap bahan-bahan tertentu, sehingga anak tak lagi mengalami gangguan perilaku semisal hiperaktif. Dietnya antara lain pantang gula, lemak, ragi, terigu, susu, kafein, gluten, pengawet makanan, penyedap makanan, dan bahan pewarna makanan.
3. Terapi Okupasi
Bila ada kelemahan otot atau gangguan perkembangan motorik halus, misalnya, tak bisa menguasai sesuatu atau memegang pensil, maka dilakukan fisioterapi untuk melatih otot yang lemah/kaku. Terapi ini membantu anak mengembangkan kekuatan dan koordinasi, dengan atau tanpa menggunakan alat.
4. Terapi Wicara
Semua penyandang autisme mengalami gangguan bicara dan bahasa, sehingga harus dilakukan terapi oleh ahlinya.
5. Terapi Perilaku
Anak diajarkan perilaku-perilaku umum dengan pemberian reward dan punishment. Bila ia melakukan apa yang diperintahkan dengan benar, maka diberi pujian. Jika sebaliknya, ia dapat hukuman semisal, "Ya sudah, kalau kamu maunya begitu terus, kita tidak jadi bermain." Tentu perintahnya merupakan perintah-perintah sederhana dan mudah dimengerti anak.
Terapi ini dilakukan pada institusi secara penuh dari Senin-Jumat dan dilanjutkan di rumah oleh orang tua. Karena itu, orang tua harus juga punya pengetahuan mengenai program ini lewat pelatihan-pelatihan.
Ber -IQ Tinggi
Jangan kira penyandang autisme identik dengan bodoh. Memang, diakui DR. Rudy Sutadi, DSA, sekitar 70 persen penderitanya dinyatakan mengalami retardasi mental. "Penyebabnya bisa berbagai hal. Yang jelas, bila anak autisme tak ditangani, ya, bisa dikatakan termasuk retardasi mental. Karena kriteria IQ-nya di bawah 75."
Tapi jika penyandang autisme ditatalaksana dengan intensif dan baik, maka banyak juga yang ber-IQ tinggi. "Ada yang IQ-nya 120-130. Bahkan 150." Jadi, si anak sebenarnya berpotensi IQ tinggi. Hanya saja sebelum ditatalaksana IQ-nya itu tak terukur. Setelah ditatalaksana barulah diketahui kalau IQ-nya ternyata tinggi. Kelak di kemudian hari mereka bisa menjadi seorang yang ahli di bidangnya. Contoh, pelukis Van Gogh dan Leonardo Da Vinci. Riwayat hidup mereka diperkirakan autistik.
Lain halnya bila si penyandang autisme tak ditangani, mungkin ada beberapa gejala yang berkurang. Namun ada pula yang gejalanya menetap, menghebat, atau malah yang tadinya tak ada jadi muncul. Pada prinsipnya, tandas Rudy, penyandang autisme yang tak ditatalaksana dengan baik tetaplah autisme. "Salah jika orang tua mengharapkan anaknya bisa 'sembuh' dengan bertambah umurnya. Justru akan lebih bertambah besar gap-nya kalau dilihat dari grafik perkembangannya. Mungkin beberapa bulan tak terlihat tapi lama-la
Langganan:
Postingan (Atom)