Homeschooling" Itu...
Indra Akuntono | Inggried | Kamis, 11 Agustus 2011 | 09:09 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/11/09090091/Homeschooling.Itu.
|
Share:
Dok. Keluarga Sumardiyono Aktivitas putra Aar dan Lala yang menjalani pendidikan di rumah alias homeschooling.
TERKAIT:
Tips Sukses "Homeschooling"
"Homeschooling", Hanya Soal Pilihan
Mengenal Metode-metode "Homeschooling"
Sekelumit Cerita dari Keluarga "Homeschooling"
Pilih "Homeschooling"? Harus Jelas Motifnya!
JAKARTA, KOMPAS.com - Apa yang Anda pahami tentang homeschooling, home education, atau sekolah rumah? Pasti akan banyak penafsiran yang muncul. Homeschooling memiliki banyak model dalam penerapannya. Sebut saja, schooling at home yang memindahkan bentuk sekolah ke rumah. Model ini lengkap dengan kelasnya, laboraturium kecil sampai dengan memanggil tenaga khusus untuk mengajari anak-anak.
Yang terpenting orangtua harus tahu homeschooling ini untuk apa. Karena persiapannya lebih kepada mental.
Selanjutnya adalah model homeschooling seperti bimbingan belajar. Model ini boleh saja diterapkan dan tidak salah. Namun, metode yang dinilai paling efektif untuk diterapkan dalam homeschooling adalah model unschooling karena merupakan modifikasi dari model school at home dan bimbingan belajar. Melalui homeschooling model ini, maka anak-anak akan benar-benar terwadahi untuk tumbuh secara natural.
"Jadi, bukan anak tumbuh dengan suka-suka. Tetapi, kemudian ia belajar bersama dengan pertumbuhan minat dan bakatnya," kata Sumardiono, seorang ayah tiga anak, yang telah menerapkan homeschooling, Selasa (9/8/2011), kepada Kompas.com, di Jakarta.
Pria yang akrab disapa Aar ini menambahkan, keluarga yang menerapkan homeschooling juga bisa dibagi dua. Mereka yang menerapkan homeschooling mulai dari usia sekolah dan mereka yang menerapkan homeschooling setelah ada masalah di sekolah, seperti bullying atau alasan lainnya.
Dua jenis homeschooling itu sangat berbeda pendekatannya, cara pandang dan karaktrernya.
"Yang terpenting orangtua harus tahu homeschooling ini untuk apa. Karena persiapannya lebih kepada mental," ujarnya.
Menurut Aar, anak-anak yang sejak kecil belajar melalui homeschooling, tidak akan mengenal dunia sekolah formal. Ketika TK, sambungnya, mereka terbiasa bermain dan saat memasuki SD konteksnya menjadi berubah. Anak-anak cenderung menjadi terkekang karena tidak bisa lepas bertanya, dan membuat mereka menjadi kurang aktif. Secara tidak sadar, pendidikan sekolah formal menggiring anak-anak menjadi semakin pasif.
Lain halnya ketika anak-anak yang bersekolah di sekolah formal terpaksa mengikuti homeschooling karena mempunyai masalah di sekolah.
"Biasanya ada proses transisi. Anak-anak menjadi liar dan bingung, karena sebelumnya mereka terpaku oleh jam belajar," jelasnya.
Bagi Aar, sekolah formal membuat waktu belajar dan waktu bermain menjadi terpisah. Selepas waktu sekolah, anak-anak cenderung tidak suka belajar. Tetapi, anak-anak yang sudah menjalani homeschooling sejak kecil tetap akan tumbuh semangat belajarnya, karena waktu bermain dan waktu belajar mereka tidak pernah dipisahkan. Selain itu, karena dibiarkan tumbuh natural, anak-anak homeschooling lebih berani bertanya dan lebih eksploratif.
"Mereka bisa belajar kapan saja, pagi maupun sore, bahkan sampai malam dan pada hari Minggu, anak-anak homeschooling enggak ada masalah untuk belajar, karena sama-sama menyenangkan dengan bermain," ungkapnya.
Kamis, 11 Agustus 2011
Menunggu Pemerintah Ramah "Homeschooling"
Sekolah Rumah
Menunggu Pemerintah Ramah "Homeschooling"
Indra Akuntono | Inggried | Kamis, 11 Agustus 2011 | 09:46 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/11/09463770/Pemerintah.Diharap.Permudah.Homeschooling
Komentar: 2
Share:
Dok. Keluarga Sumardiyono Tata, putri keluarga Sumardiyono menjalani pendidikan di rumah alias homeschooling
TERKAIT:
Bagaimana Memilih Kurikulum "Homeschooling"?
"Homeschooling" Itu...
Tips Sukses "Homeschooling"
"Homeschooling", Hanya Soal Pilihan
Mengenal Metode-metode "Homeschooling"
JAKARTA, KOMPAS.com - Apa alasan banyak keluarga memilih menerapkan homeschooling bagi anak-anaknya? 1001 alasan yang terungkap. Banyak yang menilai, homeschooling merupakan wujud kekecewaan masyarakat terhadap sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah formal. Alasan itu tak sepenuhnya benar. Ada pula orangtua yang menerapkan homeschooling karena alasan tertentu. Salah satunya Sumardiono (Aar), ayah yang sudah 10 tahun menerapkan homeschooling kepada ketiga anaknya.
Kementerian Pendidikan Nasional Kemdiknas karena kurang mengakomodir para keluarga homeschooling.
Aar mengungkapkan, homeschooling diterapkannya bukan karena kecewa terhadap sekolah formal. Tetapi, ia menginginkan agar minat dan bakat anak-anaknya bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal.
Saya menerapkan homeschooling kepada anak-anak supaya mereka bisa bebas mengeksplorasi dirinya. Kita tidak dalam posisi menilai, tapi kita ingin pendidikan dapat berkembang. Apalagi, sejatinya anak-anak itu sepenuhnya tanggungjawab orangtua," kata Aar, Selasa (9/8/2011), kepada Kompas.com, di Jakarta.
Namun, ia mengakui ada keprihatinan terhadap pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) karena kurang mengakomodir para keluarga homeschooling. Bahkan, menurutnya, saat ini Kemdiknas cenderung mempersulit anak-anak homeschooling.
Penilaian itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, meski tidak ada masalah terkait legalitas homeschooling, tetapi mulai tahun ini ada persyaratan bahwa anak-anak homeschooling harus mempunyai rapor untuk mengikuti ujian paket A, B maupun ujian paket C. Padahal sebelumnya, tidak ada persyaratan seperti itu.
Menurut saya itu kemunduran, karena jika kemudian anak-anak homeschooling ini harus mendaftar lagi ke suatu komunitas belajar, itu memerlukan biaya lagi. Padahal, dampak sosial terbesar dari homeschooling adalah memangkas biaya pendidikan," ujarnya.
Menurut Aar, ada beberapa hal yang memicu kemunduran itu. Salah satunya disebabkan oleh prasyarat kelulusan Uujian Nasional (UN) yang memasukkan 40 persen nilai rapor untuk menentukan kelulusannya. Hal ini, dinilainya, mencerminkan Kemdiknas yang meragukan proses belajar anak-anak dalam homeschooling.
Padahal, menurut Aar, pemerintah tidak perlu mensyaratkan rapor untuk mengambil ijazah ujian paket A, B maupun ujian paket C. Jika memang harus ada yang diperbaiki, menurutnya adalah proses ujiannya agar lebih bersih dan lebih baik, sehingga tidak terjadi lagi kebocoran dan kecurangan pada saat ujian.
Kalau perlu, uji saja anak-anak homeschooling. Jika gagal, biarkan mereka mencoba lagi di tahun berikutnya. Tapi jangan persyaratkan mereka menyertakan rapor. Karena itu memaksa kita untuk mendaftar pada komunitas belajar, perlu biaya, dan akhirnya akan menghilangkan esensi alternatif dalam homeschooling," papar Aar.
Kata Dewi Hughes soal "Homeschooling"
Duta PAUDNI
Kata Dewi Hughes soal "Homeschooling"
Indra Akuntono | Inggried | Kamis, 11 Agustus 2011 | 10:25 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/11/10254086/Kata.Dewi.Hughes.soal.Homeschooling
Share:
Josephus Primus Dewi Hughes, salah satu "Dewi" yang didapuk menjadi Duta Pendidikan Anak Indonesia oleh Kemdiknas.
Menunggu Pemerintah Ramah "Homeschooling"
Bagaimana Memilih Kurikulum "Homeschooling"?
"Homeschooling" Itu...
Tips Sukses "Homeschooling"
"Homeschooling", Hanya Soal Pilihan
JAKARTA, KOMPAS.com – Duta Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (PAUDNI), Dewi Hughes mengatakan, setiap anak memerlukan layanan pendidikan yang berbeda. Homeschooling atau sekolah rumah, menurut dia, bisa menjadi pilihan yang menampung berbagai sifat anak yang unik. Bukan hanya unik secara psikis dan fisik, tetapi juga unik karena berasal dari berbagai macam latar belakang budaya dan pola pikir orangtuanya.
Sistem pendidikan kita menyamaratakan semuanya. Nah, homeschooling itu ibarat desainer yang merancang busana. Tidak hanya trendi, tetapi juga sesuai dengan apa yang diperlukan.
Ia mengungkapkan, meski berada di luar sistem pendidikan nasional, homeschooling merupakan pendidikan kesetaraan dengan legalitas yang sama, tetapi lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
“Sistem pendidikan kita menyamaratakan semuanya. Pola pikir anak dari berbagai macam latar belakang disatukan dalam satu ruang kelas. Nah, homeschooling itu ibarat desainer yang merancang busana. Tidak hanya trendi, tetapi juga sesuai dengan apa yang diperlukan. Homeschooling adalah pendidikan alternatif yang saya sambut positif,” kata Hughes kepada Kompas.com, beberapa hari lalu.
Hughes melanjutkan, homeschooling bisa juga dikatakan sebagai sarana pendidikan yang unik karena mampu menyesuaikan berbagai perbedaan. Ia mencontohkan, sama halnya dengan pendidikan di pesantren yang menggunakan sistem kesetaraan. Entah dalam sistem pendidikan religi atau perkembangan model-model yang lainnya. Jika diamati, menurut Hughes, pola homeschooling juga ada dalam lingkungan pesantren.
Kategori homeschooling
Hughes sendiri berpendapat, ada tiga kategori homeschooling. Pertama, homeschooling tunggal, dimana suatu keluarga tinggal di lokasi yang sulit mendapatkan akses pendidikan formal. Misalnya, di kawasan kaki gunung atau di tengah hutan belantara.
“Misalnya masyarakat Baduy, tanpa mereka sadari itu juga salah satu bentuk homeschooling dengan pola yang sangat kekeluargaan. Dimana para orangtua mengajarkan cara bercocok tanam, cara hidup akur berdampingan, dan bagaimana cara mereka menghormati warisan leluhur,” jelasnya.
Kedua, homeschooling majemuk, dimana para orangtua mengundang tenaga pengajar yang ahli untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak-anaknya. Kategori ini biasanya lebih tren digunakan oleh masyarakat kota, dimana orangtua tidak memiliki cukup waktu karena terlalu sibuk bekerja atau pun karena orangtuanya tidak merasa percaya diri dengan kemampuan mereka untuk mengajar anaknya di homeschooling. Ketiga, homeschooling asosiasi, dimana jenis ini memayungi dua jenis homeschooling lainnya. Para orangtua diberik
“Misalnya si anak punya penyakit tertentu, sejatinya orangtua lebih mengetahui dan bisa lebih mengerti apa saja yang diperlukan oleh anak-anaknya. Karena anak-anak itu subjek, bukan objek,” terang Hughes.
Mengenai metodenya, Hughes menilai tidak ada metode dalam dunia pendidikan yang benar-benar absolut, dan tidak ada metode yang salah. “Itu seperti kita memperdebatkan metode apa yang paling efektif untuk perkuliahan. Apakah itu wawancara, diskusi atau lainnya,” tegasnya.
Homeschooling mahal?
Menurut Hughes, pada awalya masyarakat memang kebingungan dengan arti dari homeschooling. Selain itu, homeschooling juga kerap dicap sebagai pendidikan alternatif yang sangat mahal. Padahal, homeschooling itu sendiri adalah sebuah pendidikan kesetaraan yang pada awalnya justru diberikan secara gratis. Homeschooling, katanya, hanya sebuah nama dan bukan sekadar sekolah di rumah.
“Lucunya orang kita suka enggak mau kalo sekolah di tempat yang gratis karena tidak bergengsi dan terlanjur underestimate. Sehingga sejak 2007 lalu saya diminta oleh Kementerian Pendidikan Nasional untuk membantu menyosialisasikan homeschooling sebagai pendidikan kesetaraan. Saya coba untuk membuka cakrawala dan wawasan masyarakat mengenai homeschooling,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Hughes, pemikiran bahwa homeschooling mahal harus diubah. Tidak harus menyiapkan laboratorium mahal di rumah.
“Homeschooling saya rasa jauh lebih murah, karena tidak perlu ongkos untuk menuju ke sekolah, tidak ada biaya seragam, bisa menekan angka kenakalan remaja dan bullying, serta buku-buku pendukungnya juga bisa diakses melalui internet,” ujarnya.
Mendiknas: "Homeschooling" Itu Lebih Baik
Mendiknas: "Homeschooling" Itu Lebih Baik
Indra Akuntono | Inggried | Kamis, 11 Agustus 2011 | 10:58 WIB
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/11/10585711/Mendiknas.Homeschooling.Itu.Lebih.Baik
Kata Dewi Hughes soal "Homeschooling"
Pemerintah Diharap Permudah "Homeschooling"
Bagaimana Memilih Kurikulum "Homeschooling"?
"Homeschooling" Itu...
Tips Sukses "Homeschooling"
BOGOR, KOMPAS.com – Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh mengatakan, ada beberapa metode untuk pembelajaran di luar sekolah formal. Pada kasus-kasus tertentu metode pembelajaran bisa juga dilakukan di luar sekolah baik itu dalam bentuk parenting, homeschooling maupun metode pembelajaran lainnya. Menurut Nuh, homeschooling adalah sebuah metode pembelajaran yang legal.
Selain itu, ia menilai, homeschooling diterapkan ketika anak-anak memerlukan perhatian khusus. Misalnya, karena menderita sakit dan harus dirawat ataupun ada masalah-masalah tertentu yang membuat anak-anak memang harus menjalani pendidikan secara homeschooling.
Hal-hal khusus itulah yang kemudian dianggapnya sebagai indiktor yang wajar terkait mahalnya biaya homeschooling.
“Beberapa metode pembelajaran bisa dilakukan di luar sekolah. Misalnya, karena memang si anak memerlukan perhatian yang agak khusus. Oleh karena itu, homeschooling semakin dikenal dan itu boleh. Wajar jika kemudian menjadi mahal, karena homeschooling sangat privat. Ibarat pakaian, ada yang di butik dan ada juga yang di pasar,” kata Nuh, saat ditemui Kompas.com, akhir pekan lalu di Karang Tengah, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat.
Nuh mengungkapkan, agar homeschooling tidak kehilangan esensinya sebagai pendidikan alternatif, maka masyarakat dapat memilih cara lain, seperti memilih homeschooling dengan biaya yang masih dapat dijangkau.
Ia menjelaskan, para orangtua yang menerapkan homeschooling kepada anak-anaknya tidak perlu khawatir. Anak-anak homeschooling dapat menggunakan jalur ujian Paket A, B dan Paket C untuk memeroleh ijazah guna melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, dimungkinkan juga di suatu saat anak-anak homeschooling dapat ikut ujian bergabung bersama dengan pendidikan formal.
“Homeschooling bisa menggunakan ujian tersebut untuk ujian kelulusannya. Bisa juga ikut ujian bergabung dengan pendidikan formal. Itu boleh, yang tidak boleh itu jika anak-anak tidak sekolah dan tidak belajar,” ujarnya.
Mengenai standar kurikulum dalam homeschooling, Nuh menegaskan, homeschooling tetap harus memiliki kurikulum dasar. Tetapi, pengembangan dan pendekatannya diserahkan secara penuh kepada sang pendamping atau sang pembimbing homeschooling.
“Kurikulum dasar harus ada aturannya, tetapi kan bisa disesuaikan. Yang penting materinya harus ada, kalau enggak ada patokannya maka akan sulit saat mereka ujian nanti. Intinya, homeschooling itu boleh dan lebih baik daripada si anak tidak bersekolah,” kata Nuh.
Rabu, 10 Agustus 2011
DAFTAR PANTANGAN BAGI YANG PUNYA PENYAKIT SEBAGAI BERIKUT :
DAFTAR PANTANGAN BAGI YANG PUNYA PENYAKIT SEBAGAI BERIKUT :
by JAMU Meddia agen Gresik on Wednesday, December 22, 2010 at 7:16am
http://id-id.connect.facebook.com/note.php?note_id=148973581820449
1. Amandel: Cabe, Asam, Makanan Berminyak, Es
2. Anaemia: Air Kelapa, Minuman Bersoda
3. Ambeien: Cabe, Kopi, Alkoho, Ketan Hitam, Singkong, Buah Nangka
4. Asthma: Singkong, Tape, Air, Es, Makanan Berminyak
5. Alergi Kulit: Terasi, Ikan Asin, Makanan/Minuman Berpengawet, Ayam Potong
6. AIDS/HIV: Alkohol, Udang, Kopi, Kecap Asin/Manis, Buah Durian, Roti Bakar, Daging Kambing, Ikan Bakar, Kerupuk Udang, Ayam Potong
7. Asam Urat: Santan Belinjo, Cumi, Udang, Kepiting, Kerang, Daging Sapi dan Kambing, Kacang Tanah, Bayam (Pantangan Umum)
8. Batu Ginjal, Infeksi Ginjal :Cabe, Alkohol, Kopi, Teh, Makanan/Minuman Berpengawet, Soda
9. Batu Empedu: Minuman Soda, Alkohol, Kopi, Makanan Berlemak, dan Cabe
10. Bronchitis dan Menghilangkan Bau Mulut: Air Es, Kopi, Cabe, Tape, Rokok, Durian, Nangka, Pisang Mauli, Jeruk Nipis
11. Batuk, Flu, Radang Tenggorokan: Air Es, Cokelat, Makanan Berminyak
12. Beser dan Kaki Kiri Sakit
13. Diabetes: Semangka, Nangka, Kopi, Minuman Soda, Cabe
14. Demam Berdarah, Malaria Tropika, dan Demam: Makanan/Minuman Manis, Sea Food, Duku, Langsat, Semangka
15. Diare, Muntaber: Cabe, Semangka, Santan, Nangka, Air Es
16. TBC Paru-paru/Flek Paru-paru: Jeruk Nipis, Pisang Mauli, Cabe, Durian, Jeruk Purut, Minuman Soda, Air Es, Singkong, Tape, Rokok, dan Pantangan Umum
17. Flek Hitam di Wajah, Jerawat: Cokelat, Terasi, Rokok, Kacang Tanah, Obat-obatan Kimia
18. Hipertensi: Garam, Kopi, Daging, Jeroan, Ayam Potong, Telur Asin, Empin
19. Hernia: Cabe, Kopi, Alkohol, dan Pantangan Umum
20. Infeksi Saluran Kencing, Kelamin: Cabe, Tape, Kopi, Udang, Terasi, Nangka, Sea Food
21. Infeksi, Radang Telinga: Cabe, Tape, Kopi, Udang, Terasi, Nangka, Sea Food
22. Infeksi, Radang Hati (Lever/SGOT): Daging (Sapi & Kambing), Alkohol, Margarin, Makanan Berlemak, Jeroan
23. Infeksi, Radang Pendarahan Seluruh Tubuh: Cabe, Kopi, Anggur, Alkohol Merica, Durian, Semangka
24. Impoten/Lemah Syahwat: Alkohol, Labu Putih
25. Gagal Ginjal
26 Jantung :
Jantung Bocor : Rokok, Air Kelapa, Durian, Pisang Mauli, Alkohol, Daging Kambing, Obat Perangsang, Kepiting-Klep
- Jantung Koroner & Penyempitan Pembuluh Darah:Tape, Singkong, Tape Ketan, Durian, Alkohol
- Kolesterol, Trygliceride, Kolesterol- Asam Urat: Makanan Berlemak, Daging, Santan, Kacang
27 Kanker Payudara: Daging Sapi & Kambing, Minuman Soda, Kopi, Petai, Terasi, Jengkol, Saos Tomat, Ikan Peda, Makanan/Minuman Berpengawet, Zat Pewarna
28 Kanker Rahim: Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol, Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
29 Kanker Telinga
30 Kanker Hati (Hepatitis B): Makanan Berlemak, Cabe, Kopi, Alkohol, Margarin Segala Jenis, Kacang Tanah, Daging (Babi, Sapi, Kambing)
31 Kanker Usus
32 Kanker Darah (Leukemia): Daging Sapi, Usus, Paru, Jantung Sapi, Kopi, Makanan/Minuman Berpengawet
33 Kanker Prostat (Kantong Kemih): Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol, Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
34 Kanker Otak
35 Kanker Tulang
36 Lumpu Akibat Gangguan Tulang Belakang – Impoten/Lemah Syahwat, Kaki Mati Rasa: Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
37 Kanker Kelenjar
38 Keputihan, Rapat Vagina, Pendarahan: Cabe, Terasi, Nanas Petai, Jengkol, Timun, Semangka
39 Katarak: Cabe, Bawang Putih (Pantangan Umum)
40 Maag, Sakit Perut, Infeksi Lambung: Cabe, Kopi, Santan, Sayur Nangka, Ketan, dan Pantangan Umum
41 Migrain, Pusing, Tengkuk Sakit, Penyempitan Syaraf Kepala: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Minuman Soda, Mie Instan
42 Muntaber: Cabe, Tape, Semangka, Kopi, Santan, Susu, dan Pantangan Umum
43 Penyubur Kandungan: Cabe, Ikan Bakar, Roti Bakar (Semua Makanan yang dibakar), Tape, Nanas, Ayam Potong
44 Maag & Pusing
45 Maag - Jantung - Pusing
46 Rheumatik dan Asam Urat
47 Penyempitan Indung Telur: Cabe, Ikan Bakar, Roti Bakar (Semua Makanan yang dibakar), Tape, Nanas, Ayam Potong
48 Penyempitan Syaraf di Seluruh Tubuh, Syaraf Terjepit, Kram, dan Nyeri: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Kopi, Makanan Berlemak, Durian, Minuman Bersoda, & Pantangan Umum
49 Penyempitan Pembuluh Darah di Otak & Pembekuan Darah di Otak: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Kopi, Makanan Berlemak, Durian, Minuman Bersoda, & Pantangan Umum
50 Rheumatik, Radang Tulang, TBC Tulang, Kanker Tulang, Pengapuran Tulang:Makanan/Minuman Berpengawet, Air Kelapa, Ikan Teri, Tempe Gembos, Ikan Peda
51 Sakit Pingggang: Daging Sapi & Kambing, Belinjo, Soda, Air Kelapa
52 Sakit Tulang Belakang: Makanan/Minuman Berpengawet, Ikan Asin, dan Pantangan Umum Lainnya
53 Thypus: Cabe, Kopi, Nanas, Nasi Goreng, Margarin, Nangka, Air Es, Singkong, Ketan
54 Usus Buntu:Cabe, Kopi, Nanas, Nasi Goreng, Margarin, Nangka, Air Es, Pantangan Umum
55 Stroke Kiri: Daging, Mie Instan, Garam, Soda, Terasi, Petis, Siput Udang, Cumi-cumi, Telur Durian
56 Stroke Kanan: Daging, Mie Instan, Garam, Soda, Terasi, Petis, Siput Udang, Cumi-cumi, Telur Durian
57 Sariawan & Susah Buang Air Besar
58 Tumor: Sawi Manis?
Share
*
*
New Rudy Meddia likes this.
*
Facebook © 2011 · English (US)
by JAMU Meddia agen Gresik on Wednesday, December 22, 2010 at 7:16am
http://id-id.connect.facebook.com/note.php?note_id=148973581820449
1. Amandel: Cabe, Asam, Makanan Berminyak, Es
2. Anaemia: Air Kelapa, Minuman Bersoda
3. Ambeien: Cabe, Kopi, Alkoho, Ketan Hitam, Singkong, Buah Nangka
4. Asthma: Singkong, Tape, Air, Es, Makanan Berminyak
5. Alergi Kulit: Terasi, Ikan Asin, Makanan/Minuman Berpengawet, Ayam Potong
6. AIDS/HIV: Alkohol, Udang, Kopi, Kecap Asin/Manis, Buah Durian, Roti Bakar, Daging Kambing, Ikan Bakar, Kerupuk Udang, Ayam Potong
7. Asam Urat: Santan Belinjo, Cumi, Udang, Kepiting, Kerang, Daging Sapi dan Kambing, Kacang Tanah, Bayam (Pantangan Umum)
8. Batu Ginjal, Infeksi Ginjal :Cabe, Alkohol, Kopi, Teh, Makanan/Minuman Berpengawet, Soda
9. Batu Empedu: Minuman Soda, Alkohol, Kopi, Makanan Berlemak, dan Cabe
10. Bronchitis dan Menghilangkan Bau Mulut: Air Es, Kopi, Cabe, Tape, Rokok, Durian, Nangka, Pisang Mauli, Jeruk Nipis
11. Batuk, Flu, Radang Tenggorokan: Air Es, Cokelat, Makanan Berminyak
12. Beser dan Kaki Kiri Sakit
13. Diabetes: Semangka, Nangka, Kopi, Minuman Soda, Cabe
14. Demam Berdarah, Malaria Tropika, dan Demam: Makanan/Minuman Manis, Sea Food, Duku, Langsat, Semangka
15. Diare, Muntaber: Cabe, Semangka, Santan, Nangka, Air Es
16. TBC Paru-paru/Flek Paru-paru: Jeruk Nipis, Pisang Mauli, Cabe, Durian, Jeruk Purut, Minuman Soda, Air Es, Singkong, Tape, Rokok, dan Pantangan Umum
17. Flek Hitam di Wajah, Jerawat: Cokelat, Terasi, Rokok, Kacang Tanah, Obat-obatan Kimia
18. Hipertensi: Garam, Kopi, Daging, Jeroan, Ayam Potong, Telur Asin, Empin
19. Hernia: Cabe, Kopi, Alkohol, dan Pantangan Umum
20. Infeksi Saluran Kencing, Kelamin: Cabe, Tape, Kopi, Udang, Terasi, Nangka, Sea Food
21. Infeksi, Radang Telinga: Cabe, Tape, Kopi, Udang, Terasi, Nangka, Sea Food
22. Infeksi, Radang Hati (Lever/SGOT): Daging (Sapi & Kambing), Alkohol, Margarin, Makanan Berlemak, Jeroan
23. Infeksi, Radang Pendarahan Seluruh Tubuh: Cabe, Kopi, Anggur, Alkohol Merica, Durian, Semangka
24. Impoten/Lemah Syahwat: Alkohol, Labu Putih
25. Gagal Ginjal
26 Jantung :
Jantung Bocor : Rokok, Air Kelapa, Durian, Pisang Mauli, Alkohol, Daging Kambing, Obat Perangsang, Kepiting-Klep
- Jantung Koroner & Penyempitan Pembuluh Darah:Tape, Singkong, Tape Ketan, Durian, Alkohol
- Kolesterol, Trygliceride, Kolesterol- Asam Urat: Makanan Berlemak, Daging, Santan, Kacang
27 Kanker Payudara: Daging Sapi & Kambing, Minuman Soda, Kopi, Petai, Terasi, Jengkol, Saos Tomat, Ikan Peda, Makanan/Minuman Berpengawet, Zat Pewarna
28 Kanker Rahim: Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol, Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
29 Kanker Telinga
30 Kanker Hati (Hepatitis B): Makanan Berlemak, Cabe, Kopi, Alkohol, Margarin Segala Jenis, Kacang Tanah, Daging (Babi, Sapi, Kambing)
31 Kanker Usus
32 Kanker Darah (Leukemia): Daging Sapi, Usus, Paru, Jantung Sapi, Kopi, Makanan/Minuman Berpengawet
33 Kanker Prostat (Kantong Kemih): Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol, Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
34 Kanker Otak
35 Kanker Tulang
36 Lumpu Akibat Gangguan Tulang Belakang – Impoten/Lemah Syahwat, Kaki Mati Rasa: Terasi, Kopi, Ayam Potong, Petai, Jengkol Ikan Teri, Makanan/Minuman Berpengawet
37 Kanker Kelenjar
38 Keputihan, Rapat Vagina, Pendarahan: Cabe, Terasi, Nanas Petai, Jengkol, Timun, Semangka
39 Katarak: Cabe, Bawang Putih (Pantangan Umum)
40 Maag, Sakit Perut, Infeksi Lambung: Cabe, Kopi, Santan, Sayur Nangka, Ketan, dan Pantangan Umum
41 Migrain, Pusing, Tengkuk Sakit, Penyempitan Syaraf Kepala: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Minuman Soda, Mie Instan
42 Muntaber: Cabe, Tape, Semangka, Kopi, Santan, Susu, dan Pantangan Umum
43 Penyubur Kandungan: Cabe, Ikan Bakar, Roti Bakar (Semua Makanan yang dibakar), Tape, Nanas, Ayam Potong
44 Maag & Pusing
45 Maag - Jantung - Pusing
46 Rheumatik dan Asam Urat
47 Penyempitan Indung Telur: Cabe, Ikan Bakar, Roti Bakar (Semua Makanan yang dibakar), Tape, Nanas, Ayam Potong
48 Penyempitan Syaraf di Seluruh Tubuh, Syaraf Terjepit, Kram, dan Nyeri: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Kopi, Makanan Berlemak, Durian, Minuman Bersoda, & Pantangan Umum
49 Penyempitan Pembuluh Darah di Otak & Pembekuan Darah di Otak: Daging (Sapi & Kambing), Ayam Potong, Kopi, Makanan Berlemak, Durian, Minuman Bersoda, & Pantangan Umum
50 Rheumatik, Radang Tulang, TBC Tulang, Kanker Tulang, Pengapuran Tulang:Makanan/Minuman Berpengawet, Air Kelapa, Ikan Teri, Tempe Gembos, Ikan Peda
51 Sakit Pingggang: Daging Sapi & Kambing, Belinjo, Soda, Air Kelapa
52 Sakit Tulang Belakang: Makanan/Minuman Berpengawet, Ikan Asin, dan Pantangan Umum Lainnya
53 Thypus: Cabe, Kopi, Nanas, Nasi Goreng, Margarin, Nangka, Air Es, Singkong, Ketan
54 Usus Buntu:Cabe, Kopi, Nanas, Nasi Goreng, Margarin, Nangka, Air Es, Pantangan Umum
55 Stroke Kiri: Daging, Mie Instan, Garam, Soda, Terasi, Petis, Siput Udang, Cumi-cumi, Telur Durian
56 Stroke Kanan: Daging, Mie Instan, Garam, Soda, Terasi, Petis, Siput Udang, Cumi-cumi, Telur Durian
57 Sariawan & Susah Buang Air Besar
58 Tumor: Sawi Manis?
Share
*
*
New Rudy Meddia likes this.
*
Facebook © 2011 · English (US)
Socialization: Homeschoolers Are in the Real World
Socialization: Homeschoolers Are in the Real World
http://www.hslda.org/docs/nche/000000/00000068.asp
By Chris Klicka, Senior Counsel for the
Home School Legal Defense Association
Academically homeschoolers have generally excelled, but some critics have continued to challenge them on an apparent "lack of socialization" or "isolation from the world." Often there is a charge that homeschoolers are not learning how to live in the "real world." However, a closer look at public school training shows that it is actually public school children who are not living in the real world.
For instance, public school children are confined to a classroom for at least 180 days each year with little opportunity to be exposed to the workplace or to go on field trips. The children are trapped with a group of children their own age with little chance to relate to children of other ages or adults. They learn in a vacuum where there are no absolute standards. They are given little to no responsibility, and everything is provided for them. The opportunity to pursue their interests and to apply their
Homeschoolers, on the other hand, do not have the above problems. They are completely prepared for the "real world" of the workplace and the home. They relate regularly with adults and follow their examples rather than the examples of foolish peers. They learn based on "hands on" experiences and early apprenticeship training. In fact, the only "socialization" or aspect of the "real world" which they miss out on by not attending the public school is unhealthy peer pressure, crime, and immorality. Of course,
Practically, homeschoolers generally overcome the potential for "isolation" through heavy involvement in church youth groups, 4H clubs, music and art lessons, Little League sports participation, YMCA, Scouts, singing groups, activities with neighborhood children, academic contests (spelling bees, orations, creative and research papers), and regular involvement in field trips. In fact, one researcher stated, "The investigator was not prepared for the level of commitment exhibited by the parents in getting t
In nearly every community throughout the country, local homeschool support groups have formed in addition to the state-wide homeschool associations. In many areas these local support groups sponsor weekly and monthly activities for the homeschool students, including physical education classes, special speakers, sports, camping, trips to museums, industries, farms, parks, historic sites, and hundreds of other activities. Regular contests are also held including spelling bees, science fairs, wood working con
In addition, several studies have been done to measure homeschoolers' "self-concept," which is the key objective indicator for establishing a child's self-esteem. A child's degree of self-esteem is one of the best measurements of his ability to successfully interact on a social level. One such study was conducted by John Wesley Taylor, using the Piers-Harris Children's Self-Concept Scale to evaluate 224 home-schooled children. They study found that 50 percent of the children scored above the 90th percentil
Another researcher compared private school nine-year-olds with homeschool nine-year-olds and found no significant differences in the groups in virtually all psycho-social areas. However, in the area of social adjustment, a significant difference was discovered: "private-school subjects appeared to be more concerned with peers than the home-educated group."4 This is certainly an advantage for home-schooled children who can avoid negative peer influence.
In 2004, Dr. Susan McDowell wrote “But What About Socialization? Answering the Perpetual Home Schooling Question: A Review of the Literature” following a challenge to document the common idea that homeschoolers are not socialized in comparison to those students in public schools. McDowell, whose PhD from Vanderbilt University is in educational leadership, claims: “It’s a non-issue today. All the research shows children are doing well.”5
Dr. Linda Montgomery studied homeschool students between the ages of ten and twenty-one and concluded that home-schooled children are not isolated from social activities with other youth. She also concluded that homeschooling may nurture leadership at least as well as the conventional schools do.6
Thomas Smedley prepared a master's thesis for Radford University of Virginia on "The Socialization of Homeschool Children." Smedley used the Vineland Adaptive Behavior Scales to evaluate the social maturity of twenty home-schooled children and thirteen demographically matched public school children. The communication skills, socialization, and daily living skills were evaluated. These scores were combined into the "Adoptive Behavior Composite" which reflects the general maturity of each subject.
Smedley had this information processed using the statistical program for the social sciences and the results demonstrated that the home-schooled children were better socialized and more mature than the children in the public school. The home-schooled children scored in the 84th percentile while the matched sample of public school children only scored in the 27th percentile.
Smedley further found that:
In the public school system, children are socialized horizontally, and temporarily, into conformity with their immediate peers. Home educators seek to socialize their children vertically, toward responsibility, service, and adulthood, with an eye on eternity.7
In another 1992 study, Dr. Larry Shyers compared behaviors and social development test scores of two groups of seventy children ages eight to ten. One group was being educated at home while the other group attended public and private schools. He found that the home-schooled children did not lag behind children attending public or private schools in social development.
Dr. Shyers further discovered that the home-schooled children had consistently fewer behavioral problems. The study indicated that home-schooled children behave better because they tend to imitate their parents while conventionally-schooled children model themselves after their peers. Shyers states, "The results seem to show that a child's social development depends more on adult contact and less on contact with other children as previously thought."8
Dr. Brian Ray reviewed the results of four other studies on the socialization of homeschoolers and found:
Rakestraw, Reynolds, Schemmer, and Wartes have each studied aspects of the social activities and emotional characteristics of home-schooled children. They found that these children are actively involved in many activities outside the home with peers, different-aged children, and adults. The data from their research suggests that homeschoolers are not being socially isolated, nor are they emotionally maladjusted.9
J. Gary Knowles, University of Michigan Assistant Professor of Education, released a study done at the University of Michigan which found that teaching children at home will not make them social misfits. Knowles surveyed 53 adults who were taught at home because of ideology or geographical isolation. He found that two thirds were married, which is the norm for adults their age. None were unemployed or on welfare. He found more than three fourths felt that being taught at home had helped them to interact wi
As mentioned earlier, the greatest benefit from homeschool socialization is that the child can be protected from the negative socialization of the public schools associated with peer pressure, such as rebellious attitudes, immaturity, immorality, drugs, and violent behavior.
Adapted from The Right Choice: Home Schooling by Christopher J. Klicka.
Footnotes
1. "Socialization Practices of Christian Home School Educators in the State of Virginia," a study of ten Virginia home school families, performed by Dr. Kathie Carwile, appeared in the Home School Researcher, Vol. 7, No. 1, December 1991.
2. R. Meighan, "Political Consciousness and Home-Based Education, Educational Review 36 (1984):165-73.
3. Dr. John Wesley Taylor, Self-Concept in Home Schooling Children (Ann Arbor, Mich.: University Microfilms International), Order No. DA8624219. This study was done as part of a dissertation at Andrews University. The results of the testing of the 224 home-schooled students was compared to the testing results of 1,183 conventionally schooled children.
4. Dr. Mona Delahooke, "Home Educated Children's Social/Emotional Adjustment and Academic Achievements: A Comprehensive Study," unpublished doctoral dissertation, California School of Professional Psychology, Los Angeles, 1986, 85.
5 Dr. Susan McDowell, “But What About Socialization? Answering the Perpetual Home Schooling Question: a Review of the Literature,” as quoted in “Researchers Say Socialization No Longer an Issue” from The Christian Post http://www.christianpost.com/article/20050526/7552_Researchers_Say_Socialization_No_Longer_an_''Issue''.htm
6. Dr. Linda Montgomery, "The Effect of Home Schooling on Leadership Skills of Home Schooled Students," Home School Researcher (5) 1, 1989.
7. Thomas C. Smedley, M.S., "Socialization of Home Schooled Children: A Communication Approach," thesis submitted and approved for Master of Science in Corporate and Professional Communication, Radford University, Radford, Virginia, May 1992. (Unpublished.)
8. Dr. Larry Shyers, "Comparison of Social Adjustment Between Home and Traditionally Schooled Students," unpublished doctoral dissertation at University of Florida's College of Education, 1992. Dr. Shyers is a psychotherapist who is the Chairman of the Florida Board of Clinical Social Work, Marriage and Family Therapy, and Mental Health Counseling.
9. Dr. Brian Ray, "Review of Home Education Research," The Teaching Home, August/September 1989, 49. See Rakestraw, "An Analysis of Home Schooling for Elementary School-Age Children in Alabama," doctoral dissertation, University of Alabama, Tuscaloosa, AL, 1987; Reynolds, "How Home School Families Operate on a Day-to-Day Basis: Three Case Studies," unpublished doctoral dissertation, Brigham Young University, Provo, UT, 1985; and
Sosialisasi: homeschooler Apakah di Dunia Nyata
http://www.hslda.org/docs/nche/000000/00000068.asp
Oleh Chris Klicka, Penasihat Senior untuk
Depan Sekolah Hukum Asosiasi Pertahanan
Akademis homeschooler umumnya unggul, tetapi beberapa kritikus terus menantang mereka pada "kurangnya sosialisasi" jelas atau "isolasi dari dunia." Sering ada tuduhan bahwa homeschooler tidak belajar bagaimana hidup di "dunia nyata." Namun, melihat lebih dekat pada pelatihan sekolah umum menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak sekolah negeri yang tidak hidup di dunia nyata.
Misalnya, anak-anak sekolah umum terbatas pada kelas untuk setidaknya 180 hari setiap tahun dengan sedikit kesempatan untuk terkena tempat kerja atau melakukan perjalanan lapangan. Anak-anak terjebak dengan sekelompok anak-anak usia mereka sendiri dengan sedikit kesempatan untuk berhubungan dengan anak-anak usia lain atau orang dewasa. Mereka belajar dalam vakum di mana tidak ada standar mutlak. Mereka diberi sedikit tanggung jawab, dan semuanya sudah disediakan untuk mereka. Kesempatan untuk mengejar kepe
Homeschooler, di sisi lain, tidak memiliki masalah di atas. Mereka benar-benar siap untuk "dunia nyata" dari tempat kerja dan rumah. Mereka berhubungan secara teratur dengan orang dewasa dan mengikuti contoh mereka daripada contoh dari rekan-rekan bodoh. Mereka belajar didasarkan pada "tangan di atas" pengalaman dan pelatihan magang awal. Bahkan, "sosialisasi" saja atau aspek dari "dunia nyata" yang mereka lewatkan dengan tidak menghadiri sekolah umum adalah peer tekanan tidak sehat, kejahatan, dan amorali
Praktis, homeschooler umumnya mengatasi potensi untuk "isolasi" melalui keterlibatan berat di kelompok pemuda gereja, klub 4H, musik dan pelajaran seni, Liga Kecil partisipasi olahraga, YMCA, Pramuka, kelompok bernyanyi, kegiatan dengan anak-anak tetangga, kontes akademik (lebah ejaan, pidato, makalah kreatif dan penelitian), dan keterlibatan reguler dalam perjalanan lapangan. Bahkan, salah satu peneliti menyatakan, "penyidik itu tidak siap untuk tingkat komitmen yang ditunjukkan oleh orang tua dalam menda
Dalam hampir setiap komunitas di seluruh negeri, kelompok pendukung homeschool lokal telah terbentuk di samping negara-lebar asosiasi homeschooling. Di banyak daerah kelompok-kelompok dukungan lokal mensponsori kegiatan-kegiatan mingguan dan bulanan untuk para siswa homeschooling, termasuk kelas pendidikan jasmani, speaker khusus, olahraga, berkemah, perjalanan ke museum, industri, peternakan, taman, tempat bersejarah, dan ratusan kegiatan lain. Kontes reguler juga diadakan termasuk lebah ejaan, pameran il
Selain itu, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengukur 'homeschooler "konsep diri", yang merupakan indikator tujuan utama untuk mendirikan anak harga diri. Sebuah gelar anak harga diri adalah salah satu pengukuran terbaik dari kemampuannya untuk berhasil berinteraksi pada tingkat sosial. Satu studi seperti itu dilakukan oleh John Wesley Taylor, menggunakan Konsep Diri Skala Piers Harris-anak untuk mengevaluasi 224 home-schooling anak-anak. Mereka studi menemukan bahwa 50 persen dari anak-anak mence
Peneliti lain dibandingkan sekolah swasta sembilan-year-olds dengan homeschooling sembilan-year-olds dan tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kelompok-kelompok di hampir semua daerah psiko-sosial. Namun, di bidang penyesuaian sosial, perbedaan yang signifikan ditemukan: "sekolah swasta mata pelajaran tampaknya lebih peduli dengan rekan-rekan dari kelompok rumah berpendidikan." 4 Hal ini tentunya merupakan keuntungan bagi home-schooling anak-anak yang dapat menghindari negatif pengaruh teman sebaya.
Pada tahun 2004, Dr Susan McDowell menulis "Tapi Apa Tentang Sosialisasi? Menjawab Pertanyaan Depan Sekolah Abadi: Sebuah Tinjauan Literatur yang "berikut tantangan untuk mendokumentasikan gagasan umum bahwa homeschooler tidak disosialisasikan dibandingkan dengan para siswa di sekolah umum. McDowell, yang PhD dari Vanderbilt University adalah dalam kepemimpinan pendidikan, klaim: "Ini adalah hari non-isu. Semua penelitian menunjukkan anak-anak lakukan dengan baik "5.
Dr Linda Montgomery belajar siswa homeschooling antara usia sepuluh dan dua puluh satu dan menyimpulkan bahwa rumah-schooling anak-anak tidak terisolasi dari kegiatan sosial dengan pemuda lain. Dia juga menyimpulkan bahwa homeschooling dapat memupuk kepemimpinan setidaknya serta sekolah-sekolah konvensional do.6
Thomas Smedley mempersiapkan tesis master untuk Radford Universitas Virginia pada "Sosialisasi Anak Homeschool." Smedley menggunakan Vineland Perilaku Adaptif Timbangan untuk mengevaluasi kematangan sosial dua puluh home schooling anak-anak dan tiga belas anak demografi dipasangkan dengan sekolah umum. Keterampilan komunikasi, sosialisasi, dan keterampilan hidup sehari-hari dievaluasi. Nilai ini digabungkan ke dalam "Perilaku Komposit angkat" yang mencerminkan kematangan umum setiap subyek.
Smedley memiliki informasi ini diolah dengan menggunakan program statistik untuk ilmu sosial dan hasil menunjukkan bahwa rumah-schooling anak-anak lebih baik disosialisasikan dan lebih dewasa daripada anak-anak di sekolah umum. Rumah-schooling anak-anak mencetak gol di persentil 84 sementara sampel cocok anak-anak sekolah umum hanya mencetak di persentil 27.
Smedley lebih lanjut menemukan bahwa:
Dalam sistem sekolah umum, anak-anak disosialisasikan horizontal, dan untuk sementara, menjadi sesuai dengan rekan-rekan dekat mereka. Rumah pendidik berusaha untuk mensosialisasikan anak-anak mereka secara vertikal, terhadap tanggung jawab, pelayanan, dan dewasa, dengan mata pada eternity.7
Dalam studi lain tahun 1992, Dr Larry Shyers perilaku dibandingkan dan nilai tes perkembangan sosial dua kelompok anak-anak usia 78-10. Satu kelompok sedang dididik di rumah sementara kelompok lain bersekolah di sekolah umum dan swasta. Ia menemukan bahwa rumah-schooling anak-anak tidak ketinggalan anak-anak menghadiri sekolah umum atau swasta dalam pembangunan sosial.
Dr Shyers lebih lanjut menemukan bahwa rumah-schooling anak memiliki masalah perilaku lebih sedikit konsisten. Studi ini menunjukkan bahwa rumah-schooling anak-anak berperilaku lebih baik karena mereka cenderung meniru orangtua mereka sementara konvensional-schooling anak-anak sendiri setelah model yang rekan-rekan mereka. Shyers menyatakan, "Hasil tampaknya menunjukkan bahwa pembangunan sosial anak lebih tergantung pada kontak dengan orang dewasa dan kurang pada kontak dengan anak lain seperti yang diduga
Dr Brian Ray terakhir hasil dari empat penelitian lain pada sosialisasi homeschooler dan menemukan:
Rakestraw, Reynolds, Schemmer, dan Wartes masing-masing mempelajari aspek kegiatan sosial dan karakteristik emosional rumah-schooling anak-anak. Mereka menemukan bahwa anak-anak secara aktif terlibat dalam banyak kegiatan di luar rumah dengan teman sebaya, yang berbeda usia anak-anak, dan orang dewasa. Data dari penelitian mereka menunjukkan bahwa homeschooler yang tidak terisolasi secara sosial, mereka juga tidak emosional maladjusted.9
J. Gary Knowles, Universitas Asisten Profesor Michigan Pendidikan, merilis sebuah penelitian yang dilakukan di University of Michigan yang menemukan bahwa mengajar anak di rumah tidak akan membuat mereka menyesuaikan diri sosial. Knowles disurvei 53 orang dewasa yang diajarkan di rumah karena ideologi atau isolasi geografis. Dia menemukan bahwa dua pertiga menikah, yang adalah norma untuk orang dewasa usia mereka. Tidak ada yang menganggur atau kesejahteraan. Ia menemukan lebih dari tiga perempat merasa ba
Seperti disebutkan sebelumnya, manfaat terbesar dari sosialisasi homeschool adalah bahwa anak dapat dilindungi dari sosialisasi negatif dari sekolah publik yang terkait dengan tekanan teman sebaya, seperti sikap memberontak, ketidakdewasaan, amoralitas, obat-obatan, dan perilaku kekerasan.
Diadaptasi dari The Pilihan Tepat: Sekolah Home oleh Christopher J. Klicka.
Catatan kaki
1. "Sosialisasi Praktek Pendidik Sekolah Rumah Kristen di Negara Bagian Virginia," muncul sebuah studi dari sepuluh rumah keluarga sekolah di Virginia, yang dilakukan oleh Dr Kathie Carwile, di Sekolah Peneliti Utama, Vol. 7, No 1, Desember 1991.
2. R. Meighan, "Kesadaran Politik dan Home Pendidikan Berbasis Review Pendidikan 36 (1984) :165-73.
3. Dr John Wesley Taylor, Self-Concept pada Anak Sekolah Rumah (Ann Arbor, Mich: Universitas mikrofilm Internasional), Order No DA8624219. Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari disertasi di Andrews University. Hasil pengujian dari 224 home-schooling siswa dibandingkan dengan hasil pengujian 1.183 anak konvensional schooling.
4. Dr Mona Delahooke, "Rumah Anak-anak terdidik yang Penyesuaian Sosial / Emosional dan Prestasi Akademik: Sebuah Studi Komprehensif," disertasi doktor tidak dipublikasikan, California Sekolah Psikologi Profesional, Los Angeles, 1986, 85.
5 Dr Susan McDowell, "Tapi Apa Tentang Sosialisasi? Menjawab Pertanyaan Depan Sekolah Abadi: Review dari Sastra, "seperti dikutip dalam" Para peneliti Katakanlah Sosialisasi Tak Lagi Masalah "dari The Christian Post
6. Dr Linda Montgomery, "Pengaruh Sekolah Rumah tentang Keterampilan Kepemimpinan Mahasiswa Rumah dididik," Home Peneliti Sekolah (5) 1, 1989.
7. Thomas C. Smedley, MS, "Sosialisasi Anak dididik Depan: Sebuah Pendekatan Komunikasi," diajukan tesis dan disetujui untuk Master of Science dalam Corporate Communication dan Profesional, Radford University, Radford, Virginia, Mei 1992. (Unpublished.)
8. Dr Larry Shyers, "Perbandingan Antara Penyesuaian Sosial Rumah dan Siswa tradisional disekolahkan," disertasi doktor tidak dipublikasikan di University College Florida Pendidikan, 1992. Dr Shyers adalah seorang psikoterapis yang merupakan Ketua Dewan Florida Konseling Kesehatan Kerja, Pernikahan dan Keluarga Terapi, dan Mental Sosial Klinis.
9. Dr Brian Ray, "Review Penelitian Pendidikan Home," The Home Pengajaran, Agustus / September 1989, 49. Lihat Rakestraw, "Sebuah Analisis Sekolah Dasar Home untuk Anak Usia Sekolah di Alabama," disertasi doktor, University of Alabama, Tuscaloosa, AL, 1987; Reynolds, "Bagaimana Depan Keluarga Sekolah Mengoperasikan pada Dasar Sehari-Hari: Tiga Studi Kasus, "disertasi doktor tidak dipublikasikan, Universitas Brigham Young, Provo, UT, 1985; dan
http://www.hslda.org/docs/nche/000000/00000068.asp
By Chris Klicka, Senior Counsel for the
Home School Legal Defense Association
Academically homeschoolers have generally excelled, but some critics have continued to challenge them on an apparent "lack of socialization" or "isolation from the world." Often there is a charge that homeschoolers are not learning how to live in the "real world." However, a closer look at public school training shows that it is actually public school children who are not living in the real world.
For instance, public school children are confined to a classroom for at least 180 days each year with little opportunity to be exposed to the workplace or to go on field trips. The children are trapped with a group of children their own age with little chance to relate to children of other ages or adults. They learn in a vacuum where there are no absolute standards. They are given little to no responsibility, and everything is provided for them. The opportunity to pursue their interests and to apply their
Homeschoolers, on the other hand, do not have the above problems. They are completely prepared for the "real world" of the workplace and the home. They relate regularly with adults and follow their examples rather than the examples of foolish peers. They learn based on "hands on" experiences and early apprenticeship training. In fact, the only "socialization" or aspect of the "real world" which they miss out on by not attending the public school is unhealthy peer pressure, crime, and immorality. Of course,
Practically, homeschoolers generally overcome the potential for "isolation" through heavy involvement in church youth groups, 4H clubs, music and art lessons, Little League sports participation, YMCA, Scouts, singing groups, activities with neighborhood children, academic contests (spelling bees, orations, creative and research papers), and regular involvement in field trips. In fact, one researcher stated, "The investigator was not prepared for the level of commitment exhibited by the parents in getting t
In nearly every community throughout the country, local homeschool support groups have formed in addition to the state-wide homeschool associations. In many areas these local support groups sponsor weekly and monthly activities for the homeschool students, including physical education classes, special speakers, sports, camping, trips to museums, industries, farms, parks, historic sites, and hundreds of other activities. Regular contests are also held including spelling bees, science fairs, wood working con
In addition, several studies have been done to measure homeschoolers' "self-concept," which is the key objective indicator for establishing a child's self-esteem. A child's degree of self-esteem is one of the best measurements of his ability to successfully interact on a social level. One such study was conducted by John Wesley Taylor, using the Piers-Harris Children's Self-Concept Scale to evaluate 224 home-schooled children. They study found that 50 percent of the children scored above the 90th percentil
Another researcher compared private school nine-year-olds with homeschool nine-year-olds and found no significant differences in the groups in virtually all psycho-social areas. However, in the area of social adjustment, a significant difference was discovered: "private-school subjects appeared to be more concerned with peers than the home-educated group."4 This is certainly an advantage for home-schooled children who can avoid negative peer influence.
In 2004, Dr. Susan McDowell wrote “But What About Socialization? Answering the Perpetual Home Schooling Question: A Review of the Literature” following a challenge to document the common idea that homeschoolers are not socialized in comparison to those students in public schools. McDowell, whose PhD from Vanderbilt University is in educational leadership, claims: “It’s a non-issue today. All the research shows children are doing well.”5
Dr. Linda Montgomery studied homeschool students between the ages of ten and twenty-one and concluded that home-schooled children are not isolated from social activities with other youth. She also concluded that homeschooling may nurture leadership at least as well as the conventional schools do.6
Thomas Smedley prepared a master's thesis for Radford University of Virginia on "The Socialization of Homeschool Children." Smedley used the Vineland Adaptive Behavior Scales to evaluate the social maturity of twenty home-schooled children and thirteen demographically matched public school children. The communication skills, socialization, and daily living skills were evaluated. These scores were combined into the "Adoptive Behavior Composite" which reflects the general maturity of each subject.
Smedley had this information processed using the statistical program for the social sciences and the results demonstrated that the home-schooled children were better socialized and more mature than the children in the public school. The home-schooled children scored in the 84th percentile while the matched sample of public school children only scored in the 27th percentile.
Smedley further found that:
In the public school system, children are socialized horizontally, and temporarily, into conformity with their immediate peers. Home educators seek to socialize their children vertically, toward responsibility, service, and adulthood, with an eye on eternity.7
In another 1992 study, Dr. Larry Shyers compared behaviors and social development test scores of two groups of seventy children ages eight to ten. One group was being educated at home while the other group attended public and private schools. He found that the home-schooled children did not lag behind children attending public or private schools in social development.
Dr. Shyers further discovered that the home-schooled children had consistently fewer behavioral problems. The study indicated that home-schooled children behave better because they tend to imitate their parents while conventionally-schooled children model themselves after their peers. Shyers states, "The results seem to show that a child's social development depends more on adult contact and less on contact with other children as previously thought."8
Dr. Brian Ray reviewed the results of four other studies on the socialization of homeschoolers and found:
Rakestraw, Reynolds, Schemmer, and Wartes have each studied aspects of the social activities and emotional characteristics of home-schooled children. They found that these children are actively involved in many activities outside the home with peers, different-aged children, and adults. The data from their research suggests that homeschoolers are not being socially isolated, nor are they emotionally maladjusted.9
J. Gary Knowles, University of Michigan Assistant Professor of Education, released a study done at the University of Michigan which found that teaching children at home will not make them social misfits. Knowles surveyed 53 adults who were taught at home because of ideology or geographical isolation. He found that two thirds were married, which is the norm for adults their age. None were unemployed or on welfare. He found more than three fourths felt that being taught at home had helped them to interact wi
As mentioned earlier, the greatest benefit from homeschool socialization is that the child can be protected from the negative socialization of the public schools associated with peer pressure, such as rebellious attitudes, immaturity, immorality, drugs, and violent behavior.
Adapted from The Right Choice: Home Schooling by Christopher J. Klicka.
Footnotes
1. "Socialization Practices of Christian Home School Educators in the State of Virginia," a study of ten Virginia home school families, performed by Dr. Kathie Carwile, appeared in the Home School Researcher, Vol. 7, No. 1, December 1991.
2. R. Meighan, "Political Consciousness and Home-Based Education, Educational Review 36 (1984):165-73.
3. Dr. John Wesley Taylor, Self-Concept in Home Schooling Children (Ann Arbor, Mich.: University Microfilms International), Order No. DA8624219. This study was done as part of a dissertation at Andrews University. The results of the testing of the 224 home-schooled students was compared to the testing results of 1,183 conventionally schooled children.
4. Dr. Mona Delahooke, "Home Educated Children's Social/Emotional Adjustment and Academic Achievements: A Comprehensive Study," unpublished doctoral dissertation, California School of Professional Psychology, Los Angeles, 1986, 85.
5 Dr. Susan McDowell, “But What About Socialization? Answering the Perpetual Home Schooling Question: a Review of the Literature,” as quoted in “Researchers Say Socialization No Longer an Issue” from The Christian Post http://www.christianpost.com/article/20050526/7552_Researchers_Say_Socialization_No_Longer_an_''Issue''.htm
6. Dr. Linda Montgomery, "The Effect of Home Schooling on Leadership Skills of Home Schooled Students," Home School Researcher (5) 1, 1989.
7. Thomas C. Smedley, M.S., "Socialization of Home Schooled Children: A Communication Approach," thesis submitted and approved for Master of Science in Corporate and Professional Communication, Radford University, Radford, Virginia, May 1992. (Unpublished.)
8. Dr. Larry Shyers, "Comparison of Social Adjustment Between Home and Traditionally Schooled Students," unpublished doctoral dissertation at University of Florida's College of Education, 1992. Dr. Shyers is a psychotherapist who is the Chairman of the Florida Board of Clinical Social Work, Marriage and Family Therapy, and Mental Health Counseling.
9. Dr. Brian Ray, "Review of Home Education Research," The Teaching Home, August/September 1989, 49. See Rakestraw, "An Analysis of Home Schooling for Elementary School-Age Children in Alabama," doctoral dissertation, University of Alabama, Tuscaloosa, AL, 1987; Reynolds, "How Home School Families Operate on a Day-to-Day Basis: Three Case Studies," unpublished doctoral dissertation, Brigham Young University, Provo, UT, 1985; and
Sosialisasi: homeschooler Apakah di Dunia Nyata
http://www.hslda.org/docs/nche/000000/00000068.asp
Oleh Chris Klicka, Penasihat Senior untuk
Depan Sekolah Hukum Asosiasi Pertahanan
Akademis homeschooler umumnya unggul, tetapi beberapa kritikus terus menantang mereka pada "kurangnya sosialisasi" jelas atau "isolasi dari dunia." Sering ada tuduhan bahwa homeschooler tidak belajar bagaimana hidup di "dunia nyata." Namun, melihat lebih dekat pada pelatihan sekolah umum menunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak sekolah negeri yang tidak hidup di dunia nyata.
Misalnya, anak-anak sekolah umum terbatas pada kelas untuk setidaknya 180 hari setiap tahun dengan sedikit kesempatan untuk terkena tempat kerja atau melakukan perjalanan lapangan. Anak-anak terjebak dengan sekelompok anak-anak usia mereka sendiri dengan sedikit kesempatan untuk berhubungan dengan anak-anak usia lain atau orang dewasa. Mereka belajar dalam vakum di mana tidak ada standar mutlak. Mereka diberi sedikit tanggung jawab, dan semuanya sudah disediakan untuk mereka. Kesempatan untuk mengejar kepe
Homeschooler, di sisi lain, tidak memiliki masalah di atas. Mereka benar-benar siap untuk "dunia nyata" dari tempat kerja dan rumah. Mereka berhubungan secara teratur dengan orang dewasa dan mengikuti contoh mereka daripada contoh dari rekan-rekan bodoh. Mereka belajar didasarkan pada "tangan di atas" pengalaman dan pelatihan magang awal. Bahkan, "sosialisasi" saja atau aspek dari "dunia nyata" yang mereka lewatkan dengan tidak menghadiri sekolah umum adalah peer tekanan tidak sehat, kejahatan, dan amorali
Praktis, homeschooler umumnya mengatasi potensi untuk "isolasi" melalui keterlibatan berat di kelompok pemuda gereja, klub 4H, musik dan pelajaran seni, Liga Kecil partisipasi olahraga, YMCA, Pramuka, kelompok bernyanyi, kegiatan dengan anak-anak tetangga, kontes akademik (lebah ejaan, pidato, makalah kreatif dan penelitian), dan keterlibatan reguler dalam perjalanan lapangan. Bahkan, salah satu peneliti menyatakan, "penyidik itu tidak siap untuk tingkat komitmen yang ditunjukkan oleh orang tua dalam menda
Dalam hampir setiap komunitas di seluruh negeri, kelompok pendukung homeschool lokal telah terbentuk di samping negara-lebar asosiasi homeschooling. Di banyak daerah kelompok-kelompok dukungan lokal mensponsori kegiatan-kegiatan mingguan dan bulanan untuk para siswa homeschooling, termasuk kelas pendidikan jasmani, speaker khusus, olahraga, berkemah, perjalanan ke museum, industri, peternakan, taman, tempat bersejarah, dan ratusan kegiatan lain. Kontes reguler juga diadakan termasuk lebah ejaan, pameran il
Selain itu, beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengukur 'homeschooler "konsep diri", yang merupakan indikator tujuan utama untuk mendirikan anak harga diri. Sebuah gelar anak harga diri adalah salah satu pengukuran terbaik dari kemampuannya untuk berhasil berinteraksi pada tingkat sosial. Satu studi seperti itu dilakukan oleh John Wesley Taylor, menggunakan Konsep Diri Skala Piers Harris-anak untuk mengevaluasi 224 home-schooling anak-anak. Mereka studi menemukan bahwa 50 persen dari anak-anak mence
Peneliti lain dibandingkan sekolah swasta sembilan-year-olds dengan homeschooling sembilan-year-olds dan tidak menemukan perbedaan signifikan dalam kelompok-kelompok di hampir semua daerah psiko-sosial. Namun, di bidang penyesuaian sosial, perbedaan yang signifikan ditemukan: "sekolah swasta mata pelajaran tampaknya lebih peduli dengan rekan-rekan dari kelompok rumah berpendidikan." 4 Hal ini tentunya merupakan keuntungan bagi home-schooling anak-anak yang dapat menghindari negatif pengaruh teman sebaya.
Pada tahun 2004, Dr Susan McDowell menulis "Tapi Apa Tentang Sosialisasi? Menjawab Pertanyaan Depan Sekolah Abadi: Sebuah Tinjauan Literatur yang "berikut tantangan untuk mendokumentasikan gagasan umum bahwa homeschooler tidak disosialisasikan dibandingkan dengan para siswa di sekolah umum. McDowell, yang PhD dari Vanderbilt University adalah dalam kepemimpinan pendidikan, klaim: "Ini adalah hari non-isu. Semua penelitian menunjukkan anak-anak lakukan dengan baik "5.
Dr Linda Montgomery belajar siswa homeschooling antara usia sepuluh dan dua puluh satu dan menyimpulkan bahwa rumah-schooling anak-anak tidak terisolasi dari kegiatan sosial dengan pemuda lain. Dia juga menyimpulkan bahwa homeschooling dapat memupuk kepemimpinan setidaknya serta sekolah-sekolah konvensional do.6
Thomas Smedley mempersiapkan tesis master untuk Radford Universitas Virginia pada "Sosialisasi Anak Homeschool." Smedley menggunakan Vineland Perilaku Adaptif Timbangan untuk mengevaluasi kematangan sosial dua puluh home schooling anak-anak dan tiga belas anak demografi dipasangkan dengan sekolah umum. Keterampilan komunikasi, sosialisasi, dan keterampilan hidup sehari-hari dievaluasi. Nilai ini digabungkan ke dalam "Perilaku Komposit angkat" yang mencerminkan kematangan umum setiap subyek.
Smedley memiliki informasi ini diolah dengan menggunakan program statistik untuk ilmu sosial dan hasil menunjukkan bahwa rumah-schooling anak-anak lebih baik disosialisasikan dan lebih dewasa daripada anak-anak di sekolah umum. Rumah-schooling anak-anak mencetak gol di persentil 84 sementara sampel cocok anak-anak sekolah umum hanya mencetak di persentil 27.
Smedley lebih lanjut menemukan bahwa:
Dalam sistem sekolah umum, anak-anak disosialisasikan horizontal, dan untuk sementara, menjadi sesuai dengan rekan-rekan dekat mereka. Rumah pendidik berusaha untuk mensosialisasikan anak-anak mereka secara vertikal, terhadap tanggung jawab, pelayanan, dan dewasa, dengan mata pada eternity.7
Dalam studi lain tahun 1992, Dr Larry Shyers perilaku dibandingkan dan nilai tes perkembangan sosial dua kelompok anak-anak usia 78-10. Satu kelompok sedang dididik di rumah sementara kelompok lain bersekolah di sekolah umum dan swasta. Ia menemukan bahwa rumah-schooling anak-anak tidak ketinggalan anak-anak menghadiri sekolah umum atau swasta dalam pembangunan sosial.
Dr Shyers lebih lanjut menemukan bahwa rumah-schooling anak memiliki masalah perilaku lebih sedikit konsisten. Studi ini menunjukkan bahwa rumah-schooling anak-anak berperilaku lebih baik karena mereka cenderung meniru orangtua mereka sementara konvensional-schooling anak-anak sendiri setelah model yang rekan-rekan mereka. Shyers menyatakan, "Hasil tampaknya menunjukkan bahwa pembangunan sosial anak lebih tergantung pada kontak dengan orang dewasa dan kurang pada kontak dengan anak lain seperti yang diduga
Dr Brian Ray terakhir hasil dari empat penelitian lain pada sosialisasi homeschooler dan menemukan:
Rakestraw, Reynolds, Schemmer, dan Wartes masing-masing mempelajari aspek kegiatan sosial dan karakteristik emosional rumah-schooling anak-anak. Mereka menemukan bahwa anak-anak secara aktif terlibat dalam banyak kegiatan di luar rumah dengan teman sebaya, yang berbeda usia anak-anak, dan orang dewasa. Data dari penelitian mereka menunjukkan bahwa homeschooler yang tidak terisolasi secara sosial, mereka juga tidak emosional maladjusted.9
J. Gary Knowles, Universitas Asisten Profesor Michigan Pendidikan, merilis sebuah penelitian yang dilakukan di University of Michigan yang menemukan bahwa mengajar anak di rumah tidak akan membuat mereka menyesuaikan diri sosial. Knowles disurvei 53 orang dewasa yang diajarkan di rumah karena ideologi atau isolasi geografis. Dia menemukan bahwa dua pertiga menikah, yang adalah norma untuk orang dewasa usia mereka. Tidak ada yang menganggur atau kesejahteraan. Ia menemukan lebih dari tiga perempat merasa ba
Seperti disebutkan sebelumnya, manfaat terbesar dari sosialisasi homeschool adalah bahwa anak dapat dilindungi dari sosialisasi negatif dari sekolah publik yang terkait dengan tekanan teman sebaya, seperti sikap memberontak, ketidakdewasaan, amoralitas, obat-obatan, dan perilaku kekerasan.
Diadaptasi dari The Pilihan Tepat: Sekolah Home oleh Christopher J. Klicka.
Catatan kaki
1. "Sosialisasi Praktek Pendidik Sekolah Rumah Kristen di Negara Bagian Virginia," muncul sebuah studi dari sepuluh rumah keluarga sekolah di Virginia, yang dilakukan oleh Dr Kathie Carwile, di Sekolah Peneliti Utama, Vol. 7, No 1, Desember 1991.
2. R. Meighan, "Kesadaran Politik dan Home Pendidikan Berbasis Review Pendidikan 36 (1984) :165-73.
3. Dr John Wesley Taylor, Self-Concept pada Anak Sekolah Rumah (Ann Arbor, Mich: Universitas mikrofilm Internasional), Order No DA8624219. Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari disertasi di Andrews University. Hasil pengujian dari 224 home-schooling siswa dibandingkan dengan hasil pengujian 1.183 anak konvensional schooling.
4. Dr Mona Delahooke, "Rumah Anak-anak terdidik yang Penyesuaian Sosial / Emosional dan Prestasi Akademik: Sebuah Studi Komprehensif," disertasi doktor tidak dipublikasikan, California Sekolah Psikologi Profesional, Los Angeles, 1986, 85.
5 Dr Susan McDowell, "Tapi Apa Tentang Sosialisasi? Menjawab Pertanyaan Depan Sekolah Abadi: Review dari Sastra, "seperti dikutip dalam" Para peneliti Katakanlah Sosialisasi Tak Lagi Masalah "dari The Christian Post
6. Dr Linda Montgomery, "Pengaruh Sekolah Rumah tentang Keterampilan Kepemimpinan Mahasiswa Rumah dididik," Home Peneliti Sekolah (5) 1, 1989.
7. Thomas C. Smedley, MS, "Sosialisasi Anak dididik Depan: Sebuah Pendekatan Komunikasi," diajukan tesis dan disetujui untuk Master of Science dalam Corporate Communication dan Profesional, Radford University, Radford, Virginia, Mei 1992. (Unpublished.)
8. Dr Larry Shyers, "Perbandingan Antara Penyesuaian Sosial Rumah dan Siswa tradisional disekolahkan," disertasi doktor tidak dipublikasikan di University College Florida Pendidikan, 1992. Dr Shyers adalah seorang psikoterapis yang merupakan Ketua Dewan Florida Konseling Kesehatan Kerja, Pernikahan dan Keluarga Terapi, dan Mental Sosial Klinis.
9. Dr Brian Ray, "Review Penelitian Pendidikan Home," The Home Pengajaran, Agustus / September 1989, 49. Lihat Rakestraw, "Sebuah Analisis Sekolah Dasar Home untuk Anak Usia Sekolah di Alabama," disertasi doktor, University of Alabama, Tuscaloosa, AL, 1987; Reynolds, "Bagaimana Depan Keluarga Sekolah Mengoperasikan pada Dasar Sehari-Hari: Tiga Studi Kasus, "disertasi doktor tidak dipublikasikan, Universitas Brigham Young, Provo, UT, 1985; dan
Sabtu, 06 Agustus 2011
Generasi Autis
Generasi Autis
Epidemi autisme ini seolah-olah telah direncanakan dan akan berkembang lebih luas.
Jum'at, 22 Juli 2011, 16:32 WIB
Bonardo Maulana Wahono
http://analisis.vivanews.com/news/read/235123-generasi-autis
VIVAnews - Pada suatu masa yang tak begitu jauh, autisme dianggap sebagai kelainan langka. Dari dua ribu hingga lima ribu anak, hanya satu kasus terendus.
Lantas, segalanya berubah ketika DSM IV (panduan tentang diagnosa kejiwaan global) terbit pada tahun 1994. Sejak itu, angka kejadian meningkat. Satu dari 100 anak dipastikan mengidap autisme.
Penelitian di Korea Selatan baru-baru saja menemukan bahwa rasio terhadap anak yang menderita autisme melonjak menjadi 1 berbanding 38. Apa sesungguhnya penyebab peningkatan ini, dan ke mana ia akan membawa kita?
Reaksi alami terhadap suatu wabah adalah munculnya perasaan panik. Para orang tua cemas ketika tahu bahwa anak-anak mereka telat berbicara atau sulit bergaul, hal-hal yang dianggap sebagai gejala autisme. Para orang tua yang tak dikaruniai anak memutuskan takkan melakukan adopsi. Para orang tua yang memiliki anak autis merasa tertekan dan putus harapan.
Seorang ahli terapi asal Inggris, Andrew Wakefield, pernah mengemukakan teori tentang vaksin, yang dianut dengan sungguh-sungguh oleh banyak orang tua. Akibatnya, banyak dari mereka yang menunda vaksinasi bagi anak-anak mereka: sebuah hal yang justru mengancam kondisi kesehatan buah hatinya karena mereka dapat terserang penyakit lain yang lebih serius.
Gejala yang biasa dialami setelah vaksinasi dianggap mirip dengan awal gejala autisme. Karena itu, vaksinasi dianggap sebagai penyebab yang masuk akal. Meski penelitian itu kini tak lagi dipercaya, tetap saja ketakutan akan autisme begitu membuncah dan menimbulkan reaksi irasional. Di lingkungan tertentu, Wakefield tetap dirujuk sebagai nabi palsu.
Faktor-faktor lain ada di balik pesatnya kemunculan bermacam diagnosa. Sebelum DSM IV disiarkan, autisme digolongkan sebagai kelainan yang tak memiliki batasan memadai. Gejala dimulai sebelum penderita memasuki usia tiga tahun dan mengalami berbagai gangguan akan kemampuan berbahasa dengan baik, ketakmampuan bersosialisasi, dan keasyikan atas perilaku-perilaku lain yang jamak ditemui pada penderita autisme.
Ketika menyiapkan DSM IV, kami memutuskan memasukkan kategori baru yang disebut Gangguan Asperger. Penambahan ini penting karena ada penderita yang tak mengalami kesulitan berkomunikasi namun kepayahan dalam bersosialisasi.
Kami sadar bahwa Gangguan Asperger dapat melambungkan angka kelainan menjadi tiga kali lipat (1 berbanding 500-1000). Namun, penyebab dari rasio 1 berbanding 38 tetap tak terpecahkan.
Penjelasan selanjutnya yang paling mungkin adalah ledakan kasus terjadi karena kasus sebelumnya belum lagi terpecahkan. Bisa saja itu menjadi salah satu faktor, meski kecil.
Kemungkinan lain adalah ada semacam racun lingkungan yang menyebabkan autisme menjadi sebuah epidemi. Teori itu diterima secara luas. Namun. lagi-lagi, ia hanya faktor kecil. Tak ada catatan tentang perubahan lingkungan yang begitu mendadak sejak tahun 1994 yang mendorong peningkatan kasus.
Kiranya, penyebab paling potensial dari epidemi itu adalah popularitasnya. Awalnya ia begitu asing. Kini, autisme digunakan secara longgar untuk menggambarkan keadaan semua orang yang tak memenuhi segala kriteria yang ditetapkan dalam DSM IV.
Hari-hari ini, autisme telah meluas dan menyentuh masalah-masalah kecil lain yang sebelumnya tak terlacak. Autisme tak lagi dipandang sebagai kondisi yang bikin goyah. Telah banyak manusia-manusia kreatif dan eksentrik yang menemukan sisi diri mereka yang autis.
Perubahan dramatis atas definisi itu merupakan akibat dari begitu gencarnya publisitas, kampanye melalui Internet serta maraknya kelompok pendampingan, dan adanya kenyataan bahwa terdapat sekolah mahal tertentu yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang terdiagnosa mengalami autisme. Penelitian di Korea itu, contohnya, dibiayai oleh kelompok pendampingan bagi para penderita autisme.
Studi di Korea itu tak acuh atas kemungkinan munculnya purbasangka yang menghantui semua penelitian serupa. Sering terjadi kasus ketika suatu kelainan terlalu dibesar-besarkan padahal kelainan itu dalam lingkup kecil dan tak memiliki pengaruh klinis.
Mungkin, hanya tiga persen dari jumlah penduduk yang mengalami kasus autisme. Namun, lebih banyak lagi penduduk yang memiliki gejala-gejala yang menggelisahkan yang bisa digolongkan sebagai autisme. Laporan itu tentu saja bukan cerminan langsung jumlah penderita autisme.
Tabiat manusia, penyakit saraf, dan kelainan jiwa mengalami perubahan secara perlahan. Racun lingkungan tak mungkin begitu saja muncul dan meningkatkan presentasi autisme menjadi 100 kali lebih tinggi dari 20 tahun lalu.
Skenario yang paling mungkin adalah DSM IV telah memungkinkan ledakan autisme dengan memperkenalkan gejala yang lebih ringan dari sebelumnya. Itu membuat batasan-batasan tentang autisme menjadi kian kabur. Internet mempercepat penyebaran wabah itu. Insentif keuangan meningkat. Penafsiran hitam-putih atas laporan epidemiologis muncul di mana-mana.
Epidemi autisme ini seolah-olah telah direncanakan dan akan berkembang lebih luas pada bulan Mei, 2013. Pada tanggal yang ditentukan, revisi panduan diagnosa berikutnya (DSM 5) akan terbit. Definisi tentang autisme yang terdapat pada DSM 5 akan lebih jauh melebar, menjangkau orang-orang yang kini dianggap normal atau memiliki kelainan lain.
Nantinya, gejala kelainan masih akan sama. Namanya saja berbeda.
--
Allen Frances MD adalah anggota Satuan Tugas DSM IV
Artikel diterjemahkan dari laman www.project-syndicate.org
• VIVAnews
Epidemi autisme ini seolah-olah telah direncanakan dan akan berkembang lebih luas.
Jum'at, 22 Juli 2011, 16:32 WIB
Bonardo Maulana Wahono
http://analisis.vivanews.com/news/read/235123-generasi-autis
VIVAnews - Pada suatu masa yang tak begitu jauh, autisme dianggap sebagai kelainan langka. Dari dua ribu hingga lima ribu anak, hanya satu kasus terendus.
Lantas, segalanya berubah ketika DSM IV (panduan tentang diagnosa kejiwaan global) terbit pada tahun 1994. Sejak itu, angka kejadian meningkat. Satu dari 100 anak dipastikan mengidap autisme.
Penelitian di Korea Selatan baru-baru saja menemukan bahwa rasio terhadap anak yang menderita autisme melonjak menjadi 1 berbanding 38. Apa sesungguhnya penyebab peningkatan ini, dan ke mana ia akan membawa kita?
Reaksi alami terhadap suatu wabah adalah munculnya perasaan panik. Para orang tua cemas ketika tahu bahwa anak-anak mereka telat berbicara atau sulit bergaul, hal-hal yang dianggap sebagai gejala autisme. Para orang tua yang tak dikaruniai anak memutuskan takkan melakukan adopsi. Para orang tua yang memiliki anak autis merasa tertekan dan putus harapan.
Seorang ahli terapi asal Inggris, Andrew Wakefield, pernah mengemukakan teori tentang vaksin, yang dianut dengan sungguh-sungguh oleh banyak orang tua. Akibatnya, banyak dari mereka yang menunda vaksinasi bagi anak-anak mereka: sebuah hal yang justru mengancam kondisi kesehatan buah hatinya karena mereka dapat terserang penyakit lain yang lebih serius.
Gejala yang biasa dialami setelah vaksinasi dianggap mirip dengan awal gejala autisme. Karena itu, vaksinasi dianggap sebagai penyebab yang masuk akal. Meski penelitian itu kini tak lagi dipercaya, tetap saja ketakutan akan autisme begitu membuncah dan menimbulkan reaksi irasional. Di lingkungan tertentu, Wakefield tetap dirujuk sebagai nabi palsu.
Faktor-faktor lain ada di balik pesatnya kemunculan bermacam diagnosa. Sebelum DSM IV disiarkan, autisme digolongkan sebagai kelainan yang tak memiliki batasan memadai. Gejala dimulai sebelum penderita memasuki usia tiga tahun dan mengalami berbagai gangguan akan kemampuan berbahasa dengan baik, ketakmampuan bersosialisasi, dan keasyikan atas perilaku-perilaku lain yang jamak ditemui pada penderita autisme.
Ketika menyiapkan DSM IV, kami memutuskan memasukkan kategori baru yang disebut Gangguan Asperger. Penambahan ini penting karena ada penderita yang tak mengalami kesulitan berkomunikasi namun kepayahan dalam bersosialisasi.
Kami sadar bahwa Gangguan Asperger dapat melambungkan angka kelainan menjadi tiga kali lipat (1 berbanding 500-1000). Namun, penyebab dari rasio 1 berbanding 38 tetap tak terpecahkan.
Penjelasan selanjutnya yang paling mungkin adalah ledakan kasus terjadi karena kasus sebelumnya belum lagi terpecahkan. Bisa saja itu menjadi salah satu faktor, meski kecil.
Kemungkinan lain adalah ada semacam racun lingkungan yang menyebabkan autisme menjadi sebuah epidemi. Teori itu diterima secara luas. Namun. lagi-lagi, ia hanya faktor kecil. Tak ada catatan tentang perubahan lingkungan yang begitu mendadak sejak tahun 1994 yang mendorong peningkatan kasus.
Kiranya, penyebab paling potensial dari epidemi itu adalah popularitasnya. Awalnya ia begitu asing. Kini, autisme digunakan secara longgar untuk menggambarkan keadaan semua orang yang tak memenuhi segala kriteria yang ditetapkan dalam DSM IV.
Hari-hari ini, autisme telah meluas dan menyentuh masalah-masalah kecil lain yang sebelumnya tak terlacak. Autisme tak lagi dipandang sebagai kondisi yang bikin goyah. Telah banyak manusia-manusia kreatif dan eksentrik yang menemukan sisi diri mereka yang autis.
Perubahan dramatis atas definisi itu merupakan akibat dari begitu gencarnya publisitas, kampanye melalui Internet serta maraknya kelompok pendampingan, dan adanya kenyataan bahwa terdapat sekolah mahal tertentu yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang terdiagnosa mengalami autisme. Penelitian di Korea itu, contohnya, dibiayai oleh kelompok pendampingan bagi para penderita autisme.
Studi di Korea itu tak acuh atas kemungkinan munculnya purbasangka yang menghantui semua penelitian serupa. Sering terjadi kasus ketika suatu kelainan terlalu dibesar-besarkan padahal kelainan itu dalam lingkup kecil dan tak memiliki pengaruh klinis.
Mungkin, hanya tiga persen dari jumlah penduduk yang mengalami kasus autisme. Namun, lebih banyak lagi penduduk yang memiliki gejala-gejala yang menggelisahkan yang bisa digolongkan sebagai autisme. Laporan itu tentu saja bukan cerminan langsung jumlah penderita autisme.
Tabiat manusia, penyakit saraf, dan kelainan jiwa mengalami perubahan secara perlahan. Racun lingkungan tak mungkin begitu saja muncul dan meningkatkan presentasi autisme menjadi 100 kali lebih tinggi dari 20 tahun lalu.
Skenario yang paling mungkin adalah DSM IV telah memungkinkan ledakan autisme dengan memperkenalkan gejala yang lebih ringan dari sebelumnya. Itu membuat batasan-batasan tentang autisme menjadi kian kabur. Internet mempercepat penyebaran wabah itu. Insentif keuangan meningkat. Penafsiran hitam-putih atas laporan epidemiologis muncul di mana-mana.
Epidemi autisme ini seolah-olah telah direncanakan dan akan berkembang lebih luas pada bulan Mei, 2013. Pada tanggal yang ditentukan, revisi panduan diagnosa berikutnya (DSM 5) akan terbit. Definisi tentang autisme yang terdapat pada DSM 5 akan lebih jauh melebar, menjangkau orang-orang yang kini dianggap normal atau memiliki kelainan lain.
Nantinya, gejala kelainan masih akan sama. Namanya saja berbeda.
--
Allen Frances MD adalah anggota Satuan Tugas DSM IV
Artikel diterjemahkan dari laman www.project-syndicate.org
• VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)