http://www.infogue.com/viewstory/2011/12/18/khasiat_jamur_kuping/?url=http://tipsku.info/manfaat-jamur-kuping/
Manfaat jamur kuping
December 17, 2011 | In: Kesehatan, Tips
Manfaat jamur kuping – Dalam sebuah jurnal kedokteran di Cina, The Chinese Medical Journal telah di laporkan tentang manfaat dan khasiat jamur kuping baik secara langsung sebagai campuran untuk bahan-bahan makanan maupun dalam bentuk ekstrak. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu jamur kuping telah dimanfaatkan sebagai bahan makanan campuran resep masakan, bahan pengental dan sebagai bahan obat-obatan.
- Penawar racun
Diantara manfaat jamur kuping yeng penting adalah mengeluarkan racun dari dalam tubuh sebagaimana di ketahui racun memiliki efek yang tidak baik terhadap fungsi sistem metabolisme tubuh baik racun yang diakibatkan oleh senyawa biologi seperti racun pada tembakau maupun bahan kimia sintetik. Begitu juga racun yang diakibatkan oleh logam berat dapat mengakibatkan gangguan pada sintesis hem dan aktivitas enzim. Gangguan ini dapat mengakibatkan penurunan pembentukan hemoglobin sehingga kadar sel-sel darah merah pun ikut menurun dan dapat menyebabkan anemia.
Dalam catatan pengobatan tradisional Cina orang-orang tang terbebas dari keracunan makanan biasanya menggunakan cairan yang kental seperti agar oyang berasal dari jamur kuping ini untuk menetralisir racun pada makanan. Oleh karena itu makanan akan aman bila dimasak dan dimakan bersama-sama dengan jamur kuping.
- Mencegah penyakit kanker
Suplementasi vitamin B3 atau niasin ternyata dapat mencegah kanker. Vitamin ini bipasanya diberikan kepada penderita yang sedang menjaalani kemoterapi khususnya untuk mengurangi efek toksis atau peracunan dari kemoterapi itu sendiri. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Popov bahkan menuturkan bahwa pemberian kombinasi niacin dan aspirin pada penderita kanker kandung kemih yang ternyata bisa menurunkan angka kekambuhan dan bisa memperpanjang usia harapan hidup pada penderita kanker.
Kandungan niasin yang terdapat dalam jamur kuping juga bisa berpengaruh baik terhadap pengurangan peracunan yang ditimbulkan oleh bahan antikanker antara lain akibat oleh pemakaian obat-obatan sintetik. Sebagaimana diketahui bahan kimia sintetik dapat manjadi faktor pencetuh karsinogenik yang mengakibatkan keganasan sel-sel kanker.
- Memperbaiki sirkulasi darah
Dalam kaitannya dengan perbaikan sistem peredaran darah (blood circulatin system), ada beberapa catatan yang menerangkan tentang kegunaan dan khasiat jamur kuping. Dalam catatan negeri Tiongkok jamur kuping atau he muk o ini sejak zaman dahulu telah dimanfaatkan sebagai obat oleh para wanita yang telah melahirkan. Setelah mengkonsumsi jamur kuping tersebut ada efek mujarabnya yaitu untuk membantu mengeluarkan darah kotor dan menjadikan sirkulasi darah normal kembali. Manfaat lainnya dari jamur kuping ini yaitu membantu sirkulasi menstruasi bagi kaum wanita yang sedang mengalami datang bulan.
Jamur kuping juga sangat baik bagi orang-orang yang sedang menderita penyakit jantung, hipertensi ataupun kusus-kusus gangguan sirkulasi darah akibat kandungan kolesterol yang tinggi dalam darah. Keberadaan kolesterol Yang melebihi batas kecukupan dapat menambah resiko seseorang terserang penyakit kardiovaskuler. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian seorang ahli biologi Amerika, Prof R.H. Harmsmith di dalam Scientific American yang mengadakan survei dan penelitian dasar tentang kondisi kesehatan penduduk Hongkong.
Dalam penelitian tersebut dilakukan untuk mendapatkan suatu jawaban tentang mengapa penduduk Hongkong yang gemar memakan lemak hewani atau kolesterol namun justru sedikit sekali yang terkena serangan penyakit jantung. Dari hasil survei itu diketahui bahwa pada hampir semua resep makanan Cina selalu ditambahkan jamur kuping di dalamnya.
Jamur kuping juga sangat berguna dalam mencegah terjadinya atherosklerosis. Adapun atherosklerosis merupakan penebalan dinding bagian dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan penyumbatan dan pembentukan bekuan darah (trombosis) sebagai salah satu penyebab serangan jantung.
Disamping itu jamur kuping ini juga cukup membantu menurunkan kadar gula darah. Ini akan berpengaruh baik dalam upaya menanggulangi kadar glukosa darah yang dialami para penderita diabetes mellitus.
- Manfaat lain dalam pengobatan
Jamur kuping atau lember mengandung bahan-bahan penting yang dapat membantu kelancaran proses pencernaan terutama dalam mengatasi sembelit atau konstipasi serta mencegah timbulnya wasir. Adapun manfaat lainnya yaitu untuk mengatasi sesak napas dan sakit tenggorokan. Kebiasaan mengkonsumsi jamur kupuing membantu dalam memperindah penampilan wajah. Selain itu bisa digunakan untuk mengatasi masalah alergi mengobati penyakit kulit dan bisul.
Incoming search terms:
jamur kuping , manfaat jamur kuping , manfaat jamur , khasiat jamur kuping , khasiat jamur , obat kanker sintetis , manfaat yang ada dalam jamur kuping , manfaat niasin , manfaat jamur kedokteran , dampak jamur teh untuk wanita
1 0
http://www.anneahira.com/khasiat-jamur-kuping.htm
Rabu, 21 Desember 2011
Bila Terkena Gejala Stroke Segeralah ke Dokter
Dr. Sutarto Prodjodisastro, Sp.S : Bila Terkena Gejala Stroke Segeralah ke Dokter
Jakarta, Yastroki (28/9)
http://www.yastroki.or.id/read.php?id=342
Usia adalah faktor risiko stroke yang tidak bisa dikendalikan, maka itu semakin seseorang mengalami usia lanjut maka risiko stroke semakin tinggi, ujar dr. Sutarto Prodjodisastro, Sp.S ahli penyakit saraf dari Yayasan Stroke Indonesia.
Stroke ada dua macam, stroke penyumbatan dan stroke pendarahan, kalau yang rusak otak bagian kanan maka yang lemes bagian tubuh sebelah kiri, tetapi kalau yang rusak otak sebelah kiri maka bagian anggota tubuh yang lemes ada dibagian kanan, tetapi yang paling berat adalah stroke yang menyerang otak sebelah kiri, karena mengakibatkan gangguan memori atau daya ingat, kata dr. Sutarto, Sp.S ketika memberikan ceramah kesehatan tentang penyakit stroke di depan para anggota paguyuban pensiunan pegawai Badan Pusat Statistik di Jakarta pada hari senin (28/9).
Menurut dr. Sutarto Prodjodisastro, Sp.S . kita perlu mengetahui gejala stroke sebagai berikut :
1.Kesadaran dapat menurun.
2.Nyeri kepala hebat tanpa sebab yang nyata, dapat disertai mual dan muntah.
3.Gangguan bicara : bingung/sulit memahami pembicaraan
4.Tingkah laku berubah.
5.Gangguan penglihatan dan pendengaran tiba-tiba.
6.Kesemutan separuh anggota badan/gangguan sensibilitas.
7.Anggota gerak lemah sesisi/separuh anggota badan
8.Berjalan sulit, sempoyongan, keseimbangan terganggu.
9.Kadang-kadang terjatuh waktu bangun tidur atau waktu di kamar mandi.
10.Gangguan fungsi luhur, fungsi otonom, dan lain-lain.
11.Masa krisis 3-5 hari.
Dengan mengetahui gejala stroke ini kita bisa lebih waspada, bila gejala tersebut ada pada diri kita, segeralah berkonsultasi dengan dokter, jangan terlambat untuk ke dokter karena waktu yang baik adalah kurang dari 3-6 jam pasien sudah tertangani oleh dokter yang tepat.
Acara Halal Bihalal memperingati Hari Raya Idul Fitri 1430 H tersebut merupakan ajang jumpa kangen antara para mantan pegawai Biro Pusat Statistik Pusat yang bekerjasama dengan Yayasan Stroke Indonesia untuk mensosialisasikan penanggulangan stroke di lingkungan instansi Biro Pusat Statistik, para peserta yang hadir berujumlah 400 orang.
Jakarta, Yastroki (28/9)
http://www.yastroki.or.id/read.php?id=342
Usia adalah faktor risiko stroke yang tidak bisa dikendalikan, maka itu semakin seseorang mengalami usia lanjut maka risiko stroke semakin tinggi, ujar dr. Sutarto Prodjodisastro, Sp.S ahli penyakit saraf dari Yayasan Stroke Indonesia.
Stroke ada dua macam, stroke penyumbatan dan stroke pendarahan, kalau yang rusak otak bagian kanan maka yang lemes bagian tubuh sebelah kiri, tetapi kalau yang rusak otak sebelah kiri maka bagian anggota tubuh yang lemes ada dibagian kanan, tetapi yang paling berat adalah stroke yang menyerang otak sebelah kiri, karena mengakibatkan gangguan memori atau daya ingat, kata dr. Sutarto, Sp.S ketika memberikan ceramah kesehatan tentang penyakit stroke di depan para anggota paguyuban pensiunan pegawai Badan Pusat Statistik di Jakarta pada hari senin (28/9).
Menurut dr. Sutarto Prodjodisastro, Sp.S . kita perlu mengetahui gejala stroke sebagai berikut :
1.Kesadaran dapat menurun.
2.Nyeri kepala hebat tanpa sebab yang nyata, dapat disertai mual dan muntah.
3.Gangguan bicara : bingung/sulit memahami pembicaraan
4.Tingkah laku berubah.
5.Gangguan penglihatan dan pendengaran tiba-tiba.
6.Kesemutan separuh anggota badan/gangguan sensibilitas.
7.Anggota gerak lemah sesisi/separuh anggota badan
8.Berjalan sulit, sempoyongan, keseimbangan terganggu.
9.Kadang-kadang terjatuh waktu bangun tidur atau waktu di kamar mandi.
10.Gangguan fungsi luhur, fungsi otonom, dan lain-lain.
11.Masa krisis 3-5 hari.
Dengan mengetahui gejala stroke ini kita bisa lebih waspada, bila gejala tersebut ada pada diri kita, segeralah berkonsultasi dengan dokter, jangan terlambat untuk ke dokter karena waktu yang baik adalah kurang dari 3-6 jam pasien sudah tertangani oleh dokter yang tepat.
Acara Halal Bihalal memperingati Hari Raya Idul Fitri 1430 H tersebut merupakan ajang jumpa kangen antara para mantan pegawai Biro Pusat Statistik Pusat yang bekerjasama dengan Yayasan Stroke Indonesia untuk mensosialisasikan penanggulangan stroke di lingkungan instansi Biro Pusat Statistik, para peserta yang hadir berujumlah 400 orang.
Rabu, 07 Desember 2011
How to Decrease Chewing in Children with Autism:
http://www.sharonscreativecorner.com/332/how-to-decrease-chewing-in-children-with-autism/
How to Decrease Chewing in Children with Autism:
Some children with autism like to chew on clothes, paper or anything that they can get their hands on easily. Does your child do that? Here’s more about why children with autism chew excessively and what you can do about it.
Children with autism have difficulty in regulating their sensory experiences. They can have hypersensitivity or hyposensitivity to various sensations. Excessive chewing is an example of sensory hyposensitivity. These children chew, not because they want to destroy clothing, or other objects, but because they may like or need the sensation that they get by chewing. Thus, when we try to help a child with this problem, we need to tackle the root of the problem, which is sensory in nature.
Changing the Object they chew:
This is the simplest way to tackle this problem, and maybe even the best way to start working on this issue, is replacing valuable objects with a chewing toy. Chew necklaces are great for children who chew on their clothes. Chewy toys give children the sensory experience they require, and thus they automatically stop chewing on other things like good books, and clothes. Here are some examples of chewy toys.
Chewy candy, or chewing gum can be used, but both need to be used with caution as too much candy can cause tooth decay, and chewing gum can be a mess.
Oral Stimulation:
Oral Stimulation refers to different techniques to stimulate different parts of the mouth. These exercises also provide stimulation to the mouth, and may decrease the need for the child to chew. Oral stimulation can be done by a trained therapist, or it can be done in the form of activities with the child. Some activities that can provide oral stimulation are:
-SUCKING LIQUIDS THROUGH A STRAW
-BLOWING BALLOONS
-BLOWING BUBBLES
- Filling up the mouth with air ( Puffing up cheeks)
- Touching teeth with the tip of the tongue and going from one end to another.
-MAKING DIFFERENT TYPES OF SOUNDS AND NOISES
- Pulling cheeks apart in front of the mirror and making faces
Taking short breaks from Chewing:
Once you are able to change the object that the child chews on, and help them to get sensory experiences from other oral activities than chewing, the child may be ready to take short breaks from chewing. Do this, by allowing the child to participate in an activity that they love (Like swinging on a swing) , but on the condition that they leave their chewing object with you while doing the activity. Initially, keep the breaks short, so that the child knows that when he is done with the activity, he will get
Chewing in Private:
As your child becomes older and chewing decreases, you will need to teach your child that they can engage in chewing, but not in public. Keep chewing objects in the bathroom, and allow your child to go there and use them for a few minutes every hour or so. Slowly decrease this time. You can also encourage the child to use other oral stimulation techniques that are socially acceptable like drinking cold water and moving the water around the mouth, chewing gum etc.
Get your child involved in activities that require them to use their mouth:
This technique works similar to distraction. Get your child to do something else with their mouth, preventing them from chewing. Reward the child for engaging in this activity, encourage them, and praise them for the activity. You don’t even need to bring up the issue of chewing. Some activities you can introduce in this situation are:
-SINGING
-READING ALOUD
-RECITING
-TALKING
-WHISTLING
-PLAYING A MOUTH ORGAN
-PLAYING FLUTE
-BLOW PAINTING
-PAINTING WITH A PAINTBRUSH IN THE MOUTH
Allow your child to chew for short periods of time, and follow it with learning activities:
This is a technique to improve attention and concentration for learning tasks. Give your child a few minutes to chew on their toy and then work with your child for 15-30 minutes. You will find that your child learns better at that time compared to other times.
Hope these ideas can help you to decrease chewing in your child with autism. Do you have any ideas of your own? Do let me know.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Bagaimana Penurunan Mengunyah pada Anak dengan Autisme:
Beberapa anak autis seperti mengunyah pada pakaian, kertas atau apa pun yang mereka bisa mendapatkan tangan mereka pada mudah. Apakah anak Anda melakukan itu? Berikut selengkapnya tentang mengapa anak-anak dengan autisme mengunyah berlebihan dan apa yang dapat Anda lakukan tentang hal itu.
Anak-anak dengan autisme memiliki kesulitan dalam mengatur pengalaman sensorik mereka. Mereka dapat memiliki hipersensitivitas atau hyposensitivity untuk berbagai sensasi. Mengunyah berlebihan adalah contoh dari hyposensitivity sensorik. Anak-anak mengunyah, bukan karena mereka ingin menghancurkan pakaian, atau benda lainnya, tetapi karena mereka mungkin ingin atau butuh sensasi yang mereka dapatkan dengan mengunyah. Jadi, ketika kita mencoba untuk membantu anak dengan masalah ini, kita perlu mengatasi aka
Mengubah Obyek mereka mengunyah:
Ini adalah cara paling sederhana untuk mengatasi masalah ini, dan mungkin bahkan cara terbaik untuk mulai bekerja pada masalah ini, adalah mengganti benda-benda berharga dengan mainan mengunyah. Kalung mengunyah yang besar untuk anak-anak yang mengunyah pada pakaian mereka. Mainan kenyal memberi anak pengalaman indrawi mereka butuhkan, dan dengan demikian mereka secara otomatis berhenti mengunyah pada hal-hal lain seperti buku bagus, dan pakaian. Berikut adalah beberapa contoh mainan kenyal.
Permen kenyal, atau mengunyah permen karet dapat digunakan, namun keduanya harus digunakan dengan hati-hati karena permen terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan gigi, dan permen karet dapat menjadi berantakan.
Stimulasi oral:
Stimulasi oral mengacu pada teknik yang berbeda untuk merangsang berbagai bagian mulut. Latihan-latihan ini juga menyediakan rangsangan pada mulut, dan dapat menurunkan kebutuhan bagi anak untuk mengunyah. Stimulasi oral dapat dilakukan oleh seorang terapis yang terlatih, atau dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan dengan anak. Beberapa kegiatan yang dapat memberikan rangsangan oral adalah:
-MENGISAP CAIRAN MELALUI SEDOTAN
-HEMBUSAN BALON
-HEMBUSAN GELEMBUNG
- Memenuhi mulut dengan udara (Puffing sampai pipi)
- Menyentuh gigi dengan ujung lidah dan pergi dari satu ujung ke ujung.
-MEMBUAT BERBAGAI JENIS SUARA DAN SUARA
- Menarik pipi terpisah di depan cermin dan membuat wajah
Mengambil istirahat singkat dari Mengunyah:
Setelah Anda dapat mengubah objek yang mengunyah anak, dan membantu mereka untuk mendapatkan pengalaman sensorik dari kegiatan mulut selain mengunyah, anak mungkin siap untuk mengambil istirahat pendek dari mengunyah. Lakukan ini, dengan membiarkan anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka sukai (Seperti berayun di ayunan), tetapi pada kondisi bahwa mereka meninggalkan objek mengunyah mereka dengan Anda saat melakukan aktivitas. Awalnya, menjaga istirahat pendek, sehingga anak tahu bahwa ketika
Mengunyah di Perusahaan Swasta:
Sebagai anak Anda menjadi lebih tua dan menurun mengunyah, Anda akan perlu untuk mengajarkan anak Anda bahwa mereka dapat terlibat dalam mengunyah, namun tidak di depan umum. Jauhkan benda-benda mengunyah di kamar mandi, dan memungkinkan anak Anda untuk pergi ke sana dan menggunakan mereka selama beberapa menit setiap jam atau lebih. Perlahan-lahan mengurangi waktu ini. Anda juga dapat mendorong anak untuk menggunakan teknik stimulasi lainnya oral yang secara sosial dapat diterima seperti minum air dingin
Dapatkan anak Anda terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan mereka untuk menggunakan mulut mereka:
Teknik ini bekerja mirip dengan gangguan. Dapatkan anak Anda untuk melakukan sesuatu yang lain dengan mulut mereka, mencegah mereka dari mengunyah. Hadiah anak untuk terlibat dalam kegiatan ini, mendorong mereka, dan memuji mereka untuk kegiatan tersebut. Anda bahkan tidak perlu untuk membuka masalah mengunyah. Beberapa kegiatan yang dapat memperkenalkan dalam situasi ini adalah:
-BERNYANYI
-MEMBACA DENGAN SUARA KERAS
-MEMBACA
-BERBICARA
-WHISTLING
-BERMAIN ORGAN MULUT
-BERMAIN SULING
-TIUP LUKISAN
-LUKISAN DENGAN KUAS DI MULUT
Biarkan anak Anda untuk mengunyah selama jangka waktu yang singkat, dan ikuti dengan kegiatan belajar:
Ini adalah sebuah teknik untuk meningkatkan perhatian dan konsentrasi untuk belajar tugas. Berikan anak Anda beberapa menit untuk mengunyah mainan mereka dan kemudian bekerja dengan anak Anda selama 15-30 menit. Anda akan menemukan bahwa anak Anda belajar lebih baik pada waktu itu dibandingkan waktu yang lain.
Harapan ide-ide ini dapat membantu Anda untuk mengurangi mengunyah pada anak Anda dengan autisme. Apakah Anda punya ide Anda sendiri? Jangan biarkan aku tahu.
How to Decrease Chewing in Children with Autism:
Some children with autism like to chew on clothes, paper or anything that they can get their hands on easily. Does your child do that? Here’s more about why children with autism chew excessively and what you can do about it.
Children with autism have difficulty in regulating their sensory experiences. They can have hypersensitivity or hyposensitivity to various sensations. Excessive chewing is an example of sensory hyposensitivity. These children chew, not because they want to destroy clothing, or other objects, but because they may like or need the sensation that they get by chewing. Thus, when we try to help a child with this problem, we need to tackle the root of the problem, which is sensory in nature.
Changing the Object they chew:
This is the simplest way to tackle this problem, and maybe even the best way to start working on this issue, is replacing valuable objects with a chewing toy. Chew necklaces are great for children who chew on their clothes. Chewy toys give children the sensory experience they require, and thus they automatically stop chewing on other things like good books, and clothes. Here are some examples of chewy toys.
Chewy candy, or chewing gum can be used, but both need to be used with caution as too much candy can cause tooth decay, and chewing gum can be a mess.
Oral Stimulation:
Oral Stimulation refers to different techniques to stimulate different parts of the mouth. These exercises also provide stimulation to the mouth, and may decrease the need for the child to chew. Oral stimulation can be done by a trained therapist, or it can be done in the form of activities with the child. Some activities that can provide oral stimulation are:
-SUCKING LIQUIDS THROUGH A STRAW
-BLOWING BALLOONS
-BLOWING BUBBLES
- Filling up the mouth with air ( Puffing up cheeks)
- Touching teeth with the tip of the tongue and going from one end to another.
-MAKING DIFFERENT TYPES OF SOUNDS AND NOISES
- Pulling cheeks apart in front of the mirror and making faces
Taking short breaks from Chewing:
Once you are able to change the object that the child chews on, and help them to get sensory experiences from other oral activities than chewing, the child may be ready to take short breaks from chewing. Do this, by allowing the child to participate in an activity that they love (Like swinging on a swing) , but on the condition that they leave their chewing object with you while doing the activity. Initially, keep the breaks short, so that the child knows that when he is done with the activity, he will get
Chewing in Private:
As your child becomes older and chewing decreases, you will need to teach your child that they can engage in chewing, but not in public. Keep chewing objects in the bathroom, and allow your child to go there and use them for a few minutes every hour or so. Slowly decrease this time. You can also encourage the child to use other oral stimulation techniques that are socially acceptable like drinking cold water and moving the water around the mouth, chewing gum etc.
Get your child involved in activities that require them to use their mouth:
This technique works similar to distraction. Get your child to do something else with their mouth, preventing them from chewing. Reward the child for engaging in this activity, encourage them, and praise them for the activity. You don’t even need to bring up the issue of chewing. Some activities you can introduce in this situation are:
-SINGING
-READING ALOUD
-RECITING
-TALKING
-WHISTLING
-PLAYING A MOUTH ORGAN
-PLAYING FLUTE
-BLOW PAINTING
-PAINTING WITH A PAINTBRUSH IN THE MOUTH
Allow your child to chew for short periods of time, and follow it with learning activities:
This is a technique to improve attention and concentration for learning tasks. Give your child a few minutes to chew on their toy and then work with your child for 15-30 minutes. You will find that your child learns better at that time compared to other times.
Hope these ideas can help you to decrease chewing in your child with autism. Do you have any ideas of your own? Do let me know.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Bagaimana Penurunan Mengunyah pada Anak dengan Autisme:
Beberapa anak autis seperti mengunyah pada pakaian, kertas atau apa pun yang mereka bisa mendapatkan tangan mereka pada mudah. Apakah anak Anda melakukan itu? Berikut selengkapnya tentang mengapa anak-anak dengan autisme mengunyah berlebihan dan apa yang dapat Anda lakukan tentang hal itu.
Anak-anak dengan autisme memiliki kesulitan dalam mengatur pengalaman sensorik mereka. Mereka dapat memiliki hipersensitivitas atau hyposensitivity untuk berbagai sensasi. Mengunyah berlebihan adalah contoh dari hyposensitivity sensorik. Anak-anak mengunyah, bukan karena mereka ingin menghancurkan pakaian, atau benda lainnya, tetapi karena mereka mungkin ingin atau butuh sensasi yang mereka dapatkan dengan mengunyah. Jadi, ketika kita mencoba untuk membantu anak dengan masalah ini, kita perlu mengatasi aka
Mengubah Obyek mereka mengunyah:
Ini adalah cara paling sederhana untuk mengatasi masalah ini, dan mungkin bahkan cara terbaik untuk mulai bekerja pada masalah ini, adalah mengganti benda-benda berharga dengan mainan mengunyah. Kalung mengunyah yang besar untuk anak-anak yang mengunyah pada pakaian mereka. Mainan kenyal memberi anak pengalaman indrawi mereka butuhkan, dan dengan demikian mereka secara otomatis berhenti mengunyah pada hal-hal lain seperti buku bagus, dan pakaian. Berikut adalah beberapa contoh mainan kenyal.
Permen kenyal, atau mengunyah permen karet dapat digunakan, namun keduanya harus digunakan dengan hati-hati karena permen terlalu banyak dapat menyebabkan kerusakan gigi, dan permen karet dapat menjadi berantakan.
Stimulasi oral:
Stimulasi oral mengacu pada teknik yang berbeda untuk merangsang berbagai bagian mulut. Latihan-latihan ini juga menyediakan rangsangan pada mulut, dan dapat menurunkan kebutuhan bagi anak untuk mengunyah. Stimulasi oral dapat dilakukan oleh seorang terapis yang terlatih, atau dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan dengan anak. Beberapa kegiatan yang dapat memberikan rangsangan oral adalah:
-MENGISAP CAIRAN MELALUI SEDOTAN
-HEMBUSAN BALON
-HEMBUSAN GELEMBUNG
- Memenuhi mulut dengan udara (Puffing sampai pipi)
- Menyentuh gigi dengan ujung lidah dan pergi dari satu ujung ke ujung.
-MEMBUAT BERBAGAI JENIS SUARA DAN SUARA
- Menarik pipi terpisah di depan cermin dan membuat wajah
Mengambil istirahat singkat dari Mengunyah:
Setelah Anda dapat mengubah objek yang mengunyah anak, dan membantu mereka untuk mendapatkan pengalaman sensorik dari kegiatan mulut selain mengunyah, anak mungkin siap untuk mengambil istirahat pendek dari mengunyah. Lakukan ini, dengan membiarkan anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang mereka sukai (Seperti berayun di ayunan), tetapi pada kondisi bahwa mereka meninggalkan objek mengunyah mereka dengan Anda saat melakukan aktivitas. Awalnya, menjaga istirahat pendek, sehingga anak tahu bahwa ketika
Mengunyah di Perusahaan Swasta:
Sebagai anak Anda menjadi lebih tua dan menurun mengunyah, Anda akan perlu untuk mengajarkan anak Anda bahwa mereka dapat terlibat dalam mengunyah, namun tidak di depan umum. Jauhkan benda-benda mengunyah di kamar mandi, dan memungkinkan anak Anda untuk pergi ke sana dan menggunakan mereka selama beberapa menit setiap jam atau lebih. Perlahan-lahan mengurangi waktu ini. Anda juga dapat mendorong anak untuk menggunakan teknik stimulasi lainnya oral yang secara sosial dapat diterima seperti minum air dingin
Dapatkan anak Anda terlibat dalam kegiatan yang mengharuskan mereka untuk menggunakan mulut mereka:
Teknik ini bekerja mirip dengan gangguan. Dapatkan anak Anda untuk melakukan sesuatu yang lain dengan mulut mereka, mencegah mereka dari mengunyah. Hadiah anak untuk terlibat dalam kegiatan ini, mendorong mereka, dan memuji mereka untuk kegiatan tersebut. Anda bahkan tidak perlu untuk membuka masalah mengunyah. Beberapa kegiatan yang dapat memperkenalkan dalam situasi ini adalah:
-BERNYANYI
-MEMBACA DENGAN SUARA KERAS
-MEMBACA
-BERBICARA
-WHISTLING
-BERMAIN ORGAN MULUT
-BERMAIN SULING
-TIUP LUKISAN
-LUKISAN DENGAN KUAS DI MULUT
Biarkan anak Anda untuk mengunyah selama jangka waktu yang singkat, dan ikuti dengan kegiatan belajar:
Ini adalah sebuah teknik untuk meningkatkan perhatian dan konsentrasi untuk belajar tugas. Berikan anak Anda beberapa menit untuk mengunyah mainan mereka dan kemudian bekerja dengan anak Anda selama 15-30 menit. Anda akan menemukan bahwa anak Anda belajar lebih baik pada waktu itu dibandingkan waktu yang lain.
Harapan ide-ide ini dapat membantu Anda untuk mengurangi mengunyah pada anak Anda dengan autisme. Apakah Anda punya ide Anda sendiri? Jangan biarkan aku tahu.
Rabu, 23 November 2011
Pembayaran Adsense melalui Western Union (Indonesia bisa!)
http://www.sumardiono.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1739&Itemid=74
Pembayaran Adsense melalui Western Union (Indonesia bisa!)
Written by Administrator
Saturday, 07 February 2009
Horee... kabar gembira. Pagi ini (Sabtu, 7/2/2009) pukul 09.38 terima email dari Adsense. Judulnya: Western Union now available in Indonesia.
Western UnionArtinya, pembayaran Adsense yang dulunya menggunakan cek dan harus dicairkan di Citibank sekarang bisa lebih cepat dan lebih mudah.
Dulu, dengan waktu pengiriman dari Adsense ke Indonesia sekitar 2-3 minggu, ditambah proses pencairan di bank sekitar 1 bulan. Biaya pencairan di Citibank Rp. 100 ribu. Kalau kantor Citibank tidak ada, pencairan di bank lain (mis. Mandiri) lebih mahal lagi (kalau nggak salah 300 ribu)
Dengan sistem Western Union, dana bisa dicairkan satu hari setelah awal bulan (karena tidak ada cek yang dikirim). Dana bisa dicairkan dengan di counter Western Union yang terserak di mana-mana (Bank Mandiri, BRI, BII, Danamon, kantor pos, dsb). Pokoknya tinggal masuk yang ada logo Western Union berwarna kuning.
Wah.. ini betul-betul "hadiah" dan kemudahan yang luar biasa buat publisher Adsense di Indonesia.
Fasilitas ini hanya tersedia untuk publisher individu, bukan bisnis. Kalau ingin mengubah cara pembayaran adsense dari cek ke Western Union, begini caranya:
1. Sign in ke akun Adsense (http://www.google.com/adsense)
2. Masuk ke My Account
3. Di bagian "Payment Details" (urutan ke-4 dari atas), klik "edit"
4. Pilih radio button "Setup Western Union Quick Cash", kemudian klik "Continue"
5. Pastikan nama yang tertulis benar. Jika nama hanya satu kata, bagian last name/surname/family name diisi kosong; kemudian centang persetujuan di bagian bawah dan klik "Save Changes"
Berikut ini cuplikan emailnya:
Hello,
We're excited to introduce Western Union Quick Cash as a new payment method for Indonesia! Western Union Quick Cash is a new form of payment that lets you receive your AdSense payments in cash using the worldwide Western Union money transfer service. This payment method is quick, easy, and free. Best of all, you'll no longer need to wait for checks to arrive in the mail or to clear at the bank.
Pembayaran Adsense melalui Western Union (Indonesia bisa!)
Written by Administrator
Saturday, 07 February 2009
Horee... kabar gembira. Pagi ini (Sabtu, 7/2/2009) pukul 09.38 terima email dari Adsense. Judulnya: Western Union now available in Indonesia.
Western UnionArtinya, pembayaran Adsense yang dulunya menggunakan cek dan harus dicairkan di Citibank sekarang bisa lebih cepat dan lebih mudah.
Dulu, dengan waktu pengiriman dari Adsense ke Indonesia sekitar 2-3 minggu, ditambah proses pencairan di bank sekitar 1 bulan. Biaya pencairan di Citibank Rp. 100 ribu. Kalau kantor Citibank tidak ada, pencairan di bank lain (mis. Mandiri) lebih mahal lagi (kalau nggak salah 300 ribu)
Dengan sistem Western Union, dana bisa dicairkan satu hari setelah awal bulan (karena tidak ada cek yang dikirim). Dana bisa dicairkan dengan di counter Western Union yang terserak di mana-mana (Bank Mandiri, BRI, BII, Danamon, kantor pos, dsb). Pokoknya tinggal masuk yang ada logo Western Union berwarna kuning.
Wah.. ini betul-betul "hadiah" dan kemudahan yang luar biasa buat publisher Adsense di Indonesia.
Fasilitas ini hanya tersedia untuk publisher individu, bukan bisnis. Kalau ingin mengubah cara pembayaran adsense dari cek ke Western Union, begini caranya:
1. Sign in ke akun Adsense (http://www.google.com/adsense)
2. Masuk ke My Account
3. Di bagian "Payment Details" (urutan ke-4 dari atas), klik "edit"
4. Pilih radio button "Setup Western Union Quick Cash", kemudian klik "Continue"
5. Pastikan nama yang tertulis benar. Jika nama hanya satu kata, bagian last name/surname/family name diisi kosong; kemudian centang persetujuan di bagian bawah dan klik "Save Changes"
Berikut ini cuplikan emailnya:
Hello,
We're excited to introduce Western Union Quick Cash as a new payment method for Indonesia! Western Union Quick Cash is a new form of payment that lets you receive your AdSense payments in cash using the worldwide Western Union money transfer service. This payment method is quick, easy, and free. Best of all, you'll no longer need to wait for checks to arrive in the mail or to clear at the bank.
Selasa, 15 November 2011
Anak Sulit Dilarang? Begini Triknya
Minggu, 13 November 2011
http://female.kompas.com/read/2011/11/12/14183779/Anak.Sulit.Dilarang.Begini.Triknya
Home / Ibu & Anak / Parenting
Anak Sulit Dilarang? Begini Triknya
Christina Andhika Setyanti | Dini | Sabtu, 12 November 2011 | 14:18 WIB
Fokuslah pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda.
KOMPAS.com — Anak merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Tugas kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah, demikian konsultan anak Hanny Muchtar Darta, saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin dan Mineral agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti "jangan", dan "tidak boleh" kepada anak.
Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut," ujar Hanny.
Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, "Jangan nonton TV sampai malam!". Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena k
Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. "Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka," pungkas Hanny.
http://female.kompas.com/read/2011/11/12/14183779/Anak.Sulit.Dilarang.Begini.Triknya
Home / Ibu & Anak / Parenting
Anak Sulit Dilarang? Begini Triknya
Christina Andhika Setyanti | Dini | Sabtu, 12 November 2011 | 14:18 WIB
Fokuslah pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda.
KOMPAS.com — Anak merengek atau menolak melakukan sesuatu yang kita perintahkan tentu hal yang sudah biasa. Tugas kita sebagai orangtualah untuk memberi tahu dan melarang anak agar tak melakukan hal-hal yang salah, demikian konsultan anak Hanny Muchtar Darta, saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin dan Mineral agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Namun, perlu Anda ketahui, kata-kata larangan dan kata-kata negatif yang dilontarkan kepada anak bisa berakibat buruk kepada mereka. Kata-kata negatif yang banyak mereka dengar bisa membuat mereka merasa tertekan, takut, dan bahkan stres. Sah saja melarang anak, tetapi gunakan kata-kata yang positif. Hindarilah kata-kata negatif seperti "jangan", dan "tidak boleh" kepada anak.
Banyak kok, kata pengganti yang bisa digunakan, dan terdengar lebih baik di telinga anak-anak selain kata larangan tersebut," ujar Hanny.
Ketika ingin melarang anak melakukan suatu hal yang tidak baik, sebaiknya Anda fokus pada masalah yang dihadapi dan pada tujuan yang ingin dicapai dengan kata-kata Anda. Misalnya ketika Anda melarang anak untuk menonton TV sampai malam karena takut terlambat bangun esok harinya, Anda akan mengatakan, "Jangan nonton TV sampai malam!". Kalimat ini selain terdengar sebagai kalimat larangan, juga terdengar sebagai kalimat perintah untuk anak sehingga tak jarang anak justru merasa terpaksa melakukannya karena k
Meski mengandung arti yang sama, kalimat ini terdengar lebih lembut dan lebih menyenangkan bagi anak. "Orangtua harus fokus pada masalah saat itu, dan juga fokus pada apa yang menjadi tujuan mereka melarang anak. Berikan juga alasan yang jelas dan benar mengapa anak tidak boleh melakukannya. Jadi jangan hanya asal melarang mereka," pungkas Hanny.
Minggu, 06 November 2011
School Tips for ADHD - School Tips for ADHD Children
School Tips for ADHD - School Tips for ADHD Children
18 Simple School Strategies for ADHD Children
http://add.about.com/od/childrenandteens/a/adhd-classroom.htm
By Keath Low, About.com Guide
Updated March 01, 2011
About.com Health's Disease and Condition content is reviewed by the Medical Review Board
Strategies for the Classroom
1. Classroom rules should be clear and concise and reviewed regularly with the student. It is helpful to have the child repeat back rules, expectations or other instructions to make sure they are understood. These rules should be posted prominently in the classroom.
2. Make sure the student is seated close to the teacher and away from distractions (away from doors, windows, cubby area, pencil sharpeners, etc.).
3. Give the student frequent and immediate feedback or consequences about behaviors.
4. Catch the student being good and give him immediate praise. Ignore negative behaviors that are minimal and not disruptive.
5. Use rewards and incentives before punishment to motivate the student and to help keep school feeling like a positive place. Change up the rewards frequently to help prevent the student from becoming bored.
6. Allow student frequent physical breaks to move around (to hand out or collect materials, run errands to the office or other areas in the school building, erase the board, get a drink of water at the water fountain, etc.)
7. Allow some restlessness at work area. Allow student to stand up at his desk if it helps him stay on task.
8. Tape an index card to the student’s desk with written class rules. Help him keep track of the schedule by reviewing it with him at various times during the day and prepare him for each transition.
9. Limit distractions, excessive noise, distracting visual stimuli, clutter, etc. (For some kids with ADHD listening to “white noise” or soft background music can help concentration and focus)
10. Reduce the student’s total work load. Break work down into smaller sections.
11. Give concise one or two step directions. Avoid “overloading” with too much info.
12. Place a hand on the student’s shoulder, hand or arm while talking to him in order to help him stay focused on what is said.
13. Allow the student to hold a small “koosh ball” or silly putty or something tactile for him to manipulate. This slight stimulation often helps keep an ADHD child focused.
14. If the school allows it, some students benefit from chewing gum to release energy and keep concentration.
15. Schedule the most difficult subjects in the morning time when the student (and the whole class) is more fresh and less fatigued.
16. Do not use loss of recess as a consequence for negative behavior. (ADHD kids benefit from the physical movement that occurs during recess and can usually focus better following this exercise)
17. Use timers, taped time signals, or verbal cues to show how much time the student has remaining for an activity.
18. Pair the student with a “study buddy” –- a kind and mature classroom peer who can help give reminders or refocus the child when he gets off track.
Strategi untuk kelas
1. Kelas aturan harus jelas dan ringkas dan ditinjau secara teratur dengan siswa. Hal ini membantu untuk memiliki anak ulangi kembali aturan, harapan atau petunjuk lain untuk memastikan bahwa mereka mengerti. Aturan-aturan ini harus dikirim mencolok di dalam kelas.
2. Membuat yakin siswa duduk dekat dengan guru dan jauh dari gangguan (dari pintu, jendela, cubby daerah, pensil Pengasah pisau, dll.).
3. Memberikan siswa sering dan segera umpan balik atau konsekuensi tentang perilaku.
4. Menangkap mahasiswa yang baik dan memberinya pujian langsung. Mengabaikan perilaku negatif yang minimal dan tidak mengganggu.
5. Menggunakan hadiah dan insentif sebelum hukuman untuk memotivasi siswa dan untuk membantu menjaga sekolah perasaan seperti tempat yang positif. Mengubah imbalan sering untuk membantu mencegah siswa menjadi bosan.
6. Memungkinkan siswa sering istirahat fisik untuk bergerak (untuk membagikan atau mengumpulkan bahan-bahan, menjalankan tugas untuk kantor atau daerah-daerah lain di gedung sekolah, menghapus papan, minum air di air mancur, dll.)
7. Memungkinkan beberapa kegelisahan di area kerja. Memungkinkan siswa untuk berdiri di meja jika itu membantu dia tetap pada tugas.
8. Tape kartu indeks untuk siswa meja dengan peraturan tertulis kelas. Membantunya melacak jadwal dengan meninjau dengannya pada berbagai waktu siang hari dan mempersiapkan setiap transisi.
9. Batas gangguan, kebisingan yang berlebihan, mengganggu rangsangan visual, kekacauan, dll (untuk beberapa anak dengan ADHD mendengarkan "white noise" atau musik latar belakang yang lembut dapat membantu konsentrasi dan fokus)
10. Mengurangi beban kerja total siswa. Menghancurkan pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
11. Memberikan ringkas satu atau dua langkah petunjuk. Menghindari "overloading" dengan terlalu banyak info.
12. Letakkan tangan pada siswa bahu, tangan atau lengan ketika berbicara dengan dia untuk membantu dia tetap fokus pada apa yang dikatakan.
13. Memungkinkan siswa untuk terus a kecil "koosh bola" atau konyol putty atau sesuatu sentuhan baginya untuk memanipulasi. Rangsangan ini sedikit sering membantu menjaga ADHD anak terfokus.
14. Jika sekolah memungkinkan, beberapa siswa mendapatkan keuntungan dari permen karet untuk melepaskan energi dan menjaga konsentrasi.
15. Jadwal mata pelajaran yang paling sulit di pagi hari ketika siswa (dan seluruh kelas) adalah lebih segar dan kurang letih.
16. Tidak menggunakan hilangnya reses sebagai konsekuensi bagi perilaku negatif. (ADHD anak-anak memperoleh manfaat dari gerakan fisik yang terjadi selama istirahat dan biasanya dapat fokus yang lebih baik setelah latihan ini)
17. Gunakan timer, direkam sinyal waktu atau verbal isyarat untuk menunjukkan berapa banyak waktu pelajar telah tersisa untuk aktivitas.
18. Memasangkan siswa dengan "teman belajar"- - jenis dan rekan kelas dewasa yang dapat membantu memberikan pengingat atau suatu anak ketika ia mendapat keluar jalur.
Bacaan tambahan:
18 Simple School Strategies for ADHD Children
http://add.about.com/od/childrenandteens/a/adhd-classroom.htm
By Keath Low, About.com Guide
Updated March 01, 2011
About.com Health's Disease and Condition content is reviewed by the Medical Review Board
Strategies for the Classroom
1. Classroom rules should be clear and concise and reviewed regularly with the student. It is helpful to have the child repeat back rules, expectations or other instructions to make sure they are understood. These rules should be posted prominently in the classroom.
2. Make sure the student is seated close to the teacher and away from distractions (away from doors, windows, cubby area, pencil sharpeners, etc.).
3. Give the student frequent and immediate feedback or consequences about behaviors.
4. Catch the student being good and give him immediate praise. Ignore negative behaviors that are minimal and not disruptive.
5. Use rewards and incentives before punishment to motivate the student and to help keep school feeling like a positive place. Change up the rewards frequently to help prevent the student from becoming bored.
6. Allow student frequent physical breaks to move around (to hand out or collect materials, run errands to the office or other areas in the school building, erase the board, get a drink of water at the water fountain, etc.)
7. Allow some restlessness at work area. Allow student to stand up at his desk if it helps him stay on task.
8. Tape an index card to the student’s desk with written class rules. Help him keep track of the schedule by reviewing it with him at various times during the day and prepare him for each transition.
9. Limit distractions, excessive noise, distracting visual stimuli, clutter, etc. (For some kids with ADHD listening to “white noise” or soft background music can help concentration and focus)
10. Reduce the student’s total work load. Break work down into smaller sections.
11. Give concise one or two step directions. Avoid “overloading” with too much info.
12. Place a hand on the student’s shoulder, hand or arm while talking to him in order to help him stay focused on what is said.
13. Allow the student to hold a small “koosh ball” or silly putty or something tactile for him to manipulate. This slight stimulation often helps keep an ADHD child focused.
14. If the school allows it, some students benefit from chewing gum to release energy and keep concentration.
15. Schedule the most difficult subjects in the morning time when the student (and the whole class) is more fresh and less fatigued.
16. Do not use loss of recess as a consequence for negative behavior. (ADHD kids benefit from the physical movement that occurs during recess and can usually focus better following this exercise)
17. Use timers, taped time signals, or verbal cues to show how much time the student has remaining for an activity.
18. Pair the student with a “study buddy” –- a kind and mature classroom peer who can help give reminders or refocus the child when he gets off track.
Strategi untuk kelas
1. Kelas aturan harus jelas dan ringkas dan ditinjau secara teratur dengan siswa. Hal ini membantu untuk memiliki anak ulangi kembali aturan, harapan atau petunjuk lain untuk memastikan bahwa mereka mengerti. Aturan-aturan ini harus dikirim mencolok di dalam kelas.
2. Membuat yakin siswa duduk dekat dengan guru dan jauh dari gangguan (dari pintu, jendela, cubby daerah, pensil Pengasah pisau, dll.).
3. Memberikan siswa sering dan segera umpan balik atau konsekuensi tentang perilaku.
4. Menangkap mahasiswa yang baik dan memberinya pujian langsung. Mengabaikan perilaku negatif yang minimal dan tidak mengganggu.
5. Menggunakan hadiah dan insentif sebelum hukuman untuk memotivasi siswa dan untuk membantu menjaga sekolah perasaan seperti tempat yang positif. Mengubah imbalan sering untuk membantu mencegah siswa menjadi bosan.
6. Memungkinkan siswa sering istirahat fisik untuk bergerak (untuk membagikan atau mengumpulkan bahan-bahan, menjalankan tugas untuk kantor atau daerah-daerah lain di gedung sekolah, menghapus papan, minum air di air mancur, dll.)
7. Memungkinkan beberapa kegelisahan di area kerja. Memungkinkan siswa untuk berdiri di meja jika itu membantu dia tetap pada tugas.
8. Tape kartu indeks untuk siswa meja dengan peraturan tertulis kelas. Membantunya melacak jadwal dengan meninjau dengannya pada berbagai waktu siang hari dan mempersiapkan setiap transisi.
9. Batas gangguan, kebisingan yang berlebihan, mengganggu rangsangan visual, kekacauan, dll (untuk beberapa anak dengan ADHD mendengarkan "white noise" atau musik latar belakang yang lembut dapat membantu konsentrasi dan fokus)
10. Mengurangi beban kerja total siswa. Menghancurkan pekerjaan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
11. Memberikan ringkas satu atau dua langkah petunjuk. Menghindari "overloading" dengan terlalu banyak info.
12. Letakkan tangan pada siswa bahu, tangan atau lengan ketika berbicara dengan dia untuk membantu dia tetap fokus pada apa yang dikatakan.
13. Memungkinkan siswa untuk terus a kecil "koosh bola" atau konyol putty atau sesuatu sentuhan baginya untuk memanipulasi. Rangsangan ini sedikit sering membantu menjaga ADHD anak terfokus.
14. Jika sekolah memungkinkan, beberapa siswa mendapatkan keuntungan dari permen karet untuk melepaskan energi dan menjaga konsentrasi.
15. Jadwal mata pelajaran yang paling sulit di pagi hari ketika siswa (dan seluruh kelas) adalah lebih segar dan kurang letih.
16. Tidak menggunakan hilangnya reses sebagai konsekuensi bagi perilaku negatif. (ADHD anak-anak memperoleh manfaat dari gerakan fisik yang terjadi selama istirahat dan biasanya dapat fokus yang lebih baik setelah latihan ini)
17. Gunakan timer, direkam sinyal waktu atau verbal isyarat untuk menunjukkan berapa banyak waktu pelajar telah tersisa untuk aktivitas.
18. Memasangkan siswa dengan "teman belajar"- - jenis dan rekan kelas dewasa yang dapat membantu memberikan pengingat atau suatu anak ketika ia mendapat keluar jalur.
Bacaan tambahan:
Schoolwork and ADHD
Schoolwork and ADHD
Martin L. Kutscher, MD.
Departments of Pediatrics and Neurology, New York Medical College, Valhalla, NY. © 2002
http://pediatricneurology.com/schoolrx.htm
May be reproduced for personal use
Common Sense ADHD School Accommodations
Any teacher can institute the following suggestions, even without formal student classification:
· Understanding Children with ADHD
· Learn about ADHD. Typically, teachers in the higher grades have a harder time “believing” in the condition. The older students no longer appear physically hyperactive. Organization and planning problems are frequently misinterpreted as lack of preparation and motivation.
· The chapter on “ADHD: The Tip of the Iceberg”[available at www.PediatricNeurology.com/ADHD.htm] can be provided as a good, quick introduction to ADHD. The school special education staff should also have materials for classroom teachers.
· Don't take the ADHD behaviors as personal challenges. The answer to the question "Why can't he listen to me like all of the other children?" is that he can't turn off his ADHD at will. It isn't personal.
· Take a realistic outlook at the child you get every day. Periodically, rate the ADHD behaviors using Dr. Phelan's brief checklist (1 means very little; 10 means a lot)
*
Inattentiveness _____
*
Impulsivity _____
*
Difficulty delaying gratification _____
*
Emotional overarousal _____
*
Hyperactivity ______
*
Non compliance _____
*
Social problems _____
*
Disorganization _____
This is your starting point. Not a typical child. This is what you can likely expect from him every day. Once teachers (and parents) accept this starting point (which I assure you the child does not exactly want, either), it is easier not to take everything so personally. Also, anger on the care-giver's part is reduced--since anger arises when there is greater discrepancy between what you expected versus what you got. The parents can also fill out the checklist, and discuss it with the teacher. They w
À Provide help for deficits at the moment it is needed, not negative feedback when it is already too late. Unfortunately, the simple reality is that punishment does not usually teach the needed behaviors. This is because many children with ADHD have difficulty ôdoing what they know,ö not ôknowing what to do.ö They already ôknow,ö for example, that they should come to class prepared. Once we understand that punishment has not been working, we are ready to provide relief for their disabilities b
· Presenting Material to ADHD Children
· Have child sit in the front of the class.
· Establish good eye contact.
· Tap on the desk (or use other code) to bring the child back into focus.
· Alert child’s attention with phrases such as “This is important.”
· Break down longer directions into simpler chunks.
· Check for comprehension.
· Encourage students to underline the key words of directions.
· Encourage students to mark incorrect multiple-choice answers with an “x” first. This allows them to “get started” quickly, while forcing them to read all of the choices before making a final selection.
· Allow physically hyperactive children out of their seats to hand out and pick up papers, etc.
· Organizational Help
· Recognize that disorganization is a major disability for almost everyone with ADHD. In fact, it is difficult to diagnose ADHD in the absence of organizational problems. Yes, ADHD students can--and frequently do--write a wonderful paper and then forget to hand it in. This striking unevenness in skills is what makes it a learning disability.
· Ensure that parents and child all know the correct assignment. Yes, most students can take this responsibility upon themselves. Those with ADHD, though, usually cannot. It is unfair and counter-productive to let intelligent students flounder because of this disability. Once informed of the needed work, the child is still responsible to work (with his/her parents) to get it done. The following options can be used. This part will take work, especially to keep the system going:
· Inform about typical routines (such as vocabulary quizzes on Fridays).
· Hand out written assignments for the week; or,
· Initial student’s homework assignment pads after each period. Please do not expect the student to come up after class for the signature on their own. If they were organized enough to do that, we would not need to be doing this. And, yes, the typical student is organized enough to come to the teacher; but this is not the typical student.
· Notify family immediately of any late assignments by one of following. Waiting for mid-term notices is too late to correct the problem, and too late for the student to behaviorally notice the connection between his/her performance and the consequences.
· A phone call takes the child out of the loop, and works best.
· The parent could call the team leader each week for an update.
· The parent could mail weekly a card to each teacher. The card would simply have spaces for missed work and comments, and is dropped back into the mail.
À Allow for expedient make up of late or incorrectly done homework. If deduction for lateness actually works to correct the problem, then keep doing it; if not, recognize the problem as a currently uncorrectable disability. In such a case, the work does need to be completed, but is not fair for a persistent organizational disability to cause excessive and demoralizing deductions. If, for some reason, it is necessary to give an ôFö for incomplete work, remember that an F is 65, not 0. Trying to g
· Simple accommodations for other frequently associated problems
· Dysgraphia (hand writing problems)
· Use of a computer.
· Graph paper helps line up math problems.
· Provide a copy of class notes, or arrange for peer to make carbon copy.
· Minimize deductions for neatness and spelling. Instead, give extra points for neatness.
· Dyscalculia (math problems)
· Liberal use of a calculator.
· Consider doing every other problem if homework takes too long.
“Section 504” Accommodations
· Section 504 of the Vocational Rehabilitation Act (Public Law 93-112) is a Federal civil rights law which aims at eliminating discrimination in any program that receives federal funds (including most all US schools and colleges).
· By 504 definition, the disability:
· can be physical or mental;
· must substantially limit one or more “life activities” such as learning, performing manual tasks, care for oneself, speaking, hearing, or walking.
· Parents or the school may initiate a 504 evaluation.
· Classification under Section 504 will typically require a school meeting, but less formal psychological and educational testing than classification under IDEA (see below.)
· A written plan for 504 accommodations is not mandated, but certainly makes sense. It should be periodically revised (yearly).
· 504 “accommodations” may be “easier” to obtain as they generally mandate accommodations more than costly special services.
· Accommodations like those listed above under “common sense” can be mandated via Federal Law Section 504 if needed.
· Untimed tests, including SATs, may require 504 classification.
IDEA Classification
· The Individuals with Disabilities Act (IDEA, Part B) of 1990 provides federal funding to schools which guarantee special needs students with appropriate rights and services, including:
· A free appropriate public education. If unable to provide an “appropriate” public education, the school must pay for alternate education.
· IDEA classifiable conditions include:
· Specific Learning Disability (LD),
· Emotional and Behavioral Disorder (ED)
· Other Health Impaired (OHI)
· The US DOE (Dept. of Education) memo of 1991 includes ADHD as a classifying condition under OHI.
· Parents must be full partners in the process of developing an Individualized Education Plan (IEP). If nothing else, parents certainly know what has not worked so far.
· The school has the right to decide what evaluation is needed.
· The parents may request an independent evaluation if they disagree with the school’s evaluation.
· IDEA classification evaluations and provided services are usually more comprehensive than 504 plans.
· Detailed information can be found through the National Information Center for Children and Youth with Disabilities at www.nichcy.org.
· There is annual updating of the IEP, with full re-evaluation every three years. The parents may request review and revision of the IEP at any time.
[For more on educational rights, see links on our developmental disability page.]
Click for ADHD school accommodations or ADHD: 101 Tips for Teachers. See more specific school modifications for children with ADD, LD as part of Tourette's syndrome.
Sekolah dan ADHD
Martin L. Kutscher, MD.
Departemen Pediatri dan Neurology, New York Medical College, Valhalla, NY. © 2002
(LIHAT KANTOR KAMI DI NY DAN NJ)
Mungkin direproduksi untuk penggunaan pribadi
Common Sense ADHD sekolah akomodasi
Setiap guru dapat Institut saran berikut, bahkan tanpa klasifikasi resmi mahasiswa:
· Pemahaman anak-anak dengan ADHD
· Belajar tentang ADHD. Biasanya, guru dalam nilai-nilai yang lebih tinggi memiliki waktu sulit "percaya" dalam kondisi. Siswa yang lebih tua tidak lagi muncul secara fisik hiperaktif. Organisasi dan perencanaan masalah sering disalahartikan sebagai kurangnya persiapan dan motivasi.
· Bab pada "ADHD: The puncak gunung es" [tersedia di www.PediatricNeurology.com/ADHD.htm] dapat disediakan sebagai pengenalan yang baik, cepat untuk ADHD. Staf pendidikan khusus sekolah juga harus memiliki bahan-bahan untuk kelas guru.
· Jangan mengambil perilaku ADHD sebagai tantangan pribadi. Jawaban untuk pertanyaan "Mengapa tidak ia mendengarkan saya suka semua anak-anak lain?" adalah bahwa ia tidak dapat mematikan ADHD di akan. Ini bukan pribadi.
· Mengambil pandangan yang realistis pada anak Anda dapatkan setiap hari. Secara periodik, menilai perilaku ADHD menggunakan daftar periksa singkat Dr Phelan (1 berarti sangat sedikit; 10 berarti banyak)
*
Inattentiveness _____
*
Impulsif _____
*
Kesulitan menunda kepuasan _____
*
Overarousal emosional _____
*
Hiperaktif ______
*
Kepatuhan non _____
*
Masalah-masalah sosial _____
*
Disorganisasi _____
Ini adalah titik awal. Tidak seorang anak yang khas. Ini adalah apa yang Anda dapat kemungkinan harapkan dari dia setiap hari. Setelah guru (dan orangtua) menerima ini mulai titik (yang saya meyakinkan Anda bahwa anak tidak inginkan, baik), lebih mudah untuk tidak mengambil segala sesuatu secara pribadi. Juga, kemarahan pada perawatan pemberi bagian dikurangi--karena kemarahan muncul ketika ada perbedaan besar antara apa yang Anda harapkan versus apa yang Anda punya. Orang tua juga dapat mengisi daftar, da
· Menyediakan bantuan bagi defisit pada saat dibutuhkan, tidak tanggapan negatif ketika itu sudah terlambat. Sayangnya, kenyataannya sederhana adalah bahwa hukuman tidak biasanya mengajarkan perilaku yang diperlukan. Hal ini karena banyak anak-anak dengan ADHD mengalami kesulitan "melakukan apa yang mereka tahu," tidak "tahu apa yang harus dilakukan." Mereka sudah "tahu," misalnya, bahwa mereka harus datang ke kelas siap. Setelah kita memahami bahwa hukuman telah tidak bekerja, kami siap untuk memberikan b
· Menyajikan bahan untuk ADHD anak-anak
· Memiliki anak yang duduk di depan kelas.
· Membuat kontak mata yang baik.
· Tekan pada meja (atau menggunakan kode lainnya) untuk membawa anak kembali ke dalam fokus.
· Mengingatkan anak perhatian dengan ungkapan-ungkapan seperti "Ini penting."
· Memecah lagi arah ke dalam potongan sederhana.
· Periksa pemahaman.
· Mendorong siswa untuk menggarisbawahi kata-kata kunci arah.
· Mendorong siswa untuk menandai salah jawaban multiple-choice dengan "x" pertama. Hal ini memungkinkan mereka untuk "memulai" cepat, sementara memaksa mereka untuk membaca semua pilihan sebelum membuat seleksi akhir.
· Biarkan anak-anak secara fisik hiperaktif keluar dari tempat duduk mereka untuk tangan dan mengambil kertas, dll.
· Organisasi bantuan
· Menyadari bahwa kekacauan adalah cacat besar untuk hampir semua orang dengan ADHD. Pada kenyataannya, sangat sulit untuk mendiagnosis ADHD tidak adanya masalah organisasi. Ya, ADHD siswa dapat - dan sering - menulis indah kertas dan kemudian lupa untuk tangan dalam. Unevenness ini mencolok dalam keterampilan adalah apa yang membuatnya ketidakmampuan belajar.
· Memastikan bahwa orangtua dan anak semua tahu benar penugasan. Ya, kebanyakan siswa dapat mengambil tanggung-jawab ini pada diri mereka sendiri. Orang-orang dengan ADHD, meskipun, biasanya tidak. Ini tidak adil dan kontra-produktif untuk membiarkan cerdas mahasiswa flounder karena dari cacat ini. Setelah diberitahu tentang pekerjaan yang diperlukan, anak masih bertanggung jawab untuk bekerja (dengan orang tua /) untuk menyelesaikannya. Opsi berikut dapat digunakan. Bagian ini akan mengambil kerja, teruta
· Menginformasikan tentang khas rutinitas (seperti kosakata kuis pada hari Jumat).
· Membagikan tugas tertulis untuk minggu; atau,
· Awal bantalan tugas pekerjaan rumah siswa setelah setiap periode. Tolong jangan mengharapkan siswa untuk datang setelah kelas untuk tanda tangan mereka sendiri. Jika mereka yang terorganisir cukup untuk melakukan itu, kita tidak perlu melakukan hal ini. Dan, ya, mahasiswa khas terorganisir cukup untuk datang ke guru; Tapi ini bukan typica
Martin L. Kutscher, MD.
Departments of Pediatrics and Neurology, New York Medical College, Valhalla, NY. © 2002
http://pediatricneurology.com/schoolrx.htm
May be reproduced for personal use
Common Sense ADHD School Accommodations
Any teacher can institute the following suggestions, even without formal student classification:
· Understanding Children with ADHD
· Learn about ADHD. Typically, teachers in the higher grades have a harder time “believing” in the condition. The older students no longer appear physically hyperactive. Organization and planning problems are frequently misinterpreted as lack of preparation and motivation.
· The chapter on “ADHD: The Tip of the Iceberg”[available at www.PediatricNeurology.com/ADHD.htm] can be provided as a good, quick introduction to ADHD. The school special education staff should also have materials for classroom teachers.
· Don't take the ADHD behaviors as personal challenges. The answer to the question "Why can't he listen to me like all of the other children?" is that he can't turn off his ADHD at will. It isn't personal.
· Take a realistic outlook at the child you get every day. Periodically, rate the ADHD behaviors using Dr. Phelan's brief checklist (1 means very little; 10 means a lot)
*
Inattentiveness _____
*
Impulsivity _____
*
Difficulty delaying gratification _____
*
Emotional overarousal _____
*
Hyperactivity ______
*
Non compliance _____
*
Social problems _____
*
Disorganization _____
This is your starting point. Not a typical child. This is what you can likely expect from him every day. Once teachers (and parents) accept this starting point (which I assure you the child does not exactly want, either), it is easier not to take everything so personally. Also, anger on the care-giver's part is reduced--since anger arises when there is greater discrepancy between what you expected versus what you got. The parents can also fill out the checklist, and discuss it with the teacher. They w
À Provide help for deficits at the moment it is needed, not negative feedback when it is already too late. Unfortunately, the simple reality is that punishment does not usually teach the needed behaviors. This is because many children with ADHD have difficulty ôdoing what they know,ö not ôknowing what to do.ö They already ôknow,ö for example, that they should come to class prepared. Once we understand that punishment has not been working, we are ready to provide relief for their disabilities b
· Presenting Material to ADHD Children
· Have child sit in the front of the class.
· Establish good eye contact.
· Tap on the desk (or use other code) to bring the child back into focus.
· Alert child’s attention with phrases such as “This is important.”
· Break down longer directions into simpler chunks.
· Check for comprehension.
· Encourage students to underline the key words of directions.
· Encourage students to mark incorrect multiple-choice answers with an “x” first. This allows them to “get started” quickly, while forcing them to read all of the choices before making a final selection.
· Allow physically hyperactive children out of their seats to hand out and pick up papers, etc.
· Organizational Help
· Recognize that disorganization is a major disability for almost everyone with ADHD. In fact, it is difficult to diagnose ADHD in the absence of organizational problems. Yes, ADHD students can--and frequently do--write a wonderful paper and then forget to hand it in. This striking unevenness in skills is what makes it a learning disability.
· Ensure that parents and child all know the correct assignment. Yes, most students can take this responsibility upon themselves. Those with ADHD, though, usually cannot. It is unfair and counter-productive to let intelligent students flounder because of this disability. Once informed of the needed work, the child is still responsible to work (with his/her parents) to get it done. The following options can be used. This part will take work, especially to keep the system going:
· Inform about typical routines (such as vocabulary quizzes on Fridays).
· Hand out written assignments for the week; or,
· Initial student’s homework assignment pads after each period. Please do not expect the student to come up after class for the signature on their own. If they were organized enough to do that, we would not need to be doing this. And, yes, the typical student is organized enough to come to the teacher; but this is not the typical student.
· Notify family immediately of any late assignments by one of following. Waiting for mid-term notices is too late to correct the problem, and too late for the student to behaviorally notice the connection between his/her performance and the consequences.
· A phone call takes the child out of the loop, and works best.
· The parent could call the team leader each week for an update.
· The parent could mail weekly a card to each teacher. The card would simply have spaces for missed work and comments, and is dropped back into the mail.
À Allow for expedient make up of late or incorrectly done homework. If deduction for lateness actually works to correct the problem, then keep doing it; if not, recognize the problem as a currently uncorrectable disability. In such a case, the work does need to be completed, but is not fair for a persistent organizational disability to cause excessive and demoralizing deductions. If, for some reason, it is necessary to give an ôFö for incomplete work, remember that an F is 65, not 0. Trying to g
· Simple accommodations for other frequently associated problems
· Dysgraphia (hand writing problems)
· Use of a computer.
· Graph paper helps line up math problems.
· Provide a copy of class notes, or arrange for peer to make carbon copy.
· Minimize deductions for neatness and spelling. Instead, give extra points for neatness.
· Dyscalculia (math problems)
· Liberal use of a calculator.
· Consider doing every other problem if homework takes too long.
“Section 504” Accommodations
· Section 504 of the Vocational Rehabilitation Act (Public Law 93-112) is a Federal civil rights law which aims at eliminating discrimination in any program that receives federal funds (including most all US schools and colleges).
· By 504 definition, the disability:
· can be physical or mental;
· must substantially limit one or more “life activities” such as learning, performing manual tasks, care for oneself, speaking, hearing, or walking.
· Parents or the school may initiate a 504 evaluation.
· Classification under Section 504 will typically require a school meeting, but less formal psychological and educational testing than classification under IDEA (see below.)
· A written plan for 504 accommodations is not mandated, but certainly makes sense. It should be periodically revised (yearly).
· 504 “accommodations” may be “easier” to obtain as they generally mandate accommodations more than costly special services.
· Accommodations like those listed above under “common sense” can be mandated via Federal Law Section 504 if needed.
· Untimed tests, including SATs, may require 504 classification.
IDEA Classification
· The Individuals with Disabilities Act (IDEA, Part B) of 1990 provides federal funding to schools which guarantee special needs students with appropriate rights and services, including:
· A free appropriate public education. If unable to provide an “appropriate” public education, the school must pay for alternate education.
· IDEA classifiable conditions include:
· Specific Learning Disability (LD),
· Emotional and Behavioral Disorder (ED)
· Other Health Impaired (OHI)
· The US DOE (Dept. of Education) memo of 1991 includes ADHD as a classifying condition under OHI.
· Parents must be full partners in the process of developing an Individualized Education Plan (IEP). If nothing else, parents certainly know what has not worked so far.
· The school has the right to decide what evaluation is needed.
· The parents may request an independent evaluation if they disagree with the school’s evaluation.
· IDEA classification evaluations and provided services are usually more comprehensive than 504 plans.
· Detailed information can be found through the National Information Center for Children and Youth with Disabilities at www.nichcy.org.
· There is annual updating of the IEP, with full re-evaluation every three years. The parents may request review and revision of the IEP at any time.
[For more on educational rights, see links on our developmental disability page.]
Click for ADHD school accommodations or ADHD: 101 Tips for Teachers. See more specific school modifications for children with ADD, LD as part of Tourette's syndrome.
Sekolah dan ADHD
Martin L. Kutscher, MD.
Departemen Pediatri dan Neurology, New York Medical College, Valhalla, NY. © 2002
(LIHAT KANTOR KAMI DI NY DAN NJ)
Mungkin direproduksi untuk penggunaan pribadi
Common Sense ADHD sekolah akomodasi
Setiap guru dapat Institut saran berikut, bahkan tanpa klasifikasi resmi mahasiswa:
· Pemahaman anak-anak dengan ADHD
· Belajar tentang ADHD. Biasanya, guru dalam nilai-nilai yang lebih tinggi memiliki waktu sulit "percaya" dalam kondisi. Siswa yang lebih tua tidak lagi muncul secara fisik hiperaktif. Organisasi dan perencanaan masalah sering disalahartikan sebagai kurangnya persiapan dan motivasi.
· Bab pada "ADHD: The puncak gunung es" [tersedia di www.PediatricNeurology.com/ADHD.htm] dapat disediakan sebagai pengenalan yang baik, cepat untuk ADHD. Staf pendidikan khusus sekolah juga harus memiliki bahan-bahan untuk kelas guru.
· Jangan mengambil perilaku ADHD sebagai tantangan pribadi. Jawaban untuk pertanyaan "Mengapa tidak ia mendengarkan saya suka semua anak-anak lain?" adalah bahwa ia tidak dapat mematikan ADHD di akan. Ini bukan pribadi.
· Mengambil pandangan yang realistis pada anak Anda dapatkan setiap hari. Secara periodik, menilai perilaku ADHD menggunakan daftar periksa singkat Dr Phelan (1 berarti sangat sedikit; 10 berarti banyak)
*
Inattentiveness _____
*
Impulsif _____
*
Kesulitan menunda kepuasan _____
*
Overarousal emosional _____
*
Hiperaktif ______
*
Kepatuhan non _____
*
Masalah-masalah sosial _____
*
Disorganisasi _____
Ini adalah titik awal. Tidak seorang anak yang khas. Ini adalah apa yang Anda dapat kemungkinan harapkan dari dia setiap hari. Setelah guru (dan orangtua) menerima ini mulai titik (yang saya meyakinkan Anda bahwa anak tidak inginkan, baik), lebih mudah untuk tidak mengambil segala sesuatu secara pribadi. Juga, kemarahan pada perawatan pemberi bagian dikurangi--karena kemarahan muncul ketika ada perbedaan besar antara apa yang Anda harapkan versus apa yang Anda punya. Orang tua juga dapat mengisi daftar, da
· Menyediakan bantuan bagi defisit pada saat dibutuhkan, tidak tanggapan negatif ketika itu sudah terlambat. Sayangnya, kenyataannya sederhana adalah bahwa hukuman tidak biasanya mengajarkan perilaku yang diperlukan. Hal ini karena banyak anak-anak dengan ADHD mengalami kesulitan "melakukan apa yang mereka tahu," tidak "tahu apa yang harus dilakukan." Mereka sudah "tahu," misalnya, bahwa mereka harus datang ke kelas siap. Setelah kita memahami bahwa hukuman telah tidak bekerja, kami siap untuk memberikan b
· Menyajikan bahan untuk ADHD anak-anak
· Memiliki anak yang duduk di depan kelas.
· Membuat kontak mata yang baik.
· Tekan pada meja (atau menggunakan kode lainnya) untuk membawa anak kembali ke dalam fokus.
· Mengingatkan anak perhatian dengan ungkapan-ungkapan seperti "Ini penting."
· Memecah lagi arah ke dalam potongan sederhana.
· Periksa pemahaman.
· Mendorong siswa untuk menggarisbawahi kata-kata kunci arah.
· Mendorong siswa untuk menandai salah jawaban multiple-choice dengan "x" pertama. Hal ini memungkinkan mereka untuk "memulai" cepat, sementara memaksa mereka untuk membaca semua pilihan sebelum membuat seleksi akhir.
· Biarkan anak-anak secara fisik hiperaktif keluar dari tempat duduk mereka untuk tangan dan mengambil kertas, dll.
· Organisasi bantuan
· Menyadari bahwa kekacauan adalah cacat besar untuk hampir semua orang dengan ADHD. Pada kenyataannya, sangat sulit untuk mendiagnosis ADHD tidak adanya masalah organisasi. Ya, ADHD siswa dapat - dan sering - menulis indah kertas dan kemudian lupa untuk tangan dalam. Unevenness ini mencolok dalam keterampilan adalah apa yang membuatnya ketidakmampuan belajar.
· Memastikan bahwa orangtua dan anak semua tahu benar penugasan. Ya, kebanyakan siswa dapat mengambil tanggung-jawab ini pada diri mereka sendiri. Orang-orang dengan ADHD, meskipun, biasanya tidak. Ini tidak adil dan kontra-produktif untuk membiarkan cerdas mahasiswa flounder karena dari cacat ini. Setelah diberitahu tentang pekerjaan yang diperlukan, anak masih bertanggung jawab untuk bekerja (dengan orang tua /) untuk menyelesaikannya. Opsi berikut dapat digunakan. Bagian ini akan mengambil kerja, teruta
· Menginformasikan tentang khas rutinitas (seperti kosakata kuis pada hari Jumat).
· Membagikan tugas tertulis untuk minggu; atau,
· Awal bantalan tugas pekerjaan rumah siswa setelah setiap periode. Tolong jangan mengharapkan siswa untuk datang setelah kelas untuk tanda tangan mereka sendiri. Jika mereka yang terorganisir cukup untuk melakukan itu, kita tidak perlu melakukan hal ini. Dan, ya, mahasiswa khas terorganisir cukup untuk datang ke guru; Tapi ini bukan typica
Langganan:
Postingan (Atom)